Tuesday, 15 January 2013

KRISTOLOGI MENURUT ORANG SUMBA DI JEMAAT DIASPORA DANAU INA- OESAPA




KRISTOLOGI MENURUT ORANG SUMBA DI JEMAAT DIASPORA DANAU INA- OESAPA
Rounded Rectangle: MARNY PAH

MARNY 
ASMIRANY PAH

KRISTOLOGI MENURUT ORANG SUMBA DI JEMAAT DIASPORA DANAU INA- OESAPA

I.         Memahami Konteks
Pulau Sumba sejak dahulu kala dikenal dengan nama tanah humba artinya tanah sumba. Menurut tradisi Sumba, nama ini berasal dari nama istri orang pertama suku sumba yang datang untuk mendiami sumba, yaitu humba. Nama suaminya adalah Umbu Walu Mandoku. Ia mengabadikan nama istrinya, yakni “Humba” sebagai pulau sumba yang merupakan tanda kegembiraan dan cinta kasihnya kepada istrinya setelah mereka mengarungi lautan dalam kurun waktu yang cukup lama.[1] Masyarakat Sumba merupakan kaum imigran yang datang dalam beberapa gelombang, serta memasuki Sumba melalui Tanjung Sasar dan muara Pandawai, kemudian menyebar ke seluruh pulau Sumba.[2] Kabupaten Sumba terbagi dalam empat wilayah yaitu Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Dalam rangka teologi kontekstual, maka yang menjadi fokus ialah Sumba Barat Daya.

a.    Deskripsi
Jemaat Diaspora Danau Ina merupakan pemekaran dari jemaat Nazareth Oesapa Tengah. Jemaat ini berdiri pada bulan Januari 2009 di Klasis Kupang Tengah. Dengan jumlah kepala keluarga 218. Dan jumlah jiwa 1.487 yang tersebar di delapan rayon pelayanan, yang dilayani oleh satu orang pendeta, 40 penatua, dan satu orang vikaris. Sejarah gereja ini dimulai dari adanya dua faktor yang mempengaruhi perkembangan jemaat yaitu yang pertama adanya jarak yang sangat jauh untuk beribadah ke gereja Nazareth Oesapa Tengah dan yang kedua, adanya denominasi-denominasi lain di sekitar lingkungan jemaat (GSJA dan Betel). Mata pencaharian jemaat ini antara lain petani, pegawai, buruh, dan pedagang kaki lima, seperti pada skema berikut ini:[3]

Jemaat ini terdiri dari berbagai suku yakni suku timor, sumba, alor, rote, sabu, belu dan lain-lain. Oleh karena itu jemaat ini dinamakan Diaspora yang artinya umat Allah yang terdiri dari banyak suku, bahasa, dan mayoritas bukan penduduk asli. Pada umumnya jemaat ini didominasi oleh para mahasiswa baik dari dalam maupun yang datang dari luar kota Kupang. Berdasarkan wawancara kelompok, jumlah jemaat suku Sumba Barat Daya di gereja Diaspora Danau Ina merupakan yang terbanyak setelah suku timor. Menurut Pdt. Yuliana Banunu, jemaat Diaspora merupakan mayoritas masyarakat pendatang yaitu para mahasiswa yang pada umumnya tinggal di kos-kosan dan rumah kontrakan. Sebagian Jemaat Diaspora Danau Ina juga terdiri dari beberapa keluarga yang terbilang sangat miskin dalam hal ekonomi, mereka adalah orang pendatang yang tidak memiliki tanah sebagai tempat tinggal sehingga harus tinggal di gubuk-gubuk.[4] 
Sebagian para mahasiswa sering memiliki masalah dalam hal keuangan (seperti sulit membayar registrasi, uang buku, uang kos atau kontrakan dan kebutuhan hidup lainnya), karena pengiriman uang yang terlambat dari orang tua atau sanak saudara di Sumba. Beberapa di antaranya yaitu seorang mahasiswi bernama Margaretha Ora, mengatakan bahwa ia pernah mengambil cuti kuliah karena tidak membayar uang registrasi. Hal itu disebabkan terlambatnya pengiriman uang dari orang tua di Sumba.[5] Anggraeni Bulu juga mengatakan bahwa ia sampai saat ini sulit untuk kembali berkuliah seperti biasanya, karena telah dua semester tidak membayar registrasi akibat keterlambatan pengiriman uang dari orang tua. Hal yang sama juga terjadi pada dua orang temannya, Adi dan Doger (nama samaran/bukan nama sebenarnya) yang mengalami putus kuliah karena terlanjur mempergunakan uang kuliah atau registrasi untuk memenuhi kebutuhan hidup di kos yang mendesak.[6] Ady Wali mengatakan bahwa dalam keadaan kekurangan, ia dan beberapa mahasiswa berusaha bekerja untuk mendapatkan uang, seperti dalam tabel berikut ini: [7]

Nama Mahasiswa
Jenis Usaha yang dilakukan
1.    Ady Wali dan Nadus Djawa
2.    Deny Peku Djawa  dan Merlyn
3.    Reny
Menjual bensin eceran Rp.5000/1 ltr
Menanam dan menjual bunga Rp.10.000/1 pot

