Sunday, 7 September 2014

MENGATASI KEPELBAGAIAN GEREJA



PENALARAN AKAN KEMUSTAHILAN MENGABAIKAN LATAR BELAKANG SUKU DAN RAS DEMI MENGATASI KEPELBAGAIAN GEREJA
Oleh: Jolly Erasmus Mboro



LATAR BELAKANG
Kadangkala kepelbagaian dan perbedaan dianggap sebagai sebuah pembatas dan  penghalang. Kebanyakan orang lebih senang dan suka untuk  hidup bersama dengan seseorang yang serupa dan sepaham dengan pribadinya. Sikap-sikap seperti ini merupakan sikap yang eksklusif dan tidak terbuka dengan adanya perbedaan yang ada, bahkan akan cenderung kepada sikap yang diskriminatif dan arogan. Diskriminasi dan kekerasan karena perbedaan suku dan ras sudah menjadi sebuah cerita tersendiri dalam suatu sejarah, misalnya diskriminasi kaum kulit hitam di Amerika, gesekan tipis yang pernah terjadi antara jemaat-jemaat di GMIT sehingga berujung pada perpecahan gereja (Emaus liliba dan Hosana Liliba), realitas jemaat suku di wilayah GMIT, bahkan lebih jelas terdapat begitu banyak gereja-gereja di Indonesia yang dilatarbelakangi oleh suku dan ras (GMIT, GKS, HKBP, GMIM, dan lain sebagainya) yang terkadang saling tuding-menuding. Hal ini sebenarnya adalah sikap yang salah dalam pandangan kekristenan dan Alkitab. Sebab Alkitab menjelaskan dan memberikan catatan tentang bagaimana Allah menghargai dan menciptakan perbedaan yang ada untuk mempersatukan setiap manusia. Tetapi jika tidak dimengerti dengan dengan lebih baik tentang keragaman suku bahasa dan budaya, akan memicu kondisi bergereja yang tidak tumbuh sesuai kehendak Tuhan, melainkan berujung perpecahan. Oleh sebab itu perlu adanya pengertian yang mendalam tentang kemustahilan mengabaikan latar belakang suku dan ras demi mengatasi kepelbagaian gereja.
POKOK PERMASALAHAN
pokok permasalahan dalam tulisan ini adalah apakah yang dimaksudkan dengan kemustahilan  mengabaikan latar belakang suku dan ras demi mengatasi kepelbagaian gereja?
TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini membahas tentang pokok masalah yang telah disampaikan yaitu membahas kemustahilan  mengabaikan latar belakang suku dan ras demi mengatasi kepelbagaian gereja.
KEMUSTAHILAN MENGABAIKAN LATAR BELAKANG SUKU DAN RAS DEMI MENGATASI KEPELBAGAIAN GEREJA

