KRISTOLOGI
ORANG SUMBA BARAT DAYA
“Komunitas Orang Sumba di Rayon I -
GMIT Sion Oepura”
Seiring berkembangnya
zaman dan teknologi yang semakin canggih, masyarakat dituntut untuk mengikuti
setiap arus yang ada, tak terkecuali masyarakat Sumba sehingga banyak di antara
mereka yang mengadu nasib ke kota Kupang baik untuk menuntut ilmu, maupun
mencari pekerjaan yang lebih layak. Pada akhirnya mereka yang mengadu nasib ke
kota Kupang memiliki identitas sebagai warga kota Kupang yang bersuku Sumba.
Bertolak dari situasi
di atas, lantas apakah identitas mereka sebagai orang Sumba masih tetap
terpelihara walaupun mereka ada di tanah rantauan? Bagaimanakah mereka
merefleksikan Yesus sebagai Pakoro
Manggolu, Pakoro Malimma dalam keberadaan mereka di tanah rantauan?
Melalui tulisan ini, penulis
akan memaparkan Kristus yang dipahami oleh orang Sumba rantauan yang berada di Kupang sebagai Pakoro Manggolu, Pakoro Malimma.
Adapun penelitian ini dilakukan
terhadap orang Sumba Barat Daya di Kupang dengan populasinya adalah
Jemaat Sumba Barat Daya Rayon I GMIT Sion Oepura, dengan sample 5 orang
meliputi tokoh yang dituakan dalam komunitas orang Sumba di Kupang, tokoh
gereja, dan tokoh masyarakat/ jemaat.
MENGENAL
KONTEKS
Pulau Sumba disebut
oleh penduduk Sumba dengan sebutan Tana Humba. Menurut mitos orang Sumba memasuki Sumba
melalui Tanjung Sasar dan Muara Sungai Pandawai yang kemudian menyebar ke
seluruh Pulau Sumba. Sesampainya di Sumba, orang-orang tersebut mendirikan
pemukiman yang disebut paraingu
(kampung).[1]
Kondisi alam
yang subur dan lahan yang luas membuat masyarakat Sumba menggantungkan hidupnya
pada pertanian dan peternakan. Masyarakat yang rajin bekerja ditunjang dengan
lahan pertanian yang subur, membuat masyarakat Sumba cukup maju dalam bidang
ekonomi.
Ada tiga kelas sosial
yang terdapat dalam kalangan orang sumba yaitu kelas maromba (kaum bangsawan), kabihu
(kaum merdeka), atta (kaum hamba).
Tetapi karena perkembangan zaman maka kelas-kelas ini tidak ada lagi di Sumba
Barat Daya, namun di wilayah lain seperti Sumba Timur kelas-kelas ini masih
dipertahankan.[2]
Kepercayaan asli suku
Sumba disebut Marapu. Seluruh
kehidupan orang Sumba terikat dengan pemahaman tentang Marapu. Menurut orang Sumba, Marapu
adalah kepercayaan kepada Ilah Tertinggi yang tidak bisa disebut nama-Nya (Ndapa Teki Ngara, Ndapa Suma Tamo)
melalui arwah orang yang sudah mati yang dipercaya jiwanya masih berada di
sekitar mereka. Melalui Marapu inilah
orang Sumba memohon berkat kepada Ilah Tertinggi.[3]
Dalam kepercayaan Marapu, mereka mengenal siklus hidup
yang berhubungan dengan kelahiran, pesta adat, panen dan kematian. Saat seorang
anak lahir maka keluarga terdekat berkumpul untuk menerima tamu baru. Upacara
adat terjadi bila ada pernikahan, sebelum dan sesudah panen, kematian, dll.[4]
Walaupun kekristenan sudah masuk ke Sumba, namun tak dapat dipungkiri
kebudayaan ini masih tetap dipelihara, hanya konsep penyembahan kepada Marapu diubah sehingga sesuai dengan
nilai-nilai kristiani. Kebudayaan inilah terus dipelihara walaupun mereka
keluar dari pulau Sumba dan merantau di Kota Kupang.