Membuat dan menjual kue Rp.500/potong

            Hasil dari usaha tersebut biasanya cukup dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di kos atau rumah kontrakan. Bahkan  Deny Peku Djawa mengatakan bahwa, karena keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya terancam putus kuliah.[8] Dari hasil wawancara, mereka menyatakan bahwa Allah turut bekerja dan akan mencukupi segala bentuk kekurangan yang mereka alami. Bahkan seorang mahasiswa bernama Reny, mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah penolong dan penjaga yang setia dalam kehidupan umatnya. Selain kesulitan dalam hal keuangan, para mahasiswa juga sangat rentan terhadap perkelahian atau perselisihan di antara suku-suku mereka. Berhubungan dengan itu, telah dilakukan upacara perdamaian yang dilakukan gereja, bekerjasama dengan para tokoh adat untuk mengatasi konflik antara Sumba dan Alor.[9] Dalam memahami Yesus, jemaat dari suku Sumba Barat Daya memiliki suatu  pandangan tentang Yesus Kristus yang dikaitkan dengan budaya mereka. Menurut bapak Yosep Bili Renda, ia menyadari bahwa budaya orang Sumba sangat berbeda dengan budaya dimana ia tinggal sekarang (Kupang ). Meskipun ia telah menetap di jemaat sejak tahun 1978, hingga saat ini ia masih memiliki budaya dan pandangan orang Sumba Barat Daya tentang Yesus Kristus.).[10]

Tatanan Hidup Masyarakat Sumba
Pada umumnya Suku Sumba terbagi dalam tiga golongan yaitu bangsawan atau raja (Maramba), orang merdeka (Kabihu), dan hamba (Ata). Golongan bangsawan sangat dihormati dan disegani hingga sekarang ini, meskipun mereka tidak lagi memiliki kedudukan tinggi. Golongan orang merdeka adalah golongan orang terbanyak dalam masyarakat dan merupakan rekan kerja para bangsawan dalam hidup bermasyarakat, sedangkan golongan hamba merupakan golongan yang sejak semula memang telah ditentukan menjadi seorang hamba.[11] Seperti berikut ini:

Kepercayaan Asli Orang Sumba
Menurut bapak Marthen Malo Tanggu, sejak dahulu kala kepercayaan asli orang Sumba disebut Marapu. Kepercayaan Marapu adalah kepercayaan terhadap arwah nenek moyang atau leluhur (perantara kepada yang ilahi), makhluk-makhluk halus (roh-roh) dan kekuatan-kekuatan sakti. Mereka dapat memberi berkat, perlindungan, pertolongan yang baik jika disembah. Jika tidak, mereka akan memberi malapetaka atas manusia.[12] Marapu dianggap sebagai leluhur yang memiliki tempat lebih rendah dari Ilah tertinggi. Tugas dari leluhur adalah sebagai perantara antara manusia dan Ilah tertinggi. 
Marapu juga dianggap sebagai teman dan sahabat oleh manusia. Menurut Umbu Pura Woha, Marapu hadir dalam benda-benda yang sudah dikeramatkan (batu, pohon, dan benda-benda keramat lainnya).[13]

Keadaan Geografis Sumba Barat Daya
Secara khusus, Sumba Barat Daya merupakan pemekaran dari Sumba Barat pada tahun 2000, dengan luas 148,04 km2 atau 36,53% dari total luas kabupaten umba Barat. Bapak Anderias Ngongo mengatakan bahwa, kabupaten Sumba Barat Daya memiliki keadaan lingkungan alam yang sangat subur dan keadaan tanahnya terdiri dari lembah-lembah, pegunungan, dataran dan hamparan padang yang luas. Selain itu, daerah ini juga memiliki potensi dalam bidang peternakan (kuda, sapi, dan babi). Juga terdapat binatang kera yang menurut orang sumba sebagai penjaga hutan.  Menurut bapak Jack Bulu, hutan yang terletak di wilayah Wekelosawa Sumba Barat Daya, memiliki banyak binatang kera yang sering berkeliaran di dalam hutan. Kera-kera tersebut sering berada di atas pohon untuk bersembunyi dan mencari makanan (buah-buahan).di antara mereka terdapat beberapa ekor kera besar yang sering memantau kera-kera kecil dengan cara menaiki dahan pohon untuk memberikan makanan dan berusaha melihat musuh atau manusia. Kera besar sering memberikan isyarat dengan cara berteriak di atas pohon,  jika terdapat binatang lain (kuda, sapi, babi, dll) atau orang asing yang akan memburu mereka. Isyarat tersebut  bertujuan agar kera-kera lainnya dapat melarikan diri dan bersembunyi dari untuk terlindung dari ancaman.[14]
Sumba Barat menghasilkan bahan pertanian yang sangat pesat (salak, rambutan, ubi, pisang, cokelat, padi, jagung, dll). Hal ini karena hampir seluruh daerah Sumba Barat Daya memiliki sumber mata air. Karena itulah sebagian besar wilayahnya diberi nama yang berawalan we’e yang berarti air, seperti Wekelosawa, Weeluri, Weedindi, Weekapoda, Weemangura dll. Sumber mata air yang cukup banyak, membuat kawasan Sumba Barat Daya memiliki keadaan alam yang subur. Maka sebagian besar masyarakat berusaha untuk memanfaatkan tanah dengan bercocok tanam. Mata pencahariannya bervariasi ada yang bekerja sebagai petani, pedagang dan pengawai negeri.[15]

Pandangan Tentang Dunia dan Ilahi
Orang Sumba memiliki pandangan tentang dunia bahwa alam semesta ini terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan atas (langit) yang merupakan kediaman ilah tertinggi, lapisan tengah (bumi), dan lapisan bawah (bawah tanah).
Mereka percaya kepada suatu kuasa tertinggi yang Ilahi atau Ilah tertinggi yang menciptakan dan mengusai alam semesta ini. Ilah tertinggi ini beristirahat sementara penyelengaraan alam semesta diserahkan kepada Marapu dan kuasa lainnya. Walaupun demikian bagi orang Sumba menyebutkan nama sang Ilahi sangatlah tabu dan dipandang keramat, sehingga mereka menyebutnya dengan ungkapan-ungkapan berdasarkan karya dan pekerjaannya. Pada umumnya ungkapan “Ndapa Teki Ngara Ndapa Suna Tamu” merupakan sebutan untuk ilah tertinggi yang artinya “tidak bisa di sebutkan namanya secara langsung”. Adapun ungkapan orang sumba tentang Ilahi yang tertinggi, yaitu:[16]
a.    Atananah  tanah Alangit Tana Langit  (yang empunya tanah dan langit), yaitu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi bagi manusia.
b.    Kalada Mata, Bela Ruka Tilu (yang Maha Mendengar dan Maha Melihat). Orang Sumba Barat Daya percaya bahwa sang ilahi selalu mendengar dan melihat pergumulan hidup mereka.
c.    Maromba Ala yaitu Allah dianggap sebagai raja di atas segala raja.
d.    Akanga Wola Lima, Akangan Wola Wai (yang menciptakan jari kaki dan tangan)

