LETE-LETE
Konsep
Filosofis orang Rote Tentang Perahu Dan Sumbangannya Bagi Pluralisme Agama
Oleh:
Jolly Mboro
1.
MENGENAL
KONTEKS
Rote
adalah pulau paling Selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia.[1]
Penyebutan nama Rote sendiri bervariasi. Ada yang menyebutnya dengan sebutan
Rote, Roti/Rottij (dalam bahasa
Belanda), dan juga Lote. Penyebutan yang bervariasi ini disebabkan karena ada
Sembilan dialek yang terdapat di pulau Rote. Namun, sesungguhnya nama asli
pulau Rote itu sendiri adalah lolo neo do
tenu hatu (gelap), nes do male (layu),
dan lino do nes (pulau yang
tersembunyi dan tidak berpenghuni). Penyebutan ini agaknya dipengaruhi oleh
kondisi alam pulau Rote yang berbukit-bukit.[2]
Kehidupan
sosial, budaya dan politik masyarakat Rote ditandai dengan hidup berkelompok
menurut strata sosial. Terdapat empat strata, yaitu strata Henutei
(raja dan keturunannya), leolulu
(fetor/wakil raja), strata
lailangga
(tuan tanah/orang yang memiliki banyak tanah), dan leolai (rakyat biasa).
Dari kelompok-kelompok strata di
atas didalamnya terdapat pula pembagian suku-suku. Setiap kelompok suku
dipimpin oleh maneleo (kepala suku).
Pengangkatan maneleo didasarkan pada
pemahaman bahwa seorang pemimpin suku adalah orang yang harus bisa merangkul
semua anggota suku, pandai berbicara dan juga memiliki kualitas hidup yang baik
sehingga hidupnya menjadi panutan bagi anggota suku. Dalam sistem pemerintahan, pengelompokan strata- strata masyarakat beserta
maneleo dari
masing-masing suku serta seluruh anggota sukunya dipimpin oleh manek (raja ).
Orang
Rote menganut sistem keturunan
patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah). Sistem ini berpengaruh
pada kehidupan orang Rote itu sendiri. Laki-laki menjadi pusat perhatian dalam
hidup berkeluarga dan juga bermasyarakat. Misalnya, yang menjadi kepala/penggerak
dari kehidupan keluarga adalah laki-laki/suami/ayah. Pucuk pimpinan di dalam
masyarakat juga adalah laki-laki. Akan tetapi, semua peran laki-laki itu tidak
berfungsi dengan baik tanpa sokongan
dari perempuan/istri. Dalam hal inilah baik perempuan maupun laki-laki
sama-sama memiliki peranan yang penting dalam kehidupan berkeluarga dan
bermasyarakat.[3]
2.
LETE-LETE:
PERAHU
Ciri suatu masyarakat
ditentukan oleh budaya atau adat-istiadat di mana suatu komunitas masyarakat
berada. Dengan kata lain, pengenalan terhadap latar belakang suatu masyarakat
bertolak dari kebudayaan seperti apa yang dipegang atau dianut. Bertolak dari
hal ini, maka masyarakat suku Rote dalam hidupnya pun mengenal apa yang disebut
dengan kebudayaan. Kebudayaan itu lahir dari ketetapan bersama orang Rote,
tetapi juga kebudayaan lahir dari pengalaman hidup mereka, salah satunya lete-lete.
