MARNY
ASMIRANY PAH
KRISTOLOGI MENURUT ORANG SUMBA DI JEMAAT DIASPORA
DANAU INA- OESAPA
I.
Memahami
Konteks
Pulau Sumba sejak
dahulu kala dikenal dengan nama tanah humba
artinya tanah sumba. Menurut tradisi Sumba, nama ini berasal dari nama
istri orang pertama suku sumba yang datang untuk mendiami sumba, yaitu humba. Nama suaminya adalah Umbu Walu
Mandoku. Ia mengabadikan nama istrinya, yakni “Humba” sebagai pulau sumba yang merupakan tanda kegembiraan dan
cinta kasihnya kepada istrinya setelah mereka mengarungi lautan dalam kurun
waktu yang cukup lama.[1]
Masyarakat Sumba merupakan kaum imigran yang datang dalam beberapa gelombang,
serta memasuki Sumba melalui Tanjung Sasar dan muara Pandawai, kemudian
menyebar ke seluruh pulau Sumba.[2]
Kabupaten Sumba terbagi dalam empat wilayah yaitu Sumba Timur, Sumba Tengah,
Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Dalam rangka teologi kontekstual, maka yang
menjadi fokus ialah Sumba Barat Daya.
a.
Deskripsi
Jemaat Diaspora
Danau Ina merupakan pemekaran dari jemaat Nazareth Oesapa Tengah. Jemaat ini
berdiri pada bulan Januari 2009 di Klasis Kupang Tengah. Dengan jumlah kepala
keluarga 218. Dan jumlah jiwa 1.487 yang tersebar di delapan rayon pelayanan,
yang dilayani oleh satu orang pendeta, 40 penatua, dan satu orang vikaris.
Sejarah gereja ini dimulai dari adanya dua faktor yang mempengaruhi
perkembangan jemaat yaitu yang pertama adanya jarak yang sangat jauh untuk
beribadah ke gereja Nazareth Oesapa Tengah dan yang kedua, adanya
denominasi-denominasi lain di sekitar lingkungan jemaat (GSJA dan Betel). Mata
pencaharian jemaat ini antara lain petani, pegawai, buruh, dan pedagang kaki
lima, seperti pada skema berikut ini:[3]

Jemaat ini
terdiri dari berbagai suku yakni suku timor, sumba, alor, rote, sabu, belu dan
lain-lain. Oleh karena itu jemaat ini dinamakan Diaspora yang artinya umat
Allah yang terdiri dari banyak suku, bahasa, dan mayoritas bukan penduduk asli.
Pada umumnya jemaat ini didominasi oleh para mahasiswa baik dari dalam maupun
yang datang dari luar kota Kupang. Berdasarkan wawancara kelompok, jumlah
jemaat suku Sumba Barat Daya di gereja Diaspora Danau Ina merupakan yang terbanyak
setelah suku timor. Menurut Pdt. Yuliana Banunu, jemaat Diaspora merupakan
mayoritas masyarakat pendatang yaitu para mahasiswa yang pada umumnya tinggal
di kos-kosan dan rumah kontrakan. Sebagian Jemaat Diaspora Danau Ina juga
terdiri dari beberapa keluarga yang terbilang sangat miskin dalam hal ekonomi,
mereka adalah orang pendatang yang tidak memiliki tanah sebagai tempat tinggal
sehingga harus tinggal di gubuk-gubuk.[4]
Sebagian para
mahasiswa sering memiliki masalah dalam hal keuangan (seperti sulit membayar
registrasi, uang buku, uang kos atau kontrakan dan kebutuhan hidup lainnya),
karena pengiriman uang yang terlambat dari orang tua atau sanak saudara di
Sumba. Beberapa di antaranya yaitu seorang mahasiswi bernama Margaretha Ora,
mengatakan bahwa ia pernah mengambil cuti kuliah karena tidak membayar uang
registrasi. Hal itu disebabkan terlambatnya pengiriman uang dari orang tua di
Sumba.[5]
Anggraeni Bulu juga mengatakan bahwa ia sampai saat ini sulit untuk kembali
berkuliah seperti biasanya, karena telah dua semester tidak membayar registrasi
akibat keterlambatan pengiriman uang dari orang tua. Hal yang sama juga terjadi
pada dua orang temannya, Adi dan Doger (nama samaran/bukan nama sebenarnya)
yang mengalami putus kuliah karena terlanjur mempergunakan uang kuliah atau
registrasi untuk memenuhi kebutuhan hidup di kos yang mendesak.[6]
Ady Wali mengatakan bahwa dalam keadaan kekurangan, ia dan beberapa mahasiswa
berusaha bekerja untuk mendapatkan uang, seperti dalam tabel berikut ini: [7]
Nama Mahasiswa
|
Jenis Usaha yang dilakukan
|
1. Ady
Wali dan Nadus Djawa
2. Deny
Peku Djawa dan Merlyn
3. Reny
|
Menjual
bensin eceran Rp.5000/1 ltr
Menanam
dan menjual bunga Rp.10.000/1 pot
Membuat
dan menjual kue Rp.500/potong
|
Hasil dari usaha tersebut biasanya cukup dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di kos atau rumah kontrakan. Bahkan Deny Peku Djawa mengatakan bahwa, karena keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya terancam putus kuliah.[8] Dari hasil wawancara, mereka menyatakan bahwa Allah turut bekerja dan akan mencukupi segala bentuk kekurangan yang mereka alami. Bahkan seorang mahasiswa bernama Reny, mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah penolong dan penjaga yang setia dalam kehidupan umatnya. Selain kesulitan dalam hal keuangan, para mahasiswa juga sangat rentan terhadap perkelahian atau perselisihan di antara suku-suku mereka. Berhubungan dengan itu, telah dilakukan upacara perdamaian yang dilakukan gereja, bekerjasama dengan para tokoh adat untuk mengatasi konflik antara Sumba dan Alor.[9] Dalam memahami Yesus, jemaat dari suku Sumba Barat Daya memiliki suatu pandangan tentang Yesus Kristus yang dikaitkan dengan budaya mereka. Menurut bapak Yosep Bili Renda, ia menyadari bahwa budaya orang Sumba sangat berbeda dengan budaya dimana ia tinggal sekarang (Kupang ). Meskipun ia telah menetap di jemaat sejak tahun 1978, hingga saat ini ia masih memiliki budaya dan pandangan orang Sumba Barat Daya tentang Yesus Kristus.).[10]