Budaya Masyarakat Sumba Barat Daya
Masyarakat Sumba Barat Daya memiliki kebudayaan yang khas. Hal itu nampak dari pakaian tradisional, seni tari-tarian, syair lagu dan alat musik. Mereka juga mempunyai upacara-upacara adat yang dilakukan pada peristiwa-peristiwa tertentu, seperti upacara kematian, pernikahan dll. Dalam tradisi orang Sumba, terdapat beberapa ritus atau upacara yakni Pasola (permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas kuda yang sedang berlari kencang antara dua kelompok yang berlawanan).  Upacara Pasola tersebut bertujuan untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang melimpah. [17], upacara pernikahan dan kematian. Baik upacara pernikahan maupun kematian diawali dengan membunuh hewan kerbau atau babi yang ditikam di depan rumah keluarga yang bersangkutan. Khususnya untuk upacara pernikahan diharuskan untuk membunuh kerbau, karena hewan tersebut dianggap sebagai suatu penghormatan besar bagi keluarga pengantin. Hewan tersebut ditikam, darahnya dimasak sebagai sup kuah dan dimakan bersama. Darah hewan (kerbau atau babi) yang mengalir itu digambarkan sebagai tanda atau lambang persatuan yang terikat dalam sebuah keluarga. 
Upacara perdamaian yang disebut Dame atau Ole. Upacara ini bertujuan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang saling bermusuhan, dengan cara membunuh dan menikam seekor babi di depan halaman rumah yang bersangkutan sebagai lambang persatuan. Menurut Marthen Malo Tanggu, dalam pelakasanaan upacara pernikahan dan kematian di Sumba Barat Daya cukup berbeda ketika dibandingkan dengan situasi di Oesapa. Proses upacara tersebut harus diawali dengan penikaman babi atau kerbau di depan halaman rumah, namun karena keadaan halaman yang tidak mendukung (sempit) sehingga terkadang hewan tersebut ditikam dibelakang rumah. Selain itu sejak dahulu dalam adat Sumba untuk upacara pernikahan diharuskan untuk membayar seratus ekor hewan (tergantung kesepakatan kedua belah pihak keluarga). Namun ketika berada di Kupang, karena terbatasnya jumlah hewan (kerbau, babi, dan kuda) maka hal itu masih dimaklumi.[18]


Masuknya Kekristenan
Kekristenan masuk pertama kali di pulau Sumba oleh perkembangan pekabaran Injil (Zending) dari bangsa Belanda. Pada tanggal 9 Juni 1881, De Nederlandse Gereformeerde Zendingsvereniging mengutus Zendeling J. J. van Alphen sebagai utusannya yang pertama untuk memberitakan injil Tuhan di Sumba.[19] Ia menjalin hubungan dengan orang Sumba untuk mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka. Meskipun banyak tantangan yang terjadi,  misi pekabaran injil tersebut mencapai perkembangan hingga mempengaruhi kehidupan orang Sumba.  Masuknya injil ke pulau Sumba mulai menghadirkan banyak pandangan orang Sumba tentang Yesus. Hal ini membuat orang Sumba yang menjadi Kristen memiliki beberapa ungkapan tentang Yesus, yaitu:
1.        Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate (Kera yang menanggung penderitaan, babi yang menjadi korban). Istilah ini berdasarkan atas pemahaman orang Sumba bahwa kera adalah penjaga hutan. Kera itu berukuran besar. Kata Keddu artinya kera, tanggu artinya menanggung, Mate artinya mati atau penderitaan. Jika dihubungkan, maka Keddu Tanggu Seda artinya kera yang menanggung derita untuk menjaga dan melindungi kera-kera kecil di hutan. Orang Sumba berpandangan bahwa kera ini rela mati atau berkorban untuk melindungi binatang sejenisnya. Kera besar tersebut sering berada di atas pohon untuk memetik buah bagi kera lainnya dan memantau musuh yang ingin menyerang mereka, dengan memberi isyarat berupa teriakan untuk bersembunyi jika musuh mulai terlihat. Sedangkan babi adalah hewan yang dikorbankan. Dalam masyarakat Sumba, hewan tersebut ditikam, darahnya dimasak sebagai sup kuah dan dimakan bersama sebagai suatu bentuk ritus pendamaian atau ikatan antara kedua belah pihak.
2.        Yesus sebagai Mori Wee Maringngi Wee Malala (air yang menyejukkan dan yang memberkati). Gelar ini muncul atas dasar pemahaman orang Sumba yang menyadari bahwa sebagian besar mata air di beberapa wilayah Sumba Barat Daya merupakan sumber kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Banyaknya mata air yang ada, telah membuat wilayah Sumba Barat Daya menjadi sangat subur dan memiliki potensi pertanian yang sangat luas.
3.        Maromba Yesu artinya Yesus sebagai Raja atau anak Raja. Gelar ini berdasarkan atas pemahaman bahwa tatanan hidup Orang Sumba terdiri atas Maromba, Kabihu dan Ata. Maromba disebut sebagai golongan bangsawan atau raja yang sangat dihormati dan disegani masyarakat Sumba.
4.        Mori Yesu  (Tuhan Yesus) artinya Yesus yang berkuasa sebagai tuan, karena kata Mori di berikan kepada seseorang yang dianggap sebagai tuan (tuan rumah, tuan tanah, tuan kebun). Yesus dianggap sebagai tuan dari segala tuan yang ada di Sumba.