Sumber:
https://www.google.com/search?q=perahu+bercadik+di+rote
Lete-lete adalah salah satu jenis
perahu milik orang Rote yang merupakan hasil dari pengalaman hidup orang Rote. Pada
umumnya. Perahu ini , dikenal dengan sebutan perahu bercadik.[4]
o
Asal-usul
Perahu Lete-lete
Perahu Lete-lete di
Rote berasal dari pulau Nusak yakni Ti’i. Konsep tentang pembuatan perahu
Lete-lete bermula pada tahun 1792 yakni saat raja Ti’I (Foe Mbura) berniat
mengajak beberapa raja lain di Rote (Raja Lole yakni Ndihua, Dengka yakni
Denggalio dan Raja Ba’a yakni Ndaranao) untuk berlayar menuju ke Jawa dengan
tujuan mengadakan perundingan di Batavia.[5]
Pada waktu itu sarana pelayaran sangat susah, karena itu keempat raja tersebut
mulai berpikir untuk merancang sebuah alat yang dipakai untuk berlayar ke
Batavia yakni perahu sederhana yang terbuat dari kayu serta rakitan-rakitan
bambu berukuran kecil.[6] Perahu itulah yang kini disebut Lete-lete yang pada masa lalu disebut
sebagai Sangga Ndolu.[7] Melalui peristiwa tersebut, maka perahu
Lete-lete dikenal di kalangan masyarakat suku Rote. Misalnya Landu, Ndao, Ndana, Naso, Usu, Manuk, Doo dan
Helina.[8]
o
Istilah
Lete-lete
Pada awalnya perahu
Lete-lete hanya dikenal di Ti’i dengan sebutan Sangga Ndolu. Namun setelah
digunakan oleh orang Rote secara umum, maka sebutan Sangga Ndolu mengalami generalisasi
dan disebut sebagai Lete-lete. Menurut tradisi lisan, kata Lete-lete diambil
dari kata Napalelete artinya
“berjalan di atas suatu benda tetapi dengan hati-hati”.[9]
Selain itu kata ini juga mengandung pengertian pada suatu alat yang digunakan
untuk menghubungkan dua tempat.
o
Proses
Pembuatan Lete-lete
Pembuatan perahu
Lete-lete terdiri atas tiga tahapan, yakni:
1. Tahapan
pertama (Persiapan)
Pada tahapan ini
bahan-bahan serta peralatan disiapkan, namun orang Rote terlebih dahulu
melakukan beberapa tradisi doa bersama yang melibatkan kerabat, keluarga dan
masyarakat yang ada di kampung tersebut. Hal ini dimaksudkan agar perahu itu
kelak mendatangkan berkat dan bukan kecelakaan.[10]
2. Tahapan
kedua (pembuatan)[11]
Segala sesuatu yang
telah dipersiapkan akan diproses menjadi sebuah sarana (Lete-lete). Hal pertama
yang dilakukan yakni membuat bagian bawah perahu Lete-lete. Beberapa balok
panjang/Lunas (kayu yang keras dan
tak mudah rapuh ketika terkena air) diletakkan di bagian dasar perahu. Kemudian
balok yang lain dipasang untuk menghubungkan antara bagian depan dan bagian
bawah perahu, setelah itu disambung lagi balok dari bagian belakang ke bagian
atas.
Langkah
selanjutnya adalah menyusun papan pada bagian badan perahu. Kemudian
dilanjutkan dengan menempel papan pada bagian atas perahu atau yang disebut dek (tempat para penumpang berada).
Setelah itu dilakukan pemasangan kemudi pada bagian belakang perahu, kemudi
berfungsi sebagai pengatur arah perahu.
Proses
selanjutnya adalah memasang tiang layar yang panjangnya sesuai ukuran perahu.
Pada bagian layar dipasang dua buah bambu panjang yang diberi tali. Bambu
panjang tersebut diletakkan di bagian atas dan bawah layar. Setelah sampai pada
tahapan ini, maka proses pembuatan perahu Lete-lete telah selesai.
3. Tahapan
ketiga (penyelesaian)
Setelah proses pembuatan
selesai maka diadakan doa bersama dengan mengundang sanak saudara, keluarga dan
orang-orang disekitarnya sebagai wujud ucapan syukur kepada Pencipta. Setelah
itu semua undangan yang hadir diperbolehkan untuk mengikuti uji coba terhadap
perahu yang dibuat itu. Setiap orang saling bergantian dibawa berlayar dengan
perahu Lete-lete sebagai simbol dari perjalanan perahu Lete-lete selanjutnya.[12]
o
Peranan
Lete-lete
1. Perahu
Lete-lete sebagai gembaran persekutuan (Dalek
esa)
Hal penting dari perahu
Lete-lete ialah kehadirannya yang lahir dari dialog serta keputusan untuk
bersekutu antara raja-raja di Rote. Persekutuan itu kemudian mengantar
kehadiran Lete-lete sebagai sarana transportasi dalam bidang pelayaran.