Jemaat Rayon 1 GMIT
Sion Oepura memiliki sebanyak 40 KK. Dari 40 KK, 15 KK diantaranya adalah
orang-orang sumba yang merupakan penduduk tetap.[5]
Masyarakat Sumba di kota wilayah ini, rata-rata bermata pencaharian sebagai
Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sekalipun mereka telah mendapatkan pekerjaan yang
layak, namun ciri khas mata pencaharian utama dari sumba masih tetap
terpelihara yaitu bertani dan beternak. Walaupun tidak semua, namun cukup
banyak masyarakat Sumba di Kupang yang melakukan kegiatan bertani sejauh ia memiliki lahan dan beternak.[6]
Seperti halnya strata
sosial telah hilang dari kehidupan sosial orang Sumba Barat Daya, demikian pula
hal ini telah hilang dalam komunitas masyarakat Sumba di Kupang sekarang ini.
Walaupun struktur tersebut telah hilang, namun penghargaan terhadap orang-orang
yang dituakan dalam masyarakat baik itu secara adat maupun usia di dalam
masyarakat Sumba maupun komunitas Sumba di Kupang masih tetap ada, bahkan
mereka juga menjadi salah satu penentu pengambilan keputusan adat.[7]
Kehidupan orang Sumba
yang tinggal di Kupang sangat memelihara persekutuan mereka. Sekalipun mereka
merantau di Kupang, tradisi Sumba tetap diakui sebagai identitas mereka yang
tidak ditinggalkan walaupun mereka ada di kota Kupang. Hal ini nampak dalam
kehidupan sehari-hari mereka yaitu berdialog menggunakan bahasa daerah,
kehidupan pertanian dan peternakan yang masih dipelihara, gotong royong,
upacara adat untuk perkawinan dan kematian serta usaha pelestarian kuburan
Sumba. Namun sebagai orang Kristen,
mereka menyatakan bahwa, tradisi tersebut akan mereka lestarikan sejauh tradisi
ini tidak bertentangan dengan ajaran agama Kristen.[8]
Tradisi yang tetap dipertahankan ini termasuk pemahaman mereka untuk
merefleksikan Yesus dalam bingkai sebagai Orang Sumba. Dalam kehidupan berjemaat
pun secara sungguh-sungguh mereka menghayati keterpanggilan mereka sebagai
orang Kristen walaupun ciri primodialisme masih nampak dalam persekutuan.[9]
A. Deskripsi
Sebelum
kekristenan masuk ke Pulau Sumba, orang Marapu
hanya mengenal Ilah Tertinggi yang mereka sembah lewat perantaraan Marapu.
Ilah Tertinggi ini tidak bisa disebut namanya oleh karena itu mereka
menyebut-Nya dengan Ndapa Teki Ngara,
Ndapa Suma Tamo (tidak bisa disebut nama-Nya/ tidak ada nama).[10]
Dalam agama suku Marapu nama tersebut
bersifat keramat dan tidak dapat disebut sembarangan dan jika disebut
sembarangan, orang akan tertimpa malapetaka.
Demikian nama Ilah tertinggi diyakini memiliki kekuatan magis. Nama itu
hanya boleh disebut oleh rato dalam
ritus keagamaan dan disebut secara
berbisik oleh rato pada tengah malam
tanpa seorang pun boleh mendengarkannya.[11]
Kendatipun tidak bisa disebutkan namanya, namun orang Sumba memahami bahwa Ilah
tertinggi adalah yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadikan manusia dan
sebagainya.
Ketika kekristenan dibawa masuk ke Sumba oleh
para penginjil Belanda, maka terdapat usaha dari para pekabar Injil Belanda dan
guru injil asal luar pulau Sumba untuk mempelajari bahasa Sumba dan
memberitakan injil dalam bahasa dan konsep budaya setempat. Pemberitaan Injil
yang dilakukan ini termasuk memperkenalkan Allah dan Yesus dengan memberikan
sapaan-sapaan sesuai dialeg dan konsep pemikiran setempat. Usaha ini sangat
membuahkan hasil, orang Kristen Sumba dapat memahami Allah dan Yesus dalam
konsep kebudayaan mereka. Konsep ini pun terus dipertahankan kendatipun mereka
merantau di kota Kupang, seperti yang diyakini oleh orang Sumba di Jemaat Rayon
1 GMIT Sion Oepura. Kendatipun mereka menetap di Kupang dengan konteks yang
multikultur, namum identitas itu tetap terpelihara oleh mereka sebagai orang
Kristen asal Sumba Barat Daya.[12]
Salah
satu gelar Yesus yang merupakan refleksi keberadaan mereka di tanah rantauan
adalah Pakoro manggolu, pakoro malimma.