b.   Analisis
Berdasarkan gambaran di atas maka penulis menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat Kristen Sumba di jemaat diaspora danau ina, dalam menyebut Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate, Mori Wee Maringngi Wee Malala, Maromba Yesu,  dan Mori Yesu adalah sebagai berikut:
·      Faktor Ekonomi
Pada bagian deskripsi terlihat bahwa jemaat Diaspora Danau Ina didominasi oleh kalangan mahasiswa dari berbagai-bagai suku. Masalah yang sering dialami oleh para mahasiswa pada umumnya ialah dalam hal keuangan. Sebagian besar mahasiswa kekurangan uang registrasi, uang buku, uang kos atau kontrakan karena keterbatasan ekonomi keluarga dan pengiriman uang dari orang tua yang sangat lama.  Sehingga memperlambat pembayaran dan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup. Dalam rangka menanggulangi kekurangan yang ada, maka ada beberapa mahasiswa yang berupaya bekerja paruh waktu untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari di kos atau kontrakan. Mereka bahkan yakin bahwa Yesus turut bekerja dan merupakan penjaga yang akan selalu menolong untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Juga terdapat beberapa keluarga dalam jemaat yang terbilang miskin atau kurang mampu dalam hal ekonomi. Selain itu dalam budaya orang Sumba Barat Daya (baik orang Sumba di Kupang maupun di Sumba) kelihatan terlalu boros dalam hal ekonomi, seperti membawa banyak hewan (kerbau, sapi, dan babi) ketika ada acara pernikahan dan juga kematian. Ada kesadaran bahwa meskipun terlihat boros, namun bagi mereka hal itu merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang telah meninggal dan juga sebagai ungkapan terima kasih kepada pihak perempuan dalam acara pernikahan. Hal itu selalu dilakukan dengan upacara penikaman beberapa/banyak hewan (babi atau kerbau) untuk dijadikan sebagai tanda ikatan atau perdamaian. Hal ini pun dapat disamakan dengan sebutan mereka kepada Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate. Yesus di gambarkan seperti seekor kera yang mau menolong sesamanya untuk terlindung dari ancaman penderitaan dan mendapatkan makanan. Kera tersebut di percaya orang Sumba sebagai penjaga hutan dan pemberi berkat. Begitu juga Yesus dikaitkan dengan pengorbanan seekor babi sebagai korban pendamaian, sehingga Yesus dikatakan sebagai penyelamat yang berkorban untuk kedamaian kehidupan orang Sumba.
·      Faktor Budaya
Dalam budaya orang Sumba, pandangan mereka tentang yang ilahi sangat sulit untuk digambarkan. Karena nama ilah yang tertinggi tersebut dipandang keramat, sehingga orang Sumba menyebutkan nama sang Ilahi dengan ungkapan-ungkapan berdasarkan karya dan pekerjaannya. Pada umumnya ungkapan “Ndapa Teki Ngara Ndapa Suna Tamu” merupakan sebutan untuk ilah tertinggi yang artinya “tidak bisa di sebutkan namanya secara langsung”. Sehingga ungkapan tersebut diantaranya ialah Atananah  tanah Alangit Tana Langit  (yang empunya tanah dan langit), yaitu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi bagi manusia. Berkaitan dengan hal ini, orang Sumba menyebut sang ilahi berdasarkan pada konteks kebudayaan mereka. Seperti sebutan Maromba Ala (Allah Bapa sebagai raja di atas segala raja) dan Maromba Yesu (Yesus sebagai raja atau anak raja). Sebutan Maromba Yesu lahir dari pemahaman tentang seorang raja dari keturunan bangsawan yang sangat di hormati dan di segani. Demikian halnya orang Sumba sangat memuliakan nama Yesus, sehingga Ia di sebut sebagai Maramba Yesu. Selain itu Yesus juga disebut sebagai Mori Yesu karena kata Mori di berikan kepada seseorang yang dianggap sebagai tuan (tuan rumah, tuan tanah, tuan kebun). Yesus dianggap sebagai tuan dari segala tuan yang ada di Sumba.
·      Faktor Sosial
Dalam masyarakat Sumba terdapat upacara perdamaian yang disebut Dame atau Ole. Upacara ini bertujuan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang saling bermusuhan, dengan cara membunuh dan menikam seekor babi di depan halaman rumah yang bersangkutan sebagai lambang persatuan atau perdamaian di antara kedua belah pihak. Berkaitan dengan hal ini, orang Sumba di gereja Diaspora pernah melakukan upacara ini ketika menyelesaikan masalah yang ada di jemaat Diaspora Danau ina. Upacara ini merupakan suatu bukti bahwa mereka yang berselisih didamaikan dan bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Hal ini ditandai dengan darah yang keluar dari babi yang ditikam. Mengenai sebutan Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate suku Sumba Barat Daya mengakui bahwa Yesus yang sebagai anak Allah rela mati dan mengorbankan diri-Nya hanya untuk menebus dosa manusia.