Lete-lete hadir tidak hanya untuk menjawab kebutuhan masyarakat Rote pada waktu
itu saja, tapi juga bagi kenyataan hidup bersama di masa kini dalam satu tujuan
yakni mencari kedamaian bersama (sangga
ndolu).
Secara fisik waktu yang ditempuh oleh perahu Lete-lete relatif
lama. Hal ini menciptakan terjalinnya persekutuan yang semakin erat selama masa
pelayaran. Persekutuan tersebut bukanlah kerumunan orang yang terjadi sesaat,
melainkan suatu persekutuan yang di dalamnya saling mengenal dan menerima. Berhubungan
dengan hal ini maka disadari pula bahwa Keberadaan Lete-lete yang sederhana
diperhadapkan dengan situasi alam yang tidak menentu, dapat menjadi kendala
yang perlu diperjuangkan. Keterbatasan yang dimiliki, turut mengantar
persekutuan komunitas Lete-lete pada kebersamaan saling melayani dan
melengkapi. Semakin besar tantangan yang dihadapi maka semakin besar usaha yang
dilakukan bersama untuk menyelesaikannya.
2. Lete-lete
sebagai gambaran kedamaian (Sangga Ndolu)
Persekutuan yang
solider menggambarkan kedamaian bersama. Hal ini mengantar orang Rote pada persekutuan
yang lebih erat. Setiap suku di Rote tidak akan berpikir tentang keselamatan sendiri, melainkan
keselamatan bersama. Hal ini berarti aspek sosial dari kehidupan manusia
dipertahankan melalui Lete-lete. Melalui Lete-lete, orang Rote sadar akan kenyataan
hidup yang dialami bersama dan kedamaian yang perlu diperjuangkan.
3.
KEMAJEMUKAN
BERAGAMA: REALITAS MASA KINI
Telah menjadi
kenyataan historis bahwa Indonesia adalah bangsa yang prural. Dari sisi agama,
prulallitas Indonesia tercermin dari adaanya sejumlah agama-agama dunia: Hindu,
Budha, Khonghucu, Islam, Protestan, Katolik,dan berbagai agama dan kepercayaan
lainnya. Sungguh terdapat banyak kepercayaan yang berasal dari agama-agama itu
sendiri. Kemajemukan ini jelas merupakan anugerah Tuhan,dan karenanya patut disyukuri.
Mengingkari kemajemukan berarati mengingkari kehendak dari karya Tuhan.
Pemahaman yang
positif akan kemajemukan berfungsi untuk memperkaya khasanah budaya bangsa dan
berperan sebagai sarana untuk saling mengenal satu dengan lainnya dan terus
saling tolong menolong dengan penuh komitmen, karena sekalipun secara faktual
manusia itu plural, namun manusia diikat oleh kebutuhan universal seperti
halnya, kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan bersama.[13] Karena itu, sudah saatnya bagi
setiap individu untuk beranjak dari keegoisan atau sikap merasa diri paling
benar terhadap komunitas lain melalui dialog yang jujur dan saling menghargai.
Menurut Charles Kimball, salah satu ciri “kejahatan
keagamaan” adalah agama yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yang berhak
memiliki kebenaran mutlak.[14]
Inilah tantangan terbesar dalam
kehidupan beragama saat ini ialah bagaimana seorang penganut agama bisa
mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Kemajemukan merupakan
realitas yang tidak bisa ditampik keberadaannya. Adalah kenyataan rill bahwa
saat ini kita tidak sekadar melihat komunitas yang berbeda dari balik kaca
televisi, tapi saat ini kita hidup dan tinggal bersama dalam satu ranah, bahkan
lebih spesifik lagi mungkin kita sudah makan dan mungkin minum kopi
bersama mereka yang berdeda dengan kita, apakah itu beda agama atau etnis.