Tatanan
Hidup Masyarakat Sumba
Pada umumnya
Suku Sumba terbagi dalam tiga golongan yaitu bangsawan atau raja (Maramba), orang merdeka (Kabihu), dan hamba (Ata). Golongan bangsawan sangat dihormati dan disegani hingga
sekarang ini, meskipun mereka tidak lagi memiliki kedudukan tinggi. Golongan
orang merdeka adalah golongan orang terbanyak dalam masyarakat dan merupakan
rekan kerja para bangsawan dalam hidup bermasyarakat, sedangkan golongan hamba
merupakan golongan yang sejak semula memang telah ditentukan menjadi seorang
hamba.[11]
Seperti berikut ini:

Kepercayaan
Asli Orang Sumba
Menurut bapak
Marthen Malo Tanggu, sejak dahulu kala kepercayaan asli orang Sumba disebut Marapu. Kepercayaan Marapu adalah kepercayaan terhadap arwah nenek moyang atau leluhur
(perantara kepada yang ilahi), makhluk-makhluk halus (roh-roh) dan kekuatan-kekuatan
sakti. Mereka dapat memberi berkat, perlindungan, pertolongan yang baik jika
disembah. Jika tidak, mereka akan memberi malapetaka atas manusia.[12]
Marapu dianggap sebagai leluhur yang memiliki tempat lebih rendah dari Ilah
tertinggi. Tugas dari leluhur adalah sebagai perantara antara manusia dan Ilah
tertinggi.
Marapu juga
dianggap sebagai teman dan sahabat oleh manusia. Menurut Umbu Pura Woha, Marapu
hadir dalam benda-benda yang sudah dikeramatkan (batu, pohon, dan benda-benda
keramat lainnya).[13]
Keadaan
Geografis Sumba Barat Daya
Secara khusus,
Sumba Barat Daya merupakan pemekaran dari Sumba Barat pada tahun 2000, dengan
luas 148,04 km2 atau 36,53% dari total luas kabupaten umba Barat. Bapak
Anderias Ngongo mengatakan bahwa, kabupaten Sumba Barat Daya memiliki keadaan
lingkungan alam yang sangat subur dan keadaan tanahnya terdiri dari
lembah-lembah, pegunungan, dataran dan hamparan padang yang luas. Selain itu,
daerah ini juga memiliki potensi dalam bidang peternakan (kuda, sapi, dan babi).
Juga terdapat binatang kera yang menurut orang sumba sebagai penjaga
hutan. Menurut bapak Jack Bulu, hutan
yang terletak di wilayah Wekelosawa Sumba Barat Daya, memiliki banyak binatang
kera yang sering berkeliaran di dalam hutan. Kera-kera tersebut sering berada
di atas pohon untuk bersembunyi dan mencari makanan (buah-buahan).di antara
mereka terdapat beberapa ekor kera besar yang sering memantau kera-kera kecil
dengan cara menaiki dahan pohon untuk memberikan makanan dan berusaha melihat
musuh atau manusia. Kera besar sering memberikan isyarat dengan cara berteriak
di atas pohon, jika terdapat binatang
lain (kuda, sapi, babi, dll) atau orang asing yang akan memburu mereka. Isyarat
tersebut bertujuan agar kera-kera lainnya
dapat melarikan diri dan bersembunyi dari untuk terlindung dari ancaman.[14]
Sumba Barat
menghasilkan bahan pertanian yang sangat pesat (salak, rambutan, ubi, pisang,
cokelat, padi, jagung, dll). Hal ini karena hampir seluruh daerah Sumba Barat
Daya memiliki sumber mata air. Karena itulah sebagian besar wilayahnya diberi
nama yang berawalan we’e yang berarti
air, seperti Wekelosawa, Weeluri, Weedindi, Weekapoda, Weemangura dll. Sumber
mata air yang cukup banyak, membuat kawasan Sumba Barat Daya memiliki keadaan alam
yang subur. Maka sebagian besar masyarakat berusaha untuk memanfaatkan tanah
dengan bercocok tanam. Mata pencahariannya bervariasi ada yang bekerja sebagai
petani, pedagang dan pengawai negeri.[15]
Pandangan
Tentang Dunia dan Ilahi
Orang Sumba
memiliki pandangan tentang dunia bahwa alam semesta ini terdiri dari tiga
lapisan, yaitu lapisan atas (langit) yang merupakan kediaman ilah tertinggi,
lapisan tengah (bumi), dan lapisan bawah (bawah tanah).

Mereka percaya
kepada suatu kuasa tertinggi yang Ilahi atau Ilah tertinggi yang menciptakan
dan mengusai alam semesta ini. Ilah tertinggi ini beristirahat sementara
penyelengaraan alam semesta diserahkan kepada Marapu dan kuasa lainnya.
Walaupun demikian bagi orang Sumba menyebutkan nama sang Ilahi sangatlah tabu
dan dipandang keramat, sehingga mereka menyebutnya dengan ungkapan-ungkapan
berdasarkan karya dan pekerjaannya. Pada umumnya ungkapan “Ndapa Teki Ngara Ndapa Suna Tamu” merupakan sebutan untuk ilah
tertinggi yang artinya “tidak bisa di sebutkan namanya secara langsung”. Adapun
ungkapan orang sumba tentang Ilahi yang tertinggi, yaitu:[16]
a.
Atananah tanah
Alangit Tana Langit (yang empunya tanah dan langit), yaitu
Allah yang telah menciptakan langit dan bumi bagi manusia.
b.
Kalada
Mata, Bela Ruka Tilu (yang Maha Mendengar
dan Maha Melihat). Orang Sumba Barat Daya percaya bahwa sang ilahi selalu
mendengar dan melihat pergumulan hidup mereka.
c.