·      Faktor Lingkungan Alam.
Keadaan alam di Sumba Barat Daya sangat subur dan lahan yang cukup luas untuk usaha pertanian. Keadaan ini sangat berbeda dengan konteks orang sumba di jemaat Diaspora Danau ina. Karena itulah mereka tidak dapat menerapkan usaha pertanian yang luas sebagaimana di Sumba. Pandangan orang sumba menyebut Yesus sebagai Mori Wee Maringngi Wee Malala  (air yang menyejukan dan yang memberkati), Yesus dianggap sebagai air hidup yang memberikan kesegaran dan kehidupan bagi masyarakat Sumba. Berdasarkan pemahaman bahwa sebagian besar wilayah Sumba Barat Daya memiliki sumber air dan menghasilkan keadaan alam yang subur untuk meningkatkan lahan pertanian (kebun dan sawah).  Gambaran ini sangat berhubungan dengan upacara Pasola yang bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah di Sumba Barat Daya yang dipenuhi banyak mata air pada beberapa wilayah (Wekelosawa, Weeluri, Weedindi, Weekapoda, Weemangura, dll). Karena keadaan alam yang sangat subur, sehingga masyarakat Sumba selalu berupaya untuk meningkatkan potensi pertanian yang ada untuk memperoleh berkat yang melimpah. Dalam hal ini ritual Pasola merupakan suatu budaya yang sangat berperan dalam mempertahankan keadaan tersebut, karena ritual Pasola adalah sebuah upacara untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang melimpah. Berhubungan dengan hal ini
·      Faktor Politik
Kehidupan suku Sumba Barat Daya di Oesapa Tengah, sangat menggambarkan pola pemerintahan, kekeluargaan, kekerabatan, dan sikap persaudaraan. Hal ini digambarkan dari sistem pemerintahan suku sumba yang terdiri dari tiga golongan yaitu maramba (bangsawan/raja), kabihu (orang merdeka), dan ata (hamba). Ketiga golongan ini memiliki hubungan yang cukup erat. Sebutan maramba  dikenakan kepada seorang raja yang berkuasa atau seorang dari lingkungan bangsawan. Raja tersebut sangat di hormati dan di segani. Sebutan ini juga dikenakan kepada Yesus sebagai Raja atau anak raja, yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh masyarakan Kristen Sumba.
·      Thema Dominan
Melalui deskripsi yang telah dipaparkan, maka penulis melihat tema dominan dalam permasalahan yang dialami oleh sebagian besar jemaat Dano Ina adalah
-       Penjaga atau pelindung
Dalam budaya orang Sumba, kera adalah penjaga hutan. Kera itu berukuran besar. Ia menjaga dan melindungi kera-kera kecil di hutan. Orang Sumba berpandangan bahwa kera ini rela mati atau berkorban untuk melindungi binatang sejenisnya. Kera besar tersebut sering berada di atas pohon untuk memetik buah bagi kera lainnya dan memantau musuh yang ingin menyerang mereka, dengan memberi isyarat berupa teriakan untuk bersembunyi jika musuh mulai terlihat. Gambaran ini membuat orang Sumba di Jemaat Dano Ina (terutama para mahasiswa dan keluarga yang miskin) memahami bahwa Yesus Kristus adalah penjaga umat-Nya yang selalu menolong dan memberi berkat untuk mencukupi kebutuhan umat-Nya.
-       Pengorbanan
Dalam masyarakat Sumba terkhususnya di jemaat Dano Ina, babi adalah hewan yang sering dikorbankan. Hewan tersebut ditikam, darahnya dimasak sebagai sup kuah dan dimakan bersama sebagai suatu bentuk ritus pendamaian atau ikatan antara kedua belah pihak. Ritus ini sering dilakukan dalam rangka perkawinan dan perdamaian antara kedua belah pihak.
Berkaitan dengan tema itu maka gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus adalah sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate. Yesus Kristus dianggap sebagai pendamai, penjaga, penolong, dan pemberi berkat.