Secara hurufiah kata ini memiliki arti Pakoro
(Memagari) Manggolu (dalam
kandang) Malimma (dalam rangkulan
tangan). Bila digabungkan gelar ini memiliki makna memagari dalam kandang,
memagari dalam rangkulan tangan atau Tuhan yang melindungi dari bahaya.[13]
Pemberian
gelar Pakoro manggolu, pakoro malima ini
dilatarbelakangi oleh kepercayaan mereka terhadap Marapu. Marapu dipandang sebagai perantara antara Sang Pencipta dan
manusia. Sang Marapu inilah yang menyampaikan permohonan kepada Sang Pencipta
dan Sang Pencipta menjawabnya melalui Marapu. Marapu juga berperan sebagai
‘penolong’. Artinya ketika manusia (masyarakat Sumba) mampu untuk menjalankan
aturan-aturan dalam Marapu maka ia akan selamat. Keselamatan yang di sini
adalah berhasil dalam segala usahanya di dunia, pertanian, peternakan dll
serta akan dilindungi oleh Sang Pencipta melalui roh nenek moyang agar
terhindar dari segala malapetaka. Cara yang lazim digunakan adalah dengan
meletakkan sirih pinang atau sejumlah uang di atas kuburan sebagai tanda
permohonan.[14]
Cara
seperti ini sering dilakukan oleh masyarakat Sumba terlebih bagi mereka yang
hendak merantau jauh dari tanah Sumba. Kegiatan ini sering dilakukan dengan
tujuan memperoleh perlindungan dari nenek moyang di tempat rantauan dan
mendapat pekerjaan setelah sampai di tanah rantauan. Namun setelah kekristenan
masuk orang Sumba tidak memohon perlindungan kepada Marapu tetapi kepada Tuhan yang disebut sebagai Pakoro manggolu, pakoro malima. Yesus
mereka pahami sebagai yang akan melindungi mereka dari bahaya yang mereka
alami. Perlindungan Tuhan tidak sebatas hanya pada perang, tapi ketika mereka
hendak keluar rumah. Orang Kristen Sumba di Kupang pun meyakini bahwa Yesus
adalah Pakoro manggolu, pakoro malimma ketika
mereka berada di tanah rantauan. [15]
B. Analisis
Berdasarkan
gelar-gelar Yesus menurut orang Sumba Barat Daya yang dideskripsikan di atas,
maka analisis yang dapat diambil dari pemberian gelar-gelar tersebut adalah:
1. Historis
Secara historis pemberian
gelar-gelar seperti ini dipengaruhi oleh pemberitaan Para pekabar Injil Belanda
dan pekerja pribumi (bukan orang Sumba) atau yang disebut guru injil. Para
pekabar Injil tersebut mempelajari bahasa Sumba dan menggunakannya dalam
pemberitaan Injil kepada orang-orang Sumba.[16]
Para pekabar injil berkeyakinan
agar injil dapat diterima dan dimengerti oleh orang Sumba, mereka harus
mempergunakan ungkapan-ungkapan yang diambil dari konsep pemikiran, kebiasaan,
dan kepercayaan orang Sumba. Keyakinan inilah yang mendorong mereka memberi
penamaan kepada Allah dan Yesus sesuai dengan konsep kehidupan orang Sumba.
2. Budaya
Manusia
adalah makhluk budaya. Sebagai makhluk budaya, manusia menentukan sendiri bagaimana dia hidup. Budaya dipakai sebagai pedoman
dalam keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan
belajar. Dalam proses penentuan ini, manusia dipengaruhi oleh lingkungan alam
tempat ia hidup, sesamanya sendiri, tradisinya dan kemampuan teknologinya.