Maromba
Ala yaitu Allah dianggap sebagai raja di
atas segala raja.
d. Akanga Wola Lima,
Akangan Wola Wai (yang menciptakan jari kaki dan
tangan)
Budaya
Masyarakat Sumba Barat Daya
Masyarakat Sumba
Barat Daya memiliki kebudayaan yang khas. Hal itu nampak dari pakaian
tradisional, seni tari-tarian, syair lagu dan alat musik. Mereka juga mempunyai
upacara-upacara adat yang dilakukan pada peristiwa-peristiwa tertentu, seperti
upacara kematian, pernikahan dll. Dalam tradisi orang Sumba, terdapat beberapa
ritus atau upacara yakni Pasola
(permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas kuda yang sedang
berlari kencang antara dua kelompok yang berlawanan). Upacara Pasola
tersebut bertujuan untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang melimpah. [17], upacara pernikahan dan kematian. Baik upacara
pernikahan maupun kematian diawali dengan membunuh hewan kerbau atau babi yang
ditikam di depan rumah keluarga yang bersangkutan. Khususnya untuk upacara
pernikahan diharuskan untuk membunuh kerbau, karena hewan tersebut dianggap
sebagai suatu penghormatan besar bagi keluarga pengantin. Hewan tersebut
ditikam, darahnya dimasak sebagai sup kuah dan dimakan bersama. Darah hewan
(kerbau atau babi) yang mengalir itu digambarkan sebagai tanda atau lambang
persatuan yang terikat dalam sebuah keluarga.
Upacara perdamaian
yang disebut Dame atau Ole. Upacara ini bertujuan untuk
mendamaikan kedua belah pihak yang saling bermusuhan, dengan cara membunuh dan
menikam seekor babi di depan halaman rumah yang bersangkutan sebagai lambang
persatuan. Menurut Marthen Malo Tanggu, dalam pelakasanaan upacara pernikahan
dan kematian di Sumba Barat Daya cukup berbeda ketika dibandingkan dengan
situasi di Oesapa. Proses upacara tersebut harus diawali dengan penikaman babi
atau kerbau di depan halaman rumah, namun karena keadaan halaman yang tidak
mendukung (sempit) sehingga terkadang hewan tersebut ditikam dibelakang rumah.
Selain itu sejak dahulu dalam adat Sumba untuk upacara pernikahan diharuskan
untuk membayar seratus ekor hewan (tergantung kesepakatan kedua belah pihak
keluarga). Namun ketika berada di Kupang, karena terbatasnya jumlah hewan
(kerbau, babi, dan kuda) maka hal itu masih dimaklumi.[18]
Masuknya Kekristenan
Kekristenan
masuk pertama kali di pulau Sumba oleh perkembangan pekabaran Injil (Zending)
dari bangsa Belanda. Pada tanggal 9 Juni 1881, De Nederlandse Gereformeerde
Zendingsvereniging mengutus Zendeling J. J. van Alphen sebagai utusannya yang
pertama untuk memberitakan injil Tuhan di Sumba.[19]
Ia menjalin hubungan dengan orang Sumba untuk mempelajari bahasa dan adat
istiadat mereka. Meskipun banyak tantangan yang terjadi, misi pekabaran injil tersebut mencapai
perkembangan hingga mempengaruhi kehidupan orang Sumba. Masuknya injil ke pulau Sumba mulai
menghadirkan banyak pandangan orang Sumba tentang Yesus. Hal ini membuat orang
Sumba yang menjadi Kristen memiliki beberapa ungkapan tentang Yesus, yaitu:
1.
Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate (Kera yang menanggung penderitaan,
babi yang menjadi korban). Istilah ini berdasarkan atas pemahaman orang Sumba
bahwa kera adalah penjaga hutan. Kera itu berukuran besar. Kata Keddu artinya kera, tanggu artinya menanggung, Mate
artinya mati atau penderitaan. Jika dihubungkan, maka Keddu Tanggu Seda artinya
kera yang menanggung derita untuk menjaga dan melindungi kera-kera kecil di
hutan. Orang Sumba berpandangan bahwa kera ini rela mati atau berkorban untuk
melindungi binatang sejenisnya. Kera besar tersebut sering berada di atas pohon
untuk memetik buah bagi kera lainnya dan memantau musuh yang ingin menyerang
mereka, dengan memberi isyarat berupa teriakan untuk bersembunyi jika musuh
mulai terlihat. Sedangkan babi adalah hewan yang dikorbankan. Dalam masyarakat
Sumba, hewan tersebut ditikam, darahnya dimasak sebagai sup kuah dan dimakan
bersama sebagai suatu bentuk ritus pendamaian atau ikatan antara kedua belah
pihak.
2.
Yesus sebagai Mori Wee Maringngi Wee Malala (air yang
menyejukkan dan yang memberkati). Gelar ini muncul atas dasar pemahaman orang
Sumba yang menyadari bahwa sebagian besar mata air di beberapa wilayah Sumba
Barat Daya merupakan sumber kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Banyaknya mata
air yang ada, telah membuat wilayah Sumba Barat Daya menjadi sangat subur dan
memiliki potensi pertanian yang sangat luas.
3.
Maromba
Yesu artinya Yesus sebagai Raja atau anak
Raja. Gelar ini berdasarkan atas pemahaman bahwa tatanan hidup Orang Sumba
terdiri atas Maromba, Kabihu dan Ata. Maromba disebut
sebagai golongan bangsawan atau raja yang sangat dihormati dan disegani
masyarakat Sumba.
4.
Mori
Yesu (Tuhan
Yesus) artinya Yesus yang berkuasa sebagai tuan, karena kata Mori di berikan kepada seseorang yang
dianggap sebagai tuan (tuan rumah, tuan tanah, tuan kebun). Yesus dianggap
sebagai tuan dari segala tuan yang ada di Sumba.
b.