Mereka mungkin tinggal di alamat jalan yang sama dengan kita, bekerja satu
kantor, atau bisa jadi mungkin anak kita menikahi atau dinikahi oleh mereka
yang berbeda. Karena itu kemajemukan dalam beragama adalah bagian dari proses
kehidupan manusia yang harus bahkan telah dijalani dan diakui.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka konsep Lete-lete
memberikan sumbangan berarti akan kehidupan bersama yakni persekutuan (dalekh esa) serta kedamaian (sangga ndolu) yang merupakan tujuan
utama manusia masa kini. Hal ini seturut dengan apa yang disampaikan oleh Hans
Kung yakni tidak ada kedamaian di antara bangsa tanpa kedamaian antar-agama.[15]
Jika demikian, maka masyarakat masa kini perlu untuk mengerti bahwa betapa
besar arti hidup bersama demi kedamain dunia. Kehidupan bersama itu melitputi
cinta kasih untuk saling memberi serta terbuka antar sesama tanpa pamrih.[16]
Konsep tentang persekutuan dan kedamaian bersama sebenarnya
juga merupakan inti dari ajaran agama-agama dunia khususnya di Indonesia. Dalam
agama Kristen dikenal dengan konsep “kasih”, yang secara jelas tertera dalam
Matius 22:39; kasih dalam pengertian ini
yakni kerelaan untuk menerima bahkan sedia untuk turut berpartisipasi dalam
kehidupan bersama, sebagaimana kecinatan pada diri sendiri (self) maka manusia
pun terpanggil untuk hadir bagi yang lain (other). Itulah berkat dan panggilan
manusia dalam dunia milik Allah, yakni menjadi pembawa damai bagi sesama
(Matius 5:9).[17]
Dalam Islam, dikenal dengan konsep rukunun artinya rukun. Rukunun
meliputi perbuatan yang baik dan damai, bersatu hati, bersepakat demi kehidupan
bersama. Dalam hal ini, manusia dituntun untuk saling tolong menolong dan
menjauhkan diri dari pertengkaran. [18]
Selain itu, Ajaran Islam berisikan banyak perintah supaya
menyelesaikan pertikaian di antara masyarakat dan bangsa dengan maksud
membangun kedamaian.[19]
Bahkan pada dasarnya semua ajaran Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw
itu bertujuan untuk mewujudkan perdamaian (QS. Al-Anbiya (21): 107). Menurut Dr.
Samir Aliyah, konsep perdamaian dalam Islam adalah seseorang muslim tidak boleh
mengharapkan terjadinya perang atau mengajak perang, bahkan kepada musuh.[20]
Umat Hindu
menurut pengertian Veda pada hakikatnya merupakan bagian dari manusia lainnya,
tak terpisahkan dari seluruh ciptaan Tuhan ( Sang Hyang Widi Wasa ), penguasa
dan penakdir segala ciptaan-Nya di alam semesta ini. Manusia Hindu tidak dapat
memisahkan dirinya untuk sebuah perbedaan, karena ia berasal dari yang satu,
serta pada akhirnya akan kembali kepada yang satu jua. Demikianlah di dalam
pustaka suci Veda dinyatakan sebuah kalimat: ” TAT TVAM ASI ” yang bermakna:
”Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu, Aku adalah Dia, Engkau adalah Aku, dan
seterusnya… ”bahwa setiap manusia adalah saudara dari manusia lainnya dan teman
dari insan ciptaan-Nya. Sesanti “Tat Tvam Asi” ini menjadi landasan etik dan
moral bagi umat Hindu di dalam menjalani hidup sehingga umat hindu dapat
melaksanakan kewajibannya di dunia ini dengan harmonis.[21]
Hal ini seturut dengan pendapat dari Swami Vivekananda, bahwa umat Hindu
mengakui akan kebenaran semua agama, dengan kata lain kebenaran pun hadir dalam
setiap agama.[22]
Agama Budha pun
demikian, Menurut
Sang Buddha berkembangnya perpecahan dan hancurnya persatuan dan kesatuan
(kerukunan) mengakibatkan pertentangan, pertengkaran. Sang Buddha bersabda
dalam Dhammapada ayat 6, sebagai berikut: “Mereka tidak tahu bahwa dalam
pertikaian mereka akan hancur dan musnah, tetapi mereka yang melihat dan
menyadari hal ini damai dan tenang”. Sumber dari perpecahan menurut Sang
Buddha dijelaskan dalam Dhammapada ayat 5, yaitu: “Di dunia ini kebencian
belum pernah berakhir jika dibalas dengan membenci, tetapi kebencian akan
berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih. Ini adalah hukum kekal abadi”.