II.      Membuka Teks
       Dalam Perjanjian Baru terdapat beberapa gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus. Gelar tersebut lahir dari konteks kehidupan jemaat. Dengan melihat deskripsi dan analisis yang telah dipaparkan, maka penulis memilih salah satu thema dominan yaitu Penjaga atau pelindung yang dikaitkan dengan gelar Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate, yaitu Yesus sebagai penjaga umat-Nya. Meskipun konsep tentang Yesus Kristus sebagai penjaga tidak terlalu kelihatan dalam kitab PB, penulis memilih teks Alkitab dari Yohanes 10:1-18 untuk menggali apa kata Alkitab tentang Yesus sebagai penjaga atau pelindung. Secara umum dalam Alkitab, terdapat berbagai macam konsep tentang penjaga yaitu penjaga kerajaan (2 Sam 18:25), penjaga kebun anggur (2Taw 26:10), penjaga Bait Allah (Yoh 7:32), penjaga domba (Yoh 10:3), penjaga manusia (Ayb 7:20), penjaga Israel (Mzm 121) dan lainnya.[20] Namun secara khusus, penulis memilih teks Yohanes 10:1-18 sebagai pokok teologis yang cocok, karena sangat berhubungan dengan Mazmur Daud (Mzm 23:1-6) tentang Gembala yang Baik  dan Nyanyian Ziarah (Mzm121:1-8) tentang Penjaga Israel.           
       Kitab Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes yang menceritakan tentang keilahian Yesus Kristus bahwa Ia adalah anak  Allah, gembala, air sumber hidup, pokok anggur dll. Yohanes ingin menegaskan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus Kristus bukan hanya manusia, tetapi juga Allah. Keduanya tak terpisahkan. Pernyataan ini merupakan pertentangan Yohanes terhadap ajaran sesat (Gnostik) yang memisahkan antara Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Yohanes berharap agar para pembaca dikuatkan dalam imannya bahwa Yesus adalah inkarnasi Firman Allah.[21] Tampilnya Yesus Kristus dalam injil Yohanes sebagai Allah yang maha tinggi, kemudian secara berangsur-angsur menyatakan Yesus sebagai Allah yang hidup bersama-sama manusia. Yesus benar-benar Allah karena ia bisa memberi mukjizat-mukjizat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dll. Ia juga sungguh-sungguh manusia yang merasa sedih, lapar, sakit dan lainnya. Sebagaimana dikatakan bahwa Firman itu telah menjadi daging (Yoh 1:14). Oleh karena itulah Ia berkarya dalam dunia ini sebagai seorang gembala atau penjaga, pokok anggur (Yoh 15:1-16)[22], roti hidup, sumber air hidup atau pemberi berkat dalam penderitaan hidup umat-Nya.
       Berhubungan dengan itu, terdapat salah satu gelar untuk Yesus Kristus sebagai gembala yang baik. Ada dua macam gembala dalam Alkitab. Pertama, orang yang menggembalakan ternak. Kedua, orang yang mengasuh dan membina manusia, yaitu gembala yang bersifat Ilahi maupun fana. Kata Ibraninya yaitu Ro’eh dan kata Yunani Poimen. Gembala dalam arti harafiah pada zaman dahulu mengemban tugas yang banyak tuntutannya. Dia harus mencari rumput dan air di daerah yang kering dan berbatu-batu (Mzm 23:2), harus melindungi atau menjaga kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas (Ams 3:12), harus mencari dan membawa kembali setiap domba yang sesat (Yeh 34:8; Mat 18:12 dst). Seorang gembala harus kuat, rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri. Perjanjian Lama berulangkali melukiskan Allah sebagai gembala Israel yang menjaga, melindungi dan menolong gembala-gembalanya dari ancaman bahaya (Kej 49:24; Mzm 23:1; 80:2). Domba di Palestina, bersandar sepenuhnya pada perlindungan dari gembala yang menyelamatkan dari ancaman singa dan beruang (1 Sam 17:34-35; Ams 3:12).[23]
       Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus di anggap sebagai Gembala yang Baik dan Agung. Gambaran tokoh gembala sering muncul dalam kitab-kitab injil (mis. Luk. 15:3-7), dan Yesus adalah gembala yang baik (Yoh 10:1-19), atau Gembala Agung (Ibr 13:20).[24] Hal ini diuraikan secara rinci dalam kitab Yohanes 10. Pokok utama dalam teks ini ialah sebutan “pintu” yang mengacu pada gembala yang sesungguhnya, gembala yang masuk melalui pintu adalah gembala yang dikenal domba-dombanya dan domba-domba itu mendengarkan suaranya.[25] Ajaran mengenai diri Yesus Kristus yang diumpamakan pintu, sangat terkait dengan gembala yang baik (Mzm 23). Injil Yohanes menggaris bawahi hubungan Kristus dengan umat-Nya seperti hubungan erat antara gembala yang menjaga kawanan domba-dombanya (Yoh 10:16). Gembala memiliki hubungan pribadi dengan domba-dombanya. Hal Ini memberikan makna yang mendalam pada gambaran Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung dari umat-Nya (Yoh. 10:1-18). Para gembala mengenali setiap keadaan domba-dombanya. Ia memimpin, merawat, menjaga dari binatang buas, bahkan mencari ketika ada yang tersesat dan terhilang. Hal ini tidak berarti gembala selalu berada di depan domba-dombanya. Mungkin suatu saat ia akan berada di samping kawanan domba dan kadang-kadang mengikuti mereka dari belakang untuk menjaga kawanan domba-domba-Nya.
       Pemahaman gembala dalam Perjanjian Baru maupun lama, sangat berkaitan erat dengan gambaran Tuhan sebagai Penjaga Israel yang menolong dan memperhatikan umat-Nya baik siang maupun malam (Mzm 121:6). Keduanya memiliki persamaan yang tak terpisahkan dan saling berhubungan. Meskipun gambaran Yesus Kristus sebagai Penjaga tidak terlalu kelihatan dalam Perjanjian Baru, namun peranan seorang Penjaga Israel dalam Mazmur 121, tidak jauh berbeda dengan fungsi dan peranan seorang gembala dalam Yohanes 10:1-18. Keduanya sama-sama bertugas menjaga, menolong, dan melindungi. Allah yang telah membebaskan Israel dari penindasan di Mesir adalah seorang Penjaga Israel (Mzm 121:5). Istilah penjaga atau pelindung dalam bahasa Ibrani adalah Tsofeh dan Syomer, dalam bahasa Yunani Fulax dan Teron. Tempat penjagaan dalam bahasa Ibrani adalah Migdal. Pada masa lampau Migdal digunakan untuk dua tujuan berbeda, yaitu:[26]
1.    Tempat yang didirikan sejak waktu-waktu paling dini (bnd. Kej 35:21) di padang-padang rumput, untuk melindungi ternak sapi dan domba terhadap binatang-binatang buas dan pencuri. Adanya penjaga-penjaga kebun anggur (bnd. 2Taw 26:10; Mi 4:8).
2.    Tempat atau menara-menara yang didirikan dalam bangunan pertahanan kota yang besar. Menara-menara tersebut memiliki para penjaga untuk menghadapi setiap tindakan bermusuhan terhadap kota (2 Raj 9:17-20). Pada waktu permusuhan, penjaga berwaspada terhadap bahaya malam hari yang sangat ditakuti dan mereka tak sabar menantikan datangnya pagi hari (Mzm 130:6).
       Hal ini menunjukkan bahwa kata penjaga atau pelindung sangat berkaitan dengan kata gembala. Keduanya memiliki fungsi dan peran yang tidak jauh berbeda. Seorang penjaga berusaha untuk melindungi kota kerajaan agar tidak mudah diserang musuh, begitu juga seorang gembala selalu melindungi dan menjaga kawanan dombanya agar tidak diserang binatang buas. Jika terjadi sesuatu terhadap yang di jaganya, maka baik gembala maupun penjaga akan berusaha menolong dan melindungi. Tugas para penjaga sama seperti para gembala yang melindungi domba-dombanya. Tugas awal yang dilakukan oleh penjaga-penjaga di Israel, merupakan tugas yang sering dilakukan oleh para gembala. Mereka harus menjaga ternak-ternak (domba dan sapi) dan kebun anggur (Kej 35:21). Dalam PB, yesus diberi gelar sebagai gembala yang menjaga, menolong dan melindungi umat-Nya. Kehadiran Yesus sebagai seorang penjaga atau gembala, telah membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia.