Analisis
Berdasarkan gambaran di atas maka penulis
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat Kristen Sumba di jemaat
diaspora danau ina, dalam menyebut Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate, Mori Wee Maringngi Wee Malala,
Maromba Yesu, dan Mori Yesu adalah sebagai berikut:
· Faktor
Ekonomi
Pada
bagian deskripsi terlihat bahwa jemaat Diaspora Danau Ina didominasi oleh
kalangan mahasiswa dari berbagai-bagai suku. Masalah yang sering dialami oleh
para mahasiswa pada umumnya ialah dalam hal keuangan. Sebagian besar mahasiswa kekurangan
uang registrasi, uang buku, uang kos atau kontrakan karena keterbatasan ekonomi
keluarga dan pengiriman uang dari orang tua yang sangat lama. Sehingga memperlambat pembayaran dan tidak
terpenuhinya kebutuhan hidup. Dalam rangka menanggulangi kekurangan yang ada,
maka ada beberapa mahasiswa yang berupaya bekerja paruh waktu untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari di kos atau kontrakan. Mereka
bahkan yakin bahwa Yesus turut bekerja dan merupakan penjaga yang akan selalu
menolong untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Juga terdapat beberapa
keluarga dalam jemaat yang terbilang miskin atau kurang mampu dalam hal
ekonomi. Selain itu dalam budaya orang Sumba Barat Daya (baik orang Sumba di
Kupang maupun di Sumba) kelihatan terlalu boros dalam hal ekonomi, seperti membawa
banyak hewan (kerbau, sapi, dan babi) ketika ada acara pernikahan dan juga
kematian. Ada kesadaran bahwa meskipun terlihat boros, namun bagi mereka hal
itu merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk dilakukan sebagai bentuk penghargaan
kepada orang yang telah meninggal dan juga sebagai ungkapan terima kasih kepada
pihak perempuan dalam acara pernikahan. Hal itu selalu dilakukan dengan upacara
penikaman beberapa/banyak hewan (babi atau kerbau) untuk dijadikan sebagai
tanda ikatan atau perdamaian. Hal ini pun dapat disamakan dengan sebutan mereka
kepada Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda
Wawi Tanggu Mate. Yesus di gambarkan seperti seekor kera yang mau menolong
sesamanya untuk terlindung dari ancaman penderitaan dan mendapatkan makanan.
Kera tersebut di percaya orang Sumba sebagai penjaga hutan dan pemberi berkat.
Begitu juga Yesus dikaitkan dengan pengorbanan seekor babi sebagai korban
pendamaian, sehingga Yesus dikatakan sebagai penyelamat yang berkorban untuk
kedamaian kehidupan orang Sumba.
· Faktor
Budaya
Dalam
budaya orang Sumba, pandangan mereka tentang yang ilahi sangat sulit untuk
digambarkan. Karena nama ilah yang tertinggi tersebut dipandang keramat,
sehingga orang Sumba menyebutkan nama sang Ilahi dengan ungkapan-ungkapan
berdasarkan karya dan pekerjaannya. Pada umumnya ungkapan “Ndapa Teki Ngara Ndapa Suna Tamu” merupakan sebutan untuk ilah
tertinggi yang artinya “tidak bisa di sebutkan namanya secara langsung”.
Sehingga ungkapan tersebut diantaranya ialah Atananah tanah Alangit Tana Langit (yang empunya tanah dan langit), yaitu
Allah yang telah menciptakan langit dan bumi bagi manusia. Berkaitan dengan hal
ini, orang Sumba menyebut sang ilahi berdasarkan pada konteks kebudayaan
mereka. Seperti sebutan Maromba Ala (Allah
Bapa sebagai raja di atas segala raja) dan Maromba
Yesu (Yesus sebagai raja atau anak raja). Sebutan Maromba Yesu lahir dari pemahaman tentang seorang raja dari
keturunan bangsawan yang sangat di hormati dan di segani. Demikian halnya orang
Sumba sangat memuliakan nama Yesus, sehingga Ia di sebut sebagai Maramba Yesu. Selain itu Yesus juga
disebut sebagai Mori Yesu karena kata
Mori di berikan kepada seseorang yang
dianggap sebagai tuan (tuan rumah, tuan tanah, tuan kebun). Yesus dianggap
sebagai tuan dari segala tuan yang ada di Sumba.
· Faktor
Sosial
Dalam
masyarakat Sumba terdapat upacara perdamaian yang disebut Dame atau Ole. Upacara
ini bertujuan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang saling bermusuhan,
dengan cara membunuh dan menikam seekor babi di depan halaman rumah yang
bersangkutan sebagai lambang persatuan atau perdamaian di antara kedua belah
pihak. Berkaitan dengan hal ini, orang Sumba di gereja Diaspora pernah
melakukan upacara ini ketika menyelesaikan masalah yang ada di jemaat Diaspora
Danau ina. Upacara ini merupakan suatu bukti bahwa mereka yang berselisih
didamaikan dan bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Hal ini
ditandai dengan darah yang keluar dari babi yang ditikam. Mengenai sebutan Yesus
sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu
Mate suku Sumba Barat Daya mengakui bahwa Yesus yang sebagai anak Allah
rela mati dan mengorbankan diri-Nya hanya untuk menebus dosa manusia.
· Faktor
Lingkungan Alam.
Keadaan
alam di Sumba Barat Daya sangat subur dan lahan yang cukup luas untuk usaha
pertanian. Keadaan ini sangat berbeda dengan konteks orang sumba di jemaat
Diaspora Danau ina. Karena itulah mereka
tidak dapat menerapkan usaha pertanian yang luas sebagaimana di Sumba.
Pandangan orang sumba menyebut Yesus sebagai Mori Wee Maringngi Wee Malala
(air yang menyejukan dan yang memberkati), Yesus dianggap sebagai air
hidup yang memberikan kesegaran dan kehidupan bagi masyarakat Sumba.