Dari kutipan di atas, dengan jelas diungkapkan bagaimana
akibat dari pikiran yang jahat bagi seseorang, bagi suatu golongan tertentu, bagi suatu
bangsa bahkan bagi umat manusia. Maka diperlukan kedewasaan berpikir.
Berkata dan bertindak (sila). Dasarnya adalah ajaran Buddha dalam Anguttara
Nikaya II, yaitu: Hiri (perasaan malu untuk berbuat tidak baik dan Ottapa
(rasa takut akan akibat perbuatan jahat). Dua dasar tersebut adalah Lokapala
Dhamma atau Dhamma pelindung dunia.[23]
Seluruh konsep
agama-agama tersebut memberikan kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap agama
memiliki pedoman untuk hidup
bersama dalam damai sekalipun terdapat perbedaan. Kemajemukan adalah anugerah
Pencipta dengan tujuan agar manusia saling melengkapi satu dengan yang lain. Karena itu, Lete-lete
sebagai salah satu buah hasil dari kearifan lokal orang Rote yang turut
menyumbang bagi usaha manusia dalam menciptakan kedamaian. Karena itu, manusia adalah
satu persukutuan (dalekh esa) yang
saling bergandengan tangan demi kedamaian bersama (sangga ndolu).
4.
LETE-LETE DALAM BINGKAI ETIKA GLOBAL
Kenyataan masa
kini terdapat kesadaran penting yang muncul pada masyarakat dunia dan
agama-agama, bahwa dunia yang sedemikian majemuk mestinya bersama-sama duduk
memikirkan sebuah tatanan dunia baru yang dapat memberi aspirasi terhadap
kemanusiaan sejagat atas martabat manusia, harus menjadi agenda penting untuk
disuarakan. Pandangan seperti ini bukan tidak beralasan, menggingat sepanjang
sejarah peradaban dunia, umat mausia selalu diperhadapkan dengan peristiwa
peperangan dan konflik kekerasan yang dilatar belakagi oleh bermacam motif
kepentigan, mulai kepentigan politik, eknomi, rasialisme, etnis maupun agama.
Perang dan konflik kekerasan ini telah mengorbankan manusia dan telah
menghancukan martabat kemanusiaan dan itu telah terjadi berabad-abad lamanya.
Salah satu
fariabel penting yang sering ditengarai menyebabkan konflik dan kekerasan
adalah agama. Meski agama dalam ajaran normatifnya sarat akan pesan-pesan moral
dan cinta kasih,akan tetapi secara empris, etika berintegrasi degan manusia,
agama telah dimasuki “virus” ideology, karenanya agama juga dipandang turut
bertanggung jawab atas berbaga konflik yang terjadi di bebagai belahan dunia.
Harapan masa
kini akan pluralisme memberikan sebuah prespektif baru di dalam perjumpaan umat
manusia yang majemuk yakni perjumpaan yang bebas dari intrik, kekerasan dan
provokasi. Demikian berarti agama-agama juga dituntut untuk mereposisis
perannya secara dinamis dan terbuka. Dalam khotbah saat ditabiskan majadi uskup
Agung Canterbury pada tahun 1942, Wiliam Tample berbicara tenang keputusan
gereja-gereja untuk bersatu sebagai “suatu kenyataan baru” saat ini. Ia seorang
pengamat besar. Seandainya Ia masih hidup, saya yakin Ia akan berbicara tentang
berbagai kekuatan yang akan mempersatukan agama-agama sebagai “kenyataan baru”
yang tidak bisa kita abaikan.[24]
Berhubungan
dengan kenyataan demikian maka Lete-lete sebagai kearifan lokal orang Rote
setidaknya menyumbang beberapa nilai penting dalam etika global di masa kini,
yakni:
1.