Kebudayaan dalam satu komunitas menjadi identitas dari setiap bangsa atau suku
bangsa. Di dalam kebudayaan-kebudayaan itulah suku bangsa ada unsur saling mempengaruhi yang erat antara tingkah-laku
perorangan, suku atau persekutuan desa. [17]
Dari hal tersebut maka kebudayaan Sumba juga turut mempengaruhi pemberian gelar
kepada Allah dan Yesus.
Kebudayaan yang identik dengan
masyarakat Sumba adalah setiap kehidupan orang Sumba selalu diidentikkan dengan kepercayaan kepada Marapu. Seluruh kehidupan orang Sumba
tidak terlepas dari kepercayaan mereka terhadap Marapu.
Kebudayaan-kebudayaan yang mempengaruhi
seperti permohonan perlindungan dari marabahaya kepada arwah-arwah orang yang
sudah meninggal. Dengan masuknya kekristenan, kebiasaan ini tidak dilakukan
namun mereka mengimani bahwa yang melindungi mereka dari marabahaya adalah
Yesus yang adalah Pakoro manggolu, pakoro
malimma.
C. Tema Dominan
Yesus sebagai
Pelindung orang Sumba (Pakoro Manggolu,
Pakoro Malimma)
MEMBUKA
TEKS
Teks :
Gembala Yang Baik (Yohanes 10:1-21)
Menurut para ahli Injil
Yohanes ditulis sekitar tahun 100 M di kota Efesus oleh Yohanes sang penatua.[18]
Injil ini berbeda dengan Injil Matius, Markus dan Lukas sebab injil ini ditulis
dalam konteks Yunani-Gnostik.[19]
Pada waktu injil ini ditulis ada dua pokok permasalahan yang muncul dalam
situasi kehidupan gereja Kristen mula-mula. Masalah yang pertama adalah
kehidupan jemaat Kristen pada saat itu tidak lagi berasal dari kalangan Yahudi
namun ada juga dari kalangan Helenis. Oleh karena itu perlu adanya penjelasan
tentang kekristenan dalam situasi dan ukuran yang berubah itu yaitu dalam
situasi dan ukuran Helenis. Masalah yang kedua adalah adanya ajaran gnostik
yang menolak eksistensi Yesus sebagai manusia dan sebagai Allah.[20] Oleh
karena itu injil Yohanes ditulis untuk menjawab kedua permasalah tersebut.
Salah satu ajaran Yohanes
untuk menyatakan keilahian Yesus adalah penggunaan kata “Aku adalah”. Kata ini
digunakan dalam Perjanjian Lama sebagai penggambaran Allah. Kata YHWH mungkin
sekali berkaitan dengan kata Ibrani hayah
yang berarti adalah dan dengan demikian dapat berarti “Aku adalah Dia yang
tetap ada” atau “Akulah yang akan tetap ada”.[21] Yesus memakai ungkapan “Aku adalah” untuk
menghubungkan diri-Nya dengan hakikat Allah dan untuk menggambarkan apa yang
telah Allah berikan kepada-Nya agar Ia lakukan bagi manusia.[22] Dalam
Injil Yohanes terdapat tujuh kali penggunaan kata “Aku adalah” yaitu roti,
terang, pintu, gembala dan anggur.
Dalam teks Yohanes
10:1-21, Yesus mengungkapkan diri-Nya sebagai pintu dan gembala yang baik. Gambaran
sebagai pintu dan gembala yang baik ini berlatar belakang kehidupan di Yudea
pada masa Yesus. Kandang domba pada zaman itu biasanya merupakan sebidang tanah
yang tertutup di sekelilingnya untuk menjaga domba agar tetap aman. Sang
gembala menjadi penjaga pintu menuju ke dalam kandang itu dan ia juga yang
menentukan siapa yang boleh masuk ke dalamnya. Pintu berfungsi untuk melindungi
dan menjaga kawanan domba agar mereka tidak keluar dari kandang dan menjaga
agar tidak ada binatang buas atau pencuri yang masuk ke dalam kandang.