Berdasarkan pemahaman bahwa sebagian besar wilayah Sumba Barat Daya memiliki
sumber air dan menghasilkan keadaan alam yang subur untuk meningkatkan lahan
pertanian (kebun dan sawah). Gambaran
ini sangat berhubungan dengan upacara Pasola
yang bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah di Sumba Barat Daya
yang dipenuhi banyak mata air pada beberapa wilayah (Wekelosawa, Weeluri,
Weedindi, Weekapoda, Weemangura, dll). Karena keadaan alam yang sangat subur,
sehingga masyarakat Sumba selalu berupaya untuk meningkatkan potensi pertanian
yang ada untuk memperoleh berkat yang melimpah. Dalam hal ini ritual Pasola merupakan suatu budaya yang
sangat berperan dalam mempertahankan keadaan tersebut, karena ritual Pasola adalah sebuah upacara untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang melimpah.
Berhubungan dengan hal ini
· Faktor
Politik
Kehidupan
suku Sumba Barat Daya di Oesapa Tengah, sangat menggambarkan pola pemerintahan,
kekeluargaan, kekerabatan, dan sikap persaudaraan. Hal ini digambarkan dari
sistem pemerintahan suku sumba yang terdiri dari tiga golongan yaitu maramba (bangsawan/raja), kabihu (orang merdeka), dan ata (hamba). Ketiga golongan ini
memiliki hubungan yang cukup erat. Sebutan maramba
dikenakan kepada seorang raja yang
berkuasa atau seorang dari lingkungan bangsawan. Raja tersebut sangat di
hormati dan di segani. Sebutan ini juga dikenakan kepada Yesus sebagai Raja atau
anak raja, yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh masyarakan Kristen Sumba.
· Thema
Dominan
Melalui
deskripsi yang telah dipaparkan, maka penulis melihat tema dominan dalam
permasalahan yang dialami oleh sebagian besar jemaat Dano Ina adalah
- Penjaga
atau pelindung
Dalam
budaya orang Sumba, kera adalah penjaga hutan. Kera itu berukuran besar. Ia
menjaga dan melindungi kera-kera kecil di hutan. Orang Sumba berpandangan bahwa
kera ini rela mati atau berkorban untuk melindungi binatang sejenisnya. Kera
besar tersebut sering berada di atas pohon untuk memetik buah bagi kera lainnya
dan memantau musuh yang ingin menyerang mereka, dengan memberi isyarat berupa
teriakan untuk bersembunyi jika musuh mulai terlihat. Gambaran ini membuat
orang Sumba di Jemaat Dano Ina (terutama para mahasiswa dan keluarga yang
miskin) memahami bahwa Yesus Kristus adalah penjaga umat-Nya yang selalu
menolong dan memberi berkat untuk mencukupi kebutuhan umat-Nya.
- Pengorbanan
Dalam
masyarakat Sumba terkhususnya di jemaat Dano Ina, babi adalah hewan yang sering
dikorbankan. Hewan tersebut ditikam, darahnya dimasak sebagai sup kuah dan
dimakan bersama sebagai suatu bentuk ritus pendamaian atau ikatan antara kedua
belah pihak. Ritus ini sering dilakukan dalam rangka perkawinan dan perdamaian
antara kedua belah pihak.
Berkaitan
dengan tema itu maka gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus adalah sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate. Yesus
Kristus dianggap sebagai pendamai, penjaga, penolong, dan pemberi berkat.
II. Membuka Teks
Dalam Perjanjian Baru terdapat beberapa gelar yang diberikan
kepada Yesus Kristus. Gelar tersebut lahir dari konteks kehidupan jemaat.
Dengan melihat deskripsi dan analisis yang telah dipaparkan, maka penulis
memilih salah satu thema dominan yaitu Penjaga atau pelindung yang dikaitkan
dengan gelar Yesus sebagai Keddu Tanggu
Seda Wawi Tanggu Mate, yaitu Yesus sebagai penjaga umat-Nya. Meskipun
konsep tentang Yesus Kristus sebagai penjaga tidak terlalu kelihatan dalam
kitab PB, penulis memilih teks Alkitab dari Yohanes 10:1-18 untuk menggali apa
kata Alkitab tentang Yesus sebagai penjaga atau pelindung. Secara umum dalam Alkitab,
terdapat berbagai macam konsep tentang penjaga yaitu penjaga kerajaan (2 Sam
18:25), penjaga kebun anggur (2Taw 26:10), penjaga Bait Allah (Yoh 7:32),
penjaga domba (Yoh 10:3), penjaga manusia (Ayb 7:20), penjaga Israel (Mzm 121)
dan lainnya.[20]
Namun secara khusus, penulis memilih teks Yohanes 10:1-18 sebagai pokok
teologis yang cocok, karena sangat berhubungan dengan Mazmur Daud (Mzm 23:1-6)
tentang Gembala yang Baik dan Nyanyian
Ziarah (Mzm121:1-8) tentang Penjaga Israel.
Kitab Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes yang menceritakan
tentang keilahian Yesus Kristus bahwa Ia adalah anak Allah, gembala, air sumber hidup, pokok anggur
dll. Yohanes ingin menegaskan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus Kristus
bukan hanya manusia, tetapi juga Allah. Keduanya tak terpisahkan. Pernyataan
ini merupakan pertentangan Yohanes terhadap ajaran sesat (Gnostik) yang
memisahkan antara Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Yohanes berharap
agar para pembaca dikuatkan dalam imannya bahwa Yesus adalah inkarnasi Firman
Allah.[21]
Tampilnya Yesus Kristus dalam injil Yohanes sebagai Allah yang maha tinggi,
kemudian secara berangsur-angsur menyatakan Yesus sebagai Allah yang hidup
bersama-sama manusia. Yesus benar-benar Allah karena ia bisa memberi
mukjizat-mukjizat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dll. Ia
juga sungguh-sungguh manusia yang merasa sedih, lapar, sakit dan lainnya. Sebagaimana
dikatakan bahwa Firman itu telah menjadi daging (Yoh 1:14). Oleh karena itulah
Ia berkarya dalam dunia ini sebagai seorang gembala atau penjaga, pokok anggur
(Yoh 15:1-16)[22],
roti hidup, sumber air hidup atau pemberi berkat dalam penderitaan hidup umat-Nya.
Berhubungan
dengan itu, terdapat salah satu gelar untuk Yesus Kristus sebagai gembala yang baik.
