PENALARAN AKAN KEMUSTAHILAN MENGABAIKAN LATAR
BELAKANG SUKU DAN RAS DEMI MENGATASI KEPELBAGAIAN GEREJA
Oleh: Jolly Erasmus Mboro
LATAR BELAKANG
Kadangkala kepelbagaian dan
perbedaan dianggap sebagai sebuah pembatas dan penghalang. Kebanyakan
orang lebih senang dan suka untuk hidup bersama dengan seseorang yang
serupa dan sepaham dengan pribadinya. Sikap-sikap seperti ini merupakan sikap
yang eksklusif dan tidak terbuka dengan adanya perbedaan yang ada, bahkan akan
cenderung kepada sikap yang diskriminatif dan arogan. Diskriminasi dan
kekerasan karena perbedaan suku dan ras sudah menjadi sebuah cerita tersendiri
dalam suatu sejarah, misalnya diskriminasi kaum kulit hitam di Amerika, gesekan
tipis yang pernah terjadi antara jemaat-jemaat di GMIT sehingga berujung pada
perpecahan gereja (Emaus liliba dan Hosana Liliba), realitas jemaat suku di
wilayah GMIT, bahkan lebih jelas terdapat begitu banyak gereja-gereja di
Indonesia yang dilatarbelakangi oleh suku dan ras (GMIT, GKS, HKBP, GMIM, dan
lain sebagainya) yang terkadang saling tuding-menuding. Hal ini sebenarnya
adalah sikap yang salah dalam pandangan kekristenan dan Alkitab. Sebab Alkitab
menjelaskan dan memberikan catatan tentang bagaimana Allah menghargai dan
menciptakan perbedaan yang ada untuk mempersatukan setiap manusia. Tetapi jika
tidak dimengerti dengan dengan lebih baik tentang keragaman suku bahasa dan
budaya, akan memicu kondisi bergereja yang tidak tumbuh sesuai kehendak Tuhan, melainkan
berujung perpecahan. Oleh sebab itu perlu adanya pengertian yang mendalam
tentang kemustahilan
mengabaikan latar belakang suku dan ras demi mengatasi kepelbagaian gereja.
POKOK PERMASALAHAN
pokok permasalahan dalam tulisan ini
adalah apakah yang dimaksudkan dengan kemustahilan mengabaikan latar belakang suku dan ras demi
mengatasi kepelbagaian gereja?
TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini membahas
tentang pokok masalah yang telah disampaikan yaitu membahas kemustahilan mengabaikan latar belakang suku dan ras demi
mengatasi kepelbagaian gereja.
KEMUSTAHILAN MENGABAIKAN LATAR
BELAKANG SUKU DAN RAS DEMI MENGATASI KEPELBAGAIAN GEREJA
Perbedaan suku dan ras dalam
kehidupan bergereja tidak dapat terelakan serta tidak dapat tersembunyikan oleh
mata jasmani. Gereja bukan sekedar bangunan fisik yang menghimpunkan
berbagai orang percaya, tetapi orang percaya itu sendiri adalah gereja
Tuhan. Harus disadari bahwa Tuhan telah menciptakan perbedaan kepada setiap
manusia dengan berbagai macam tujuan yang sempurna. Salah satu kejadian yang
dapat dijadikan contoh adalah kisah di Menara Babel. Khususnya perbedaan di
dalam bahasa manusia untuk memisahkan mereka, yang menjelaskan bagaimana ada
perpecahan dan perbedaan bahasa yang dibuat Allah dengan tujuan yang baik untuk
manusia pada saat itu. Perbedaan bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi
perbedaan itu menunjukkan tentang bagaimana Allah mengasihi manusia dengan
berbagai macam keadaan mereka. Gereja seperti yang dibahas sebelumnya merupakan
suatu tempat di mana setiap orang yang berbeda-beda menyembah Allah yang sama.
Tuhan mengakui adanya perbedaan suku
dan bangsa yang begitu banyak di bumi ini (Maz 117:1-2). Tuhan juga
mengenal dengan baik dan benar setiap perbedaan yang begitu luas dari seluruh
daerah, wilayah dan benua di bumi ini. Kepelbagaian gereja yang ada tentunya
berasal dari suku bangsa yang berbeda-beda, namun menunjukkan kemuliaan yang
luar biasa bagi Allah ketika bersama saling menerima satu dengan yang lain untuk
memuji dan menyembah Tuhan.