Kekerabatan
Perjumpaan antar umat
beragama merupakan sarana penting untuk menumbuhkan pengenalan yang lebih
mendalam kepada orang lain dan kemudian melahirkan kepedulian kepada sesama manusia.
Mengapa diperlukan kepedulian itu? Jawabannya jelas, yakni: ada berbagai
persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kerja-sama. Kerja sama dapat terjadi melalui
adanya upaya untuk saling mengenal dan saling memahami. Kegagalan dari
perjumpaan-perjumpaan yang telah dilakukan berulang-ulang selama ini, karena
perjumpaan itu diadakan lebih kepada upaya mendukung politik pemerintah, yakni
menciptakan ketentraman versi pemerintah. Kekerabatan yang terjalin dalam suatu
perjumpaan, bukanlah demi kepentingan kelompok tertentu, melainkan demi
kesejahteraan hidup bersama. Semuanya saling bekerja sama demi kedamaian
bersama. Dalam kekerabatan ada kepedulian yang melahirkan kerja sama untuk
saling menolong dan berbagi dalam menghadapi segala persoalan kemanusiaan.
2.
Damai
Sebuah persekutuan memiliki satu
tujuan, yakni mencari kedamaian bersama yang merupakan tujuan utama manusia masa kini. Setiap orang akan
berusaha untuk dapat mencapai kedamaian dalam kehidupannya, baik itu secara
pribadi maupun kelompok. Hal yang penting dari kehidupan bersama ialah demi
kedamaian yang
dipenuhi cinta kasih. Kedamaian dapat menciptakan persekutuan yang saling
memberi dan terbuka antara sesama manusia. Dalam hubungan antar-agama, konsep kedamaian
merupakan hal yang utama dalam sebuah persekutuan. Partisipasi dalam kehidupan
bersama antara umat beragama, bukanlah demi kepentingan sendiri, melainkan
bersama-sama terpanggil untuk hadir bagi yang lain. Hal ini memungkinkan adanya
hubungan dialog antar-agama yang saling terbuka, menghargai dan menghormati
eksistensinya masing-masing, tanpa ada rasa saling menyakiti dan mencurigai.
Dengan demikian, kedamaian itu bukan menjadi milik sendiri, melainkan milik
bersama.
DAFTAR PUSTAKA
Andre
Soh,
Mutiara dari
Selatan, Jakarta: Yayasan Kelopak, 2008.
Alo
Liliweri,
Inang, Hidup dan
Bhaktiku, Kupang: Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, 1989.
Billy Graham,
Peace With God,
World Wide: USA, 1984.
Buku pedoman guru mengajar Pedoman Khusus bidang studi Weda: (sebagai Suplemen
Kurikulum PGA Hindu 1979).
Charles Kimball,
When Relegion Becomes Evil, Harper
Collins Publised: Newyork, 2003.
Hans Kung,
Tracing The Way-Spiritual dimention
of world religion, Continuu: London, 2002.
Javad
Nurbakhsh,
SUFI LOVE dalam ENCYCLOPEDIA OF LOVE IN WORLD RELIGIONS
Volume 1
(A-I), ABC-Clio: Santa Barbara, California, 2008.
John Clifford Hold,
The Religious World of Kirti Sri : Buddhism, Art, and Politics of Late
Medieval Sri
Langka, Oxford University Press:
New York, 1996.
KH.M.Sholikhin,
Filsafat
dan Metafisika dalam Islam, Narasi: Yogyakarta, 2008.
Samir Aliyah,
Sistem
Pemerintahan, Peradilan & Adat dalam Islam.
(2004) Jakarta: Khalifa.
S. Wesley Ariarajah,
Tak
Mungkin Tanpa Sesamaku, Isu-isu dalam relasi antar iman, BPK-Gunung
Mulia: Jakarta, 2008.
Seyyed Hossein Nasr,
Pesan-Pesan
Universal Islam untuk Kemanusiaan. (2003). Bandung:
Mizan.
Tim
Penggerak PKK Prov. NTT.
Inang Hidup dan
Bhaktiku: Nusa Tenggara Timur, 1989.