Ada dua macam gembala dalam Alkitab. Pertama, orang yang menggembalakan ternak.
Kedua, orang yang mengasuh dan membina manusia, yaitu gembala yang bersifat
Ilahi maupun fana. Kata Ibraninya yaitu Ro’eh
dan kata Yunani Poimen. Gembala dalam arti harafiah pada
zaman dahulu mengemban tugas yang banyak tuntutannya. Dia harus mencari rumput
dan air di daerah yang kering dan berbatu-batu (Mzm 23:2), harus melindungi
atau menjaga kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas
(Ams 3:12), harus mencari dan membawa kembali setiap domba yang sesat (Yeh
34:8; Mat 18:12 dst). Seorang gembala harus kuat, rela berkorban dan tidak
mementingkan diri sendiri. Perjanjian Lama berulangkali melukiskan Allah
sebagai gembala Israel yang menjaga, melindungi dan menolong gembala-gembalanya
dari ancaman bahaya (Kej 49:24; Mzm 23:1; 80:2). Domba di Palestina, bersandar
sepenuhnya pada perlindungan dari gembala yang menyelamatkan dari ancaman singa
dan beruang (1 Sam 17:34-35; Ams 3:12).[23]
Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus di anggap sebagai Gembala
yang Baik dan Agung. Gambaran tokoh gembala sering muncul dalam kitab-kitab
injil (mis. Luk. 15:3-7), dan Yesus adalah gembala yang baik (Yoh 10:1-19),
atau Gembala Agung (Ibr 13:20).[24] Hal
ini diuraikan secara rinci dalam kitab Yohanes 10. Pokok utama dalam teks ini
ialah sebutan “pintu” yang mengacu pada gembala yang sesungguhnya, gembala yang
masuk melalui pintu adalah gembala yang dikenal domba-dombanya dan domba-domba
itu mendengarkan suaranya.[25]
Ajaran mengenai diri Yesus Kristus yang diumpamakan pintu, sangat terkait
dengan gembala yang baik (Mzm 23). Injil Yohanes menggaris bawahi hubungan
Kristus dengan umat-Nya seperti hubungan erat antara gembala yang menjaga
kawanan domba-dombanya (Yoh 10:16). Gembala memiliki hubungan pribadi dengan domba-dombanya. Hal Ini
memberikan makna yang mendalam pada gambaran Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung
dari umat-Nya (Yoh. 10:1-18). Para gembala mengenali setiap keadaan
domba-dombanya. Ia memimpin, merawat, menjaga dari binatang buas, bahkan
mencari ketika ada yang tersesat dan terhilang. Hal ini tidak berarti gembala
selalu berada di depan domba-dombanya. Mungkin suatu saat ia akan berada di
samping kawanan domba dan kadang-kadang mengikuti mereka dari belakang untuk
menjaga kawanan domba-domba-Nya.
Pemahaman gembala dalam Perjanjian Baru maupun lama, sangat
berkaitan erat dengan gambaran Tuhan sebagai Penjaga Israel yang menolong dan
memperhatikan umat-Nya baik siang maupun malam (Mzm 121:6). Keduanya memiliki
persamaan yang tak terpisahkan dan saling berhubungan. Meskipun gambaran Yesus
Kristus sebagai Penjaga tidak terlalu kelihatan dalam Perjanjian Baru, namun peranan
seorang Penjaga Israel dalam Mazmur 121, tidak jauh berbeda dengan fungsi dan
peranan seorang gembala dalam Yohanes 10:1-18. Keduanya sama-sama bertugas menjaga,
menolong, dan melindungi. Allah yang telah membebaskan Israel dari penindasan
di Mesir adalah seorang Penjaga Israel (Mzm 121:5). Istilah penjaga atau
pelindung dalam bahasa Ibrani adalah Tsofeh
dan Syomer, dalam bahasa Yunani Fulax dan Teron. Tempat penjagaan dalam bahasa Ibrani adalah Migdal. Pada masa
lampau Migdal digunakan untuk dua tujuan
berbeda, yaitu:[26]
1.
Tempat yang didirikan
sejak waktu-waktu paling dini (bnd. Kej 35:21) di padang-padang rumput, untuk
melindungi ternak sapi dan domba terhadap binatang-binatang buas dan pencuri.
Adanya penjaga-penjaga kebun anggur (bnd. 2Taw 26:10; Mi 4:8).
2.
Tempat atau
menara-menara yang didirikan dalam bangunan pertahanan kota yang besar.
Menara-menara tersebut memiliki para penjaga untuk menghadapi setiap tindakan
bermusuhan terhadap kota (2 Raj 9:17-20). Pada waktu permusuhan, penjaga
berwaspada terhadap bahaya malam hari yang sangat ditakuti dan mereka tak sabar
menantikan datangnya pagi hari (Mzm 130:6).
Hal ini menunjukkan bahwa kata penjaga atau pelindung sangat
berkaitan dengan kata gembala. Keduanya memiliki fungsi dan peran yang tidak
jauh berbeda. Seorang penjaga berusaha untuk melindungi kota kerajaan agar
tidak mudah diserang musuh, begitu juga seorang gembala selalu melindungi dan menjaga
kawanan dombanya agar tidak diserang binatang buas. Jika terjadi sesuatu
terhadap yang di jaganya, maka baik gembala maupun penjaga akan berusaha
menolong dan melindungi. Tugas para penjaga sama seperti para gembala yang
melindungi domba-dombanya. Tugas awal yang dilakukan oleh penjaga-penjaga di
Israel, merupakan tugas yang sering dilakukan oleh para gembala. Mereka harus
menjaga ternak-ternak (domba dan sapi) dan kebun anggur (Kej 35:21). Dalam PB,
yesus diberi gelar sebagai gembala yang menjaga, menolong dan melindungi
umat-Nya. Kehadiran Yesus sebagai seorang penjaga atau gembala, telah membawa
keselamatan bagi seluruh umat manusia.