Kepelbagaian suku dan ras dalam kehidupan
gereja adalah pembentukan persekutuan orang percaya (Kis. 2:8).” Oleh karena
itu, kepelbagaian merupakan suatu gambaran nyata di mana Tuhan membentuk sebuah
gereja berasal dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, daerah dan wilayah yang
berbeda-beda. Dengan demikian geraja tidak diperuntukan bagi satu suku bangsa
saja, tetapi merupakan kemajemukan berbagai bangsa di dunia ini, dan
keselamatan yang Allah berikan bukan hanya untuk satu bangsa saja, tetapi
berisi berbagai macam suku bangsa lain yang juga mendapat bagian dalam
anugerah itu. Dengan kata lain, gereja merupakan berbagai macam suku bangsa
yang berbeda-beda yang bersekutu untuk menyembah Tuhan.
Dalam
memahami realitas tersebut maka gereja perlu sadar akan eksistensinya yakni
perbedaan tapi juga sadar akan esensinya sebagai yang kudus dan AM. Oleh karena itu, sekalipun
eksistensi gereja adalah perbedaan, namun keberadaan gereja bukanlah sebagai
pembeda atau pemecah dari keberagaman yang ada, tetapi gereja merupakan
pemersatu dari perbedaan-perbedaan yang dimiliki dan menjadi ciri khas
setiap suku bangsa yang ada di dalamnya. Gereja bukan menyatukan di dalam satu
ruangan gereja yang sangat luas, tetapi melalui pelayanan gereja yang
mendasarkan kebenaran Alkitab, maka hal itu juga dapat menjadi faktor penting
lain dalam mendorong pemersatuan bagi keberbedaan yang ada.
Rasul Paulus dalam perenungannya, menggunakan
metafora tubuh Kristus untuk
menggambarkan dinamika hubungan antara kesatuan dan keragaman. Ia
mengetengahkan tiga aspek dari sifat kharismata: sumbernya hanya satu, tujuan
pemberian kharismata, dan perlunya keberagaman kharismata. Paulus memulai pendapatnya
tentang perlunya keragaman dalam kesatuan dengan satu pernyataan yang
mengetengahkan baik aspek kesatuan dan juga aspek keragaman dari tubuh manusia.
Tubuh meskipun mempunyai banyak anggota dan berbagai macam anggota tubuh,
meskipun banyak jumlahnya merupakan satu tubuh (1 Korintus 12:12;14,20).
Biasanya keragaman dan perbedaan
budaya serta ciri khas masing-masing menjadi pemicu utama di dalam perpecahan
persekutuan gereja. Tetapi sesungguhnya hal ini tidak boleh terjadi, oleh sebab
gereja merupakan perhimpunan kerohanian dari orang-orang kudus milik Allah
untuk bertumbuh secara dewasa. Pendewasaan tubuh rohani memerlukan aneka sarana
yang memadai. Sarana yang diperlukan untuk pendewasaan tubuh rohani tidak sama
seperti yang diperlukan dalam tubuh jasmani karena tujuan pendewasaan tubuh
rohani adalah pencapaian kesempurnaan hidup di hadirat Allah melalui sikap
saling memahami, saling menerima dan saling mengisi antar sesama.
Gereja
adalah bukan gereja bila gereja berasal dari satu suku dan ras saja. Gereja
adalah umat dari berbagai suku dan ras dengan tugas serta talenta masing-masing
untuk saling melengkapi. Gereja adalah
panggilan bagi seluruh suku dan ras untuk mewartakan Kristus serta
bersukutu sebagaimana tubuh, dan Kristus adalah kepala gereja. Inilah hakikat
gereja dan inti dari panggilan gereja.
KESIMPULAN
Gereja
adalah orang-orang yang berada di dalam Kristus yang telah mengalami
pembaharuan hidup dan dipanggil untuk menjadi sama seperti Dia. Tetapi di dalam
gereja ada berbagai macam kepelbagaian suku dan ras yang kadang kala
menghasilkan pertengkaran. Sebab sebagaimana eksistensi gereja maka gereja
sendiri adalah persekutuan yang terbentuk oleh perbedaan suku dan ras. Karena
itu gereja perlu sadar akan kemustahilan mengabaikan latar belakang suku dan ras demi mengatasi
kepelbagaian gereja. Sesungguhnya, kepelbagaian adalah
anugerah yang Tuhan limpahkan demi menciptakan pelayan gereja yang utuh sesuai
dengan ciri khas serta kelebihan masing-masing. Berbagai ragam suku, bahasa,
budaya, ras dan bahasa adalah kekayaan di dalam melayani Tuhan. Oleh karena
itu, meskipun banyak perbedaan tetapi persatuan sebagai orang yang percaya atau
sebagai tubuh Kristus adalah tugas dan panggilan bersama.

No comments:
Post a Comment