III.   Dialog Teks dan Konteks
       Dalam menghubungkan teks dan konteks, maka penulis menggunakan salah satu metode pendekatan dari teologi kontekstual yang cocok adalah tipologi Niebuhr yaitu tentang Kristus dan budaya dalam hubungan paradoks. Model ini kekristenan dan budaya dilihat sebagai dua identitas yang berbeda, namun sejajar. Karena itu kewibawaan keduanya sama-sama diterima dan sekaligus disadari bahwa kerjasama antara budaya dan kekristenan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Sebab di samping ada kesamaan antara keduanya, namun ada juga perbedaan atau unsur konflik antara keduanya. Hal ini karena ada dosa dalam budaya. Ketegangan antara kekristenan dan budaya diakui. Harus diingat bahwa budaya manusia itu terbatas. Menurut Niebuhr sikap yang tepat adalah menerima kekristenan dan budaya dan pada saat yang sama mengakui bahwa ada kemungkinan timbul konflik antara keduanya. Berhubungan dengan itu, konteks kehidupan jemaat Diaspora Danau Ina merupakan jemaat yang terdiri dari berbagai suku yaitu suku timor, sumba, alor, rote, sabu, belu dll. Mayoritas jemaat ini merupakan mahasiswa yang berasal dari berbagai suku pendatang. Hal ini menimbulkan banyak tantangan atau masalah dalam jemaat. Pada umumnya para mahasiswa memiliki tantangan baik dalam studi maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari, karena kekurangan uang atau pengiriman uang yang terlambat dari keluarga yang jauh. Bahkan juga terdapat beberapa jemaat yang merupakan keluarga kurang mampu atau miskin.
       Teks Yohanes 10:1-18 menggambarkan kasih Kristus kepada umat-Nya, bahwa Ia selalu menjaga dan menolong dalam penderitaan yang dialami umat-Nya. Kristus sebagai penjaga atau gembala mengetahui penderitaan umat-Nya, mereka mengenal dan selalu mendengarkan suara-Nya (Yoh 10:4). Gambaran tersebut sangat berhubungan dengan pemahaman orang Sumba tentang penjaga hutan yaitu seekor kera besar yang dikenal dan didengarkan oleh kera-kera lainnya. Ketika kera besar berusaha memberikan isyarat untuk bersembunyi dari musuh. Bahkan kera besar ini selalu memanjat pohon untuk mencari makanan (buah-buahan) bagi kera-kera lainnya. Gambaran ini berhubungan dengan gelar yang diberikan orang Sumba Barat Daya di jemaat Diaspora Danau Ina kepada Yesus sebagai Keddu Tanggu Seda Wawi Tanggu Mate. Kata Keddu artinya kera, tanggu artinya menanggung, Mate artinya mati atau penderitaan. Jika dihubungkan, maka Keddu Tanggu Seda artinya kera yang menanggung derita untuk menjaga dan melindungi kera-kera kecil di hutan. Orang Sumba menghubungkan gambaran ini dengan diri Yesus Kristus yang selalu menolong, menjaga, melindungi dan mencukupi kehidupan umat-Nya. Seperti persamaan antara gembala dengan penjaga, ternyata juga ada kesamaan antara Yesus Kristus sebagai penjaga atau gembala dengan pemahaman orang Sumba tentang kera besar sebagai penjaga hutan. Yesus Kristus seperti seekor kera besar di Sumba yang bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan kera lainnya dan bahkan kera ini rela mati atau berkorban untuk melindungi binatang sejenisnya. Pekerjaan atau tugas mulia dari kera besar ini tidak jauh berbeda dengan karya Yesus Kristus dalam Yohanes 10:1-18 sebagai gembala yang menjaga, melindungi dan menolong umat-Nya dari penderitaan.
       Namun hubungan antara teks dan konteks ini memiliki perbedaan. Pemahaman orang Sumba Barat Daya tentang Kedu Tanggu Seda sangat terbatas, yakni sebagai seekor kera yang hanya menolong hewan sejenisnya. Hal ini berbeda dengan pemahaman tentang Yesus Kristus sebagai juruselamat seluruh umat manusia. Kera tersebut hanya menyelamatkan dan menjaga hewan sejenisnya saja dan cenderung membuat orang Sumba berpandangan bahwa mereka hanya boleh menolong sesama sukunya saja. Pemahaman ini berbeda dengan gambaran Yesus sebagai gembala atau penjaga dan penolong yang bukan hanya bagi orang Yahudi saja, melainkan juga orang-orang non-Yahudi yaitu seluruh bangsa di dunia ini. Yesus Kristus adalah juruselamat bagi seluruh umat manusia.
   Pendekatan dengan model ini, menggambarkan hubungan Yesus sebagai gembala sekaligus penjaga yang melindungi dan menyelamatkan umat-Nya. Demikian halnya yang terjadi dalam konteks kehidupan orang Sumba Barat Daya sebagai jemaat Dano Ina, mereka mengalami penderitaan yang tidak jauh berbeda dengan yang digambarkan dalam teks Yohanes 10 :10-18 dan Mazmur 121. Penderitaan yang dialami oleh sebagian besar jemaat Dano Ina ialah yang telah dialami oleh para mahasiswa. Pada umumnya ialah dalam hal keuangan. Sebagian besar mahasiswa kekurangan uang registrasi, uang buku, uang kos atau kontrakan karena keterbatasan ekonomi keluarga dan pengiriman uang dari orang tua yang sangat lama. Sehingga memperlambat pembayaran dan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup.  Bahkan ada yang terpaksa menghabiskan uang registrasi karena tuntutan kebutuhan sehari-hari. Dalam rangka menanggulangi kekurangan yang ada, maka ada beberapa mahasiswa yang berupaya bekerja paruh waktu untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari di kos atau kontrakan. Mereka bahkan yakin bahwa Yesus turut bekerja dan menjadi penjaga atau pelindung yang akan selalu menolong untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