III. Dialog Teks dan Konteks
Dalam menghubungkan teks dan konteks, maka
penulis menggunakan salah satu metode pendekatan dari teologi kontekstual yang cocok
adalah tipologi Niebuhr yaitu tentang Kristus dan budaya dalam hubungan
paradoks. Model ini kekristenan dan budaya dilihat sebagai dua identitas yang
berbeda, namun sejajar. Karena itu kewibawaan keduanya sama-sama diterima dan
sekaligus disadari bahwa kerjasama antara budaya dan kekristenan bukanlah hal
yang mudah untuk dicapai. Sebab di samping ada kesamaan antara keduanya, namun
ada juga perbedaan atau unsur konflik antara keduanya. Hal ini karena ada dosa
dalam budaya. Ketegangan antara kekristenan dan budaya diakui. Harus diingat bahwa
budaya manusia itu terbatas. Menurut Niebuhr sikap yang tepat adalah menerima
kekristenan dan budaya dan pada saat yang sama mengakui bahwa ada kemungkinan
timbul konflik antara keduanya. Berhubungan dengan itu, konteks kehidupan jemaat
Diaspora Danau Ina merupakan jemaat yang terdiri dari berbagai suku yaitu suku
timor, sumba, alor, rote, sabu, belu dll. Mayoritas jemaat ini merupakan
mahasiswa yang berasal dari berbagai suku pendatang. Hal ini menimbulkan banyak
tantangan atau masalah dalam jemaat. Pada umumnya para mahasiswa memiliki
tantangan baik dalam studi maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari, karena
kekurangan uang atau pengiriman uang yang terlambat dari keluarga yang jauh. Bahkan
juga terdapat beberapa jemaat yang merupakan keluarga kurang mampu atau miskin.
Teks
Yohanes 10:1-18 menggambarkan kasih Kristus kepada umat-Nya, bahwa Ia selalu
menjaga dan menolong dalam penderitaan yang dialami umat-Nya. Kristus sebagai
penjaga atau gembala mengetahui penderitaan umat-Nya, mereka mengenal dan
selalu mendengarkan suara-Nya (Yoh 10:4). Gambaran tersebut sangat berhubungan
dengan pemahaman orang Sumba tentang penjaga hutan yaitu seekor kera besar yang
dikenal dan didengarkan oleh kera-kera lainnya. Ketika kera besar berusaha
memberikan isyarat untuk bersembunyi dari musuh. Bahkan kera besar ini selalu
memanjat pohon untuk mencari makanan (buah-buahan) bagi kera-kera lainnya. Gambaran
ini berhubungan dengan gelar yang diberikan orang Sumba Barat Daya di jemaat
Diaspora Danau Ina kepada Yesus sebagai Keddu
Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate. Kata Keddu
artinya kera, tanggu artinya
menanggung, Mate artinya mati atau
penderitaan. Jika dihubungkan, maka Keddu
Tanggu Seda artinya kera yang
menanggung derita untuk menjaga dan melindungi kera-kera kecil di hutan. Orang Sumba
menghubungkan gambaran ini dengan diri Yesus Kristus yang selalu menolong,
menjaga, melindungi dan mencukupi kehidupan umat-Nya. Seperti persamaan antara
gembala dengan penjaga, ternyata juga ada kesamaan antara Yesus Kristus sebagai
penjaga atau gembala dengan pemahaman orang Sumba tentang kera besar sebagai
penjaga hutan. Yesus Kristus seperti seekor kera besar di Sumba yang
bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan kera lainnya dan bahkan kera ini
rela mati atau berkorban untuk melindungi binatang sejenisnya. Pekerjaan atau
tugas mulia dari kera besar ini tidak jauh berbeda dengan karya Yesus Kristus
dalam Yohanes 10:1-18 sebagai gembala yang menjaga, melindungi dan menolong
umat-Nya dari penderitaan.
Namun hubungan antara teks dan konteks ini memiliki perbedaan.
Pemahaman orang Sumba Barat Daya tentang Kedu
Tanggu Seda sangat terbatas, yakni sebagai seekor kera yang hanya menolong
hewan sejenisnya. Hal ini berbeda dengan pemahaman tentang Yesus Kristus sebagai
juruselamat seluruh umat manusia. Kera tersebut hanya menyelamatkan dan menjaga
hewan sejenisnya saja dan cenderung membuat orang Sumba berpandangan bahwa
mereka hanya boleh menolong sesama sukunya saja. Pemahaman ini berbeda dengan
gambaran Yesus sebagai gembala atau penjaga dan penolong yang bukan hanya bagi
orang Yahudi saja, melainkan juga orang-orang non-Yahudi yaitu seluruh bangsa
di dunia ini. Yesus Kristus adalah juruselamat bagi seluruh umat manusia.
Pendekatan dengan model ini, menggambarkan hubungan
Yesus sebagai gembala sekaligus penjaga yang melindungi dan menyelamatkan umat-Nya.
Demikian halnya yang terjadi dalam konteks kehidupan orang Sumba Barat Daya
sebagai jemaat Dano Ina, mereka mengalami penderitaan yang tidak jauh berbeda
dengan yang digambarkan dalam teks Yohanes 10 :10-18 dan Mazmur 121.
Penderitaan yang dialami oleh sebagian besar jemaat Dano Ina ialah yang telah
dialami oleh para mahasiswa. Pada umumnya ialah dalam hal keuangan. Sebagian
besar mahasiswa kekurangan uang registrasi, uang buku, uang kos atau kontrakan
karena keterbatasan ekonomi keluarga dan pengiriman uang dari orang tua yang
sangat lama. Sehingga memperlambat pembayaran dan tidak terpenuhinya kebutuhan
hidup. Bahkan ada yang terpaksa
menghabiskan uang registrasi karena tuntutan kebutuhan sehari-hari. Dalam
rangka menanggulangi kekurangan yang ada, maka ada beberapa mahasiswa yang
berupaya bekerja paruh waktu untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka
sehari-hari di kos atau kontrakan. Mereka bahkan yakin bahwa Yesus turut
bekerja dan menjadi penjaga atau pelindung yang akan selalu menolong untuk
mencukupi kebutuhan hidup mereka.
IV.