Perbedaan suku dan ras dalam kehidupan bergereja tidak dapat terelakan serta tidak dapat tersembunyikan oleh mata jasmani. Gereja  bukan sekedar bangunan fisik yang menghimpunkan berbagai orang percaya, tetapi orang  percaya itu sendiri adalah gereja Tuhan. Harus disadari bahwa Tuhan telah menciptakan perbedaan kepada setiap manusia dengan berbagai macam tujuan yang sempurna. Salah satu kejadian yang dapat dijadikan contoh adalah kisah di Menara Babel. Khususnya perbedaan di dalam bahasa manusia untuk memisahkan mereka, yang menjelaskan bagaimana ada perpecahan dan perbedaan bahasa yang dibuat Allah dengan tujuan yang baik untuk manusia pada saat itu. Perbedaan bukanlah sesuatu yang  buruk, tetapi perbedaan itu menunjukkan tentang bagaimana Allah mengasihi manusia dengan berbagai macam keadaan mereka. Gereja seperti yang dibahas sebelumnya merupakan suatu tempat di mana setiap orang yang berbeda-beda menyembah Allah yang sama.
Tuhan mengakui adanya perbedaan suku dan bangsa yang  begitu banyak di bumi ini (Maz 117:1-2). Tuhan juga mengenal dengan baik dan benar setiap perbedaan yang begitu luas dari seluruh daerah, wilayah dan benua di bumi ini. Kepelbagaian gereja yang ada tentunya berasal dari suku bangsa yang berbeda-beda, namun menunjukkan kemuliaan yang luar biasa bagi Allah ketika bersama saling menerima satu dengan yang lain untuk memuji dan menyembah Tuhan.
Kepelbagaian suku dan ras dalam kehidupan gereja adalah pembentukan persekutuan orang percaya (Kis. 2:8).” Oleh karena itu, kepelbagaian merupakan suatu gambaran nyata di mana Tuhan membentuk sebuah gereja berasal dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, daerah dan wilayah yang berbeda-beda. Dengan demikian geraja tidak diperuntukan bagi satu suku bangsa saja, tetapi merupakan kemajemukan berbagai bangsa di dunia ini, dan keselamatan yang Allah berikan bukan hanya untuk satu bangsa saja, tetapi berisi  berbagai macam suku bangsa lain yang juga mendapat bagian dalam anugerah itu. Dengan kata lain, gereja merupakan berbagai macam suku bangsa yang  berbeda-beda yang bersekutu untuk menyembah Tuhan.
            Dalam memahami realitas tersebut maka gereja perlu sadar akan eksistensinya yakni perbedaan tapi juga sadar akan esensinya sebagai yang kudus dan AM. Oleh karena itu, sekalipun eksistensi gereja adalah perbedaan, namun keberadaan gereja bukanlah sebagai  pembeda atau pemecah dari keberagaman yang ada, tetapi gereja merupakan pemersatu dari  perbedaan-perbedaan yang dimiliki dan menjadi ciri khas setiap suku bangsa yang ada di dalamnya. Gereja bukan menyatukan di dalam satu ruangan gereja yang sangat luas, tetapi melalui pelayanan gereja yang mendasarkan kebenaran Alkitab, maka hal itu juga dapat menjadi faktor penting lain dalam mendorong pemersatuan bagi keberbedaan yang ada.
Rasul Paulus dalam perenungannya, menggunakan metafora tubuh Kristus untuk menggambarkan dinamika hubungan antara kesatuan dan keragaman. Ia mengetengahkan tiga aspek dari sifat kharismata: sumbernya hanya satu, tujuan pemberian kharismata, dan perlunya keberagaman kharismata. Paulus memulai pendapatnya tentang perlunya keragaman dalam kesatuan dengan satu  pernyataan yang mengetengahkan baik aspek kesatuan dan juga aspek keragaman dari tubuh manusia. Tubuh meskipun mempunyai banyak anggota dan berbagai macam anggota tubuh, meskipun banyak jumlahnya merupakan satu tubuh (1 Korintus 12:12;14,20).

Biasanya keragaman dan perbedaan budaya serta ciri khas masing-masing menjadi pemicu utama di dalam perpecahan persekutuan gereja. Tetapi sesungguhnya hal ini tidak boleh terjadi, oleh sebab gereja merupakan perhimpunan kerohanian dari orang-orang kudus milik Allah untuk bertumbuh secara dewasa. Pendewasaan tubuh rohani memerlukan aneka sarana yang memadai. Sarana yang diperlukan untuk pendewasaan tubuh rohani tidak sama seperti yang diperlukan dalam tubuh jasmani karena tujuan pendewasaan tubuh rohani adalah pencapaian kesempurnaan hidup di hadirat Allah melalui sikap saling memahami, saling menerima dan saling mengisi antar sesama.
            Gereja adalah bukan gereja bila gereja berasal dari satu suku dan ras saja. Gereja adalah umat dari berbagai suku dan ras dengan tugas serta talenta masing-masing untuk saling melengkapi. Gereja adalah  panggilan bagi seluruh suku dan ras untuk mewartakan Kristus serta bersukutu sebagaimana tubuh, dan Kristus adalah kepala gereja. Inilah hakikat gereja dan inti dari panggilan gereja.


KESIMPULAN
Gereja adalah orang-orang yang berada di dalam Kristus yang telah mengalami pembaharuan hidup dan dipanggil untuk menjadi sama seperti Dia. Tetapi di dalam gereja ada berbagai macam kepelbagaian suku dan ras yang kadang kala menghasilkan pertengkaran. Sebab sebagaimana eksistensi gereja maka gereja sendiri adalah persekutuan yang terbentuk oleh perbedaan suku dan ras. Karena itu gereja perlu sadar akan kemustahilan mengabaikan latar belakang suku dan ras demi mengatasi kepelbagaian gereja. Sesungguhnya, kepelbagaian adalah anugerah yang Tuhan limpahkan demi menciptakan pelayan gereja yang utuh sesuai dengan ciri khas serta kelebihan masing-masing. Berbagai ragam suku, bahasa, budaya, ras dan bahasa adalah kekayaan di dalam melayani Tuhan. Oleh karena itu, meskipun banyak perbedaan tetapi persatuan sebagai orang yang percaya atau sebagai tubuh Kristus adalah tugas dan panggilan bersama.

No comments:

Post a Comment