IV.   Aksi
Dari hasil wawancara, gereja telah melakukan aksi dalam rangka memahami Yesus sebagai penjaga atau gembala yang melindungi dan menolong umat-Nya. Aksi yang dilakukan oleh gereja Diaspora Danau Ina ialah
1.     Gereja bekerja sama dengan pihak PPA (Program Pelayanan Anak) di luar daerah NTT, untuk dapat membantu membiayai anak-anak, remaja dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Program PPA ini dianggap sangat baik, karena di dalam program tersebut terdapat pembinaan rohani dan persekutuan serta pembiayaan sekolah anak mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Dalam Program PPA tersebut terdapat para donatur yang siap menolong anak-anak, remaja dan pemuda/i dari keluarga kurang mampu.
2.    Gereja melakukan program diakonia yaitu membantu keluarga kurang mampu atau miskin dengan melakukan bedah rumah. Gereja bekerjasama dengan para jemaat untuk memperbaiki rumah-rumah keluarga yang terlihat tidak layak dihuni/rewot (gubuk-gubuk). Masing-masing jemaat dari tiap-tiap rayon membawa barang-barang atau perkakas-perkakas, makanan, dan minuman dalam memperbaiki rumah keluarga yang terbilang sangat miskin.
Saran
1.    Bantuan gereja kepada anak-anak, remaja dan para mahasiswa yang kurang mampu lewat kerjasama dengan PPA, menurut saya kurang menyentuh pergumulan kehidupan jemaat. Karena masih ada para mahasiswa yang tidak di pedulikan oleh jemaat. Sebaiknya gereja melakukan pendataan terhadap semua mahasiswa yang kurang mampu, dan berusaha memberikan bantuan yang selayaknya. Gereja telah memberdayakan para mahasiswa baik secara rohani maupun jasmani. Dengan pemberdayaan terhadap mahasiswa secara kreatif, seperti kerajinan tangan (taplak meja, bunga, dll) dan tata boga (membuat bermacam jenis kue). Kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk semakin kreatif dan berkualitas secara ekonomi dalam membantu kebutuhan hidup.
2.    Program bedah rumah yang dilakukan gereja dalam rangka diakonia terhadap keluarga miskin, memiliki kendala yaitu persoalan tanah yang bukan milik pribadi. Hal ini menimbulkan masalah jika rumah yang di bedah di atas tanah keluarga tersebut adalah tanah milik orang lain.  Program ini akan lebih baik jika di sertai dengan program diakonia transformatif yang sungguh-sungguh memperbaharui kehidupan keluarga miskin. Bukan dalam hal menjadikan kaya, melainkan membimbing dan memberdayakan mereka untuk melakukan suatu usaha bagi kelangsungan hidup mereka. Dalam rangka ini, gereja dapat memberikan modal secukupnya untuk membantu keluarga miskin dalam membangun sebuah usaha (kios, pedagang dan lainnya.



[1] F.D.Wellem, Injil dan Marapu, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2001, hlm. 15-16.
[2] Ibid, hlm. 33.
[3] Pdt. Yuliana Banunu (39 tahun, ketua majelis jemaat), Wawancara, Oesapa, 28 Mei 2012
[4] Pdt Yuliana Banunu (ketua majelis jemaat), Wawancara, Oesapa, 28 Mei 2012
[5] Margareth Ora (22 tahun, mahasiswa dan anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 20 Juni 2012
[6] Anggraeni Bulu (27 tahun, mahasiswa dan anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 20 Juni 2012
[7] Ady Wali (22 tahun, mahasiswa dan anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 20 Juni 2012
[8] Deny Peju Djawa (22 tahun, mahasiswa/anggota jemaat), Oesapa 29 juli 2012
[9] Pdt. Yuliana Banunu (39 tahun, ketua majelis jemaat), Op.cit.,
[10] Yoseph Bili Renda (56 tahun, majelis jemaat), Wawancara, Oesapa, 27 Mei 2012
[11] Vaneella Ora (27 tahun, anggota jemaat), Wawancara, Oesapa, 27  mei 2012
[12] Marthen Malo Tanggu (59 tahun, majelis jemaat), Wawancara, Oesapa, 29 Mei 2012
[13] Umbu Pura Woha, Sejarah, Musyawarah dan Adat istiadat Sumba Timur, Jakarta: Cipta Sarana Jaya, 2008, hlm. 253
[14]  Jack Bulu, (47 tahun, anggota jemaat), Wawancara, Oesapa 28  Juni 2012
[15] Bapak Anderias Ngongo (53 tahun, majelis jemaat), Wawancara. Oesapa 28  Juni 2012
[16] Marthen Malo Tanggu, Op.cit.,
[17] Sumba Barat dalam kancah perjuangan melawan kolonialisme, Dinas Pendidikan UPTD, Kupang, 2006, hlm. 50-51
[18] Idem
[19] Oe. H. Kapita, Sejarah Pergumulan Injil Di Sumba, Waingapu: Sinode Gereja Kristen Sumba, 2008, hlm. 13
[20]  D.F. Walker, Konkordansi Alkitab, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2009, hlm. 195.
[21]  Tim penyusun., Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008, hlm. 499-500.
[22]  Dave Hagelberg, Tafsiran ijil Yohanes (Pasal 13-21), Yogyakarta: Yayasan ANDI (Anggota IKAPI), 2006, hlm.  87.
[23] Tim penyusun., Ensiklopedi Masa Kini Jilid I A-L, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992, hlm. 330-331.
[24]  W. R. F. Browning, Kamus Alkitab a dictionary of the bible, jakarta:BPK. Gungun Mulia, 2007, hlm.116-117
[25] Tim penyusun., Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008, hlm. 301-302.
[26] Ensiklopedi Masa Kini Jilid I A-L,Op.cit., hlm. 468.

No comments:

Post a Comment