Weinata Sairin,
Kerukunan umat
beragama-Pilar utama
kerukunan berbangsa; butir-butir
pemikiran:
BPK Gununng Mulia, Jakarta, 2006.
Wawancara:
Filus Nalle, Wawancara, Kakabai, 20 Oktober 2014.
Febiyanti
Bala, Wawancara: Liliba, 28 Oktober
2014.
Mesri
Feoh, Wawancara, Kakabai, 20 Oktober
2014.
Simon
Nggadas, wawancara, Sikumana, 15
Oktober 2014.
Zeth
Lodo, Wawancara (via telephon
seluler): Rote, 22 November 2014.
[1] Tim Penggerak PKK Prov. NTT. Inang Hidup dan Bhaktiku. 1989, hlm. 1.
[2]Andre Soh, Mutiara dari Selatan, Jakarta: Yayasan Kelopak, 2008, hlm. 1.
[3] Simon Nggadas, wawancara, Sikumana, 15 Oktober 2014.
[4] Alo Liliweri, Inang, Hidup dan Bhaktiku, Kupang: Tim
Penggerak PKK Provinsi NTT, 1989, hlm. 4.
[5] Kurang jelas tujuan perundingan
tersebut, namun menurut berita lisan tujuan kepergian mereka untuk
membicarakan tentang persatuan seluruh
raja-raja di Rote; Zeth Lodo, Wawancara (via
telephon seluler): Rote,
22 November 2014.
[6] Simon Nggadas, Idem.,
[7] Nama Sangga Ndolu diberikan oleh
seorang gembala domba. Nama itu terdiri dari dua suku kata yakni Sangga artinya cari dan Ndolu yang artinya damai; Filus Nalle, Wawancara, Kakabai, 20 Oktober 2014.
[8] Alo Liliweri, Opcit., hlm. 2.
[9] Mesri Feoh, Wawancara, Kakabai,
20 Oktober 2014
[10] Simon Nggadas, Op.cit.,
[11] Simon Ngadas, Idem.
[12] Febiyanti Bala, Wawancara: Liliba, 28 Oktober 2014
[13] KH.M.Sholikhin,
Filsafat dan Metafisika dalam Islam,
Narasi: Yogyakarta, 2008, hlm. 122.
[14] Charles Kimball, When Relegion Becomes Evil, Harper
Collins Publised: Newyork, 2003, hlm. 10
[15] Hans Kung, Tracing The Way-Spiritual dimention of world religion, Continuum:
London, 2002, Preface. XV.
[16] Javad Nurbakhsh, SUFI LOVE dalam ENCYCLOPEDIA OF LOVE IN WORLD RELIGIONS
Volume 1 (A-I), ABC-Clio: Santa Barbara, California, 2008, hlm. 11.
[17] Billy Graham, Peace With God, World Wide: USA, 1984,
hlm. 215.
[18] Weinata Sairin,
Kerukunan umat beragama-Pilar utama kerukunan berbangsa; butir-butir
pemikiran: BPK Gununng Mulia, Jakarta,
2006, hlm. 15.
[19] Seyyed Hossein Nasr. Pesan-Pesan
Universal Islam untuk Kemanusiaan. (2003). Bandung: Mizan, hlm. 265.
[20] Samir Aliyah. Sistem
Pemerintahan, Peradilan & Adat dalam Islam. (2004) Jakarta: Khalifa,
hlm. 249,
[21] Buku pedoman guru mengajar Pedoman Khusus bidang studi Weda: (sebagai Suplemen Kurikulum PGA Hindu 1979), hlm. 12.
[22] Hans Kung, Op. cit, hlm. 92.
[23]
John Clifford Hold, The Religious World of Kirti Sri : Buddhism, Art, and Politics of Late
Medieval Sri Langka, Oxford University Press:
New York, 1996, hlm. 65.
[24] S. Wesley Ariarajah, Tak
Mungkin Tanpa Sesamaku, Isu-isu dalam relasi antar iman, BPK-Gunung Mulia:
Jakarta, 2008, Hal. 8

No comments:
Post a Comment