Aksi
Dari hasil wawancara, gereja
telah melakukan aksi dalam rangka memahami Yesus sebagai penjaga atau gembala yang
melindungi dan menolong umat-Nya. Aksi yang dilakukan oleh gereja Diaspora
Danau Ina ialah
1.
Gereja bekerja sama dengan pihak PPA (Program
Pelayanan Anak) di luar daerah NTT, untuk dapat membantu membiayai anak-anak,
remaja dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Program PPA ini dianggap
sangat baik, karena di dalam program tersebut terdapat pembinaan rohani dan
persekutuan serta pembiayaan sekolah anak mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi.
Dalam Program PPA tersebut terdapat para donatur yang siap menolong anak-anak,
remaja dan pemuda/i dari keluarga kurang mampu.
2.
Gereja melakukan
program diakonia yaitu membantu keluarga kurang mampu atau miskin dengan
melakukan bedah rumah. Gereja bekerjasama dengan para jemaat untuk memperbaiki
rumah-rumah keluarga yang terlihat tidak layak dihuni/rewot (gubuk-gubuk).
Masing-masing jemaat dari tiap-tiap rayon membawa barang-barang atau perkakas-perkakas,
makanan, dan minuman dalam memperbaiki rumah keluarga yang terbilang sangat
miskin.
Saran
1.
Bantuan gereja kepada
anak-anak, remaja dan para mahasiswa yang kurang mampu lewat kerjasama dengan
PPA, menurut saya kurang menyentuh pergumulan kehidupan jemaat. Karena masih
ada para mahasiswa yang tidak di pedulikan oleh jemaat. Sebaiknya gereja melakukan
pendataan terhadap semua mahasiswa yang kurang mampu, dan berusaha memberikan
bantuan yang selayaknya. Gereja telah memberdayakan para mahasiswa baik secara
rohani maupun jasmani. Dengan pemberdayaan terhadap mahasiswa secara kreatif,
seperti kerajinan tangan (taplak meja, bunga, dll) dan tata boga (membuat
bermacam jenis kue). Kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk semakin
kreatif dan berkualitas secara ekonomi dalam membantu kebutuhan hidup.
2.
Program bedah rumah
yang dilakukan gereja dalam rangka diakonia terhadap keluarga miskin, memiliki
kendala yaitu persoalan tanah yang bukan milik pribadi. Hal ini menimbulkan
masalah jika rumah yang di bedah di atas tanah keluarga tersebut adalah tanah
milik orang lain. Program ini akan lebih
baik jika di sertai dengan program diakonia transformatif yang sungguh-sungguh
memperbaharui kehidupan keluarga miskin. Bukan dalam hal menjadikan kaya,
melainkan membimbing dan memberdayakan mereka untuk melakukan suatu usaha bagi
kelangsungan hidup mereka. Dalam rangka ini, gereja dapat memberikan modal
secukupnya untuk membantu keluarga miskin dalam membangun sebuah usaha (kios, pedagang
dan lainnya.
[1]
F.D.Wellem, Injil dan Marapu, Jakarta:
BPK. Gunung Mulia, 2001, hlm. 15-16.
[2] Ibid, hlm. 33.
[3]
Pdt. Yuliana Banunu (39 tahun, ketua majelis jemaat), Wawancara, Oesapa, 28 Mei
2012
[4]
Pdt Yuliana Banunu (ketua majelis jemaat), Wawancara,
Oesapa, 28 Mei 2012
[5]
Margareth Ora (22 tahun, mahasiswa dan anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 20 Juni 2012
[6]
Anggraeni Bulu (27 tahun, mahasiswa dan anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 20 Juni 2012
[7]
Ady Wali (22 tahun, mahasiswa dan anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 20 Juni 2012
[8]
Deny Peju Djawa (22 tahun, mahasiswa/anggota jemaat), Oesapa 29 juli 2012
[9]
Pdt. Yuliana Banunu (39 tahun, ketua majelis jemaat), Op.cit.,
[10] Yoseph
Bili Renda (56 tahun, majelis jemaat), Wawancara,
Oesapa, 27 Mei 2012
[11]
Vaneella Ora (27 tahun, anggota jemaat), Wawancara,
Oesapa, 27 mei 2012
[12]
Marthen Malo Tanggu (59 tahun, majelis jemaat), Wawancara, Oesapa, 29 Mei 2012
[13]
Umbu Pura Woha, Sejarah, Musyawarah dan
Adat istiadat Sumba Timur, Jakarta: Cipta Sarana Jaya, 2008, hlm. 253
[14] Jack Bulu, (47 tahun, anggota jemaat), Wawancara, Oesapa 28 Juni 2012
[15]
Bapak Anderias Ngongo (53 tahun, majelis jemaat), Wawancara. Oesapa 28 Juni
2012
[16]
Marthen Malo Tanggu, Op.cit.,
[17] Sumba Barat dalam kancah perjuangan melawan kolonialisme, Dinas Pendidikan
UPTD, Kupang, 2006, hlm. 50-51
[18] Idem
[19]
Oe. H. Kapita, Sejarah Pergumulan Injil
Di Sumba, Waingapu: Sinode Gereja Kristen Sumba, 2008, hlm. 13
[20] D.F. Walker, Konkordansi Alkitab, Jakarta: BPK.
Gunung Mulia, 2009, hlm. 195.
[21] Tim penyusun., Tafsiran
Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu, Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008, hlm. 499-500.
[22] Dave Hagelberg, Tafsiran ijil Yohanes (Pasal 13-21), Yogyakarta:
Yayasan ANDI (Anggota IKAPI), 2006, hlm.
87.
[23] Tim penyusun., Ensiklopedi
Masa Kini Jilid I A-L, Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992, hlm. 330-331.
[24] W. R. F. Browning, Kamus Alkitab a dictionary of the bible, jakarta:BPK. Gungun Mulia,
2007, hlm.116-117
[25] Tim penyusun., Tafsiran
Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu, Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008, hlm. 301-302.
[26] Ensiklopedi Masa Kini Jilid I A-L,Op.cit., hlm. 468.


No comments:
Post a Comment