Pekerjaan sebagai gembala
di Palestina menuntut banyak pengorbanan bahkan sampai mengorbankan nyawanya
untuk keselamatan para dombanya. Hubungan gembala dan dombanya sangat erat
sehingga domba-domba akan mengenal suara sang gembala. Gembala di Palestina
menghabiskan sebagian besar waktu mereka di alam bebas, mengawasi kawanan
ternak dan seringkali harus tidur dekat kawanan ternaknya untuk melindungi
mereka dari perampok dan serangan hewan buas.[23]
Kehidupan para gembala ini juga berpindah-pindah untuk mencari rumput yang baik
bagi kawanan domba mereka sehingga seringkali mereka tidak pulang ke desa dan
menginap di kandang-kandang yang ada di atas bukit. Kandang-kandang itu terbuka
dan dikelilingi tembok yang terdapat satu lubang sebagai tempat keluar masuknya
domba. Lubang itu tidak memiliki pintu sehingga pada waktu malam sang gembala
membaringkan diri sebagai di dalam lubang untuk mencegah kawanan dombanya
keluar dari kandang.[24]
Dengan demikian sang gembala sangat berperan penting untuk menjaga keselamatan
kawanan dombanya. Gembala itu secara mutlak bertanggung jawab kepada
domba-dombanya. Seorang gembala yang baik menganggap domba-dombanya sebagai
sahabatnya dan selalu mendahulukan kepentingan dimba-dombanya. Ketika Yesus
mengatakan bahwa Ia adalah gembala yang baik hendak menggambarkan bahwa Ia
adalah pelindung dan penjaga bagi umat-Nya. Namun ada juga gembala yang tidak
setia. Ia bekerja bukan karena panggilan namun menjadikan pekerjaan gembala
sebagai mata pencaharian sehingga ia hanya memikirkan upah yang ia peroleh
bukan domba-dombanya. Yesus adalah gembala yang baik sehingga Ia rela
mempertaruhkan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya demi keselamatan
domba-domba-Nya.
Selain untuk menentang
ajaran gnostik, ungkapan Yesus sebagai gembala juga mengungkapkan aspek
universalisme. Suatu bangsa seringkali bersifat eksklusif dan menganggap mereka
yang paling baik dari suku bangsa lain sehingga sangat sulit bagi mereka untuk
mengakui bahwa hak-hak istimewa yang mereka miliki juga terbuka bagi orang
lain. Hal ini juga yang terjadi dalam bangsa Yahudi. Namun kata-kata Yesus
dalam Yoh 20:16 menunjukkan bahwa dalam
Yesus semua orang akan dipersatukan. Dengan demikian peran Yesus sebagai
gembala yang baik bukan hanya untuk orang Yahudi saja namun juga untuk
bangsa-bangsa lain.
Kerygma:
1.
Ungkapan Yesus sebagai pintu kepada
domba-domba menunjukkan Yesus sebagai pelindung bagi umat-Nya.
2.
Ungkapan Yesus sebagai gembala yang baik
menggambarkan peran Yesus sebagai pelindung dan penjaga bagi umat-Nya bahkan Ia
rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan umat-Nya. Ungkapan ini juga
mengandung aspek universalisme bahwa di dalam Yesus semua bangsa akan
dipersatukan. Yesus adalah juga gembala bagi bangsa lain bukan hanya untuk
bangsa Yahudi saja.
DIALOG
TEKS & KONTEKS
Bertolak dari rangkuman
teks dan konteks di atas, maka dialog antara keduanya dapat dibangun dengan
menggunakan tipologi Nieburh yaitu Kristus dan budaya ada dalam hubungan
paradoks. Penulis memilih tipologi ini karena di dalamnya ada hubungan dialog
antara kekristenan dan kebudayaan sehingga dalam mengembangkan teologi kita
tidak hanya melihat pada satu sisi saja.
Dalam budaya Sumba,
khususnya masyarakat Sumba yang ada di perantauan menganggap Yesus sebagai Pakoro manggolu, pakoro malimma.
Ungkapan ini menunjukkan pemahaman bahwa mereka mempercayai bahwa Yesus adalah
pelindung bagi mereka. Pelindung bagi mereka bukan hanya ketika berada di Sumba
namun juga ketika mereka berada di rantauan. Dalam teks Yohanes 10:1-21
tergambar jelas peran Yesus sebagai pelindung dan penjaga bagi umat-Nya. Dalam
konteks budaya Sumba peran ini telah diakui dengan ungkapan Pakoro manggolu, pakoro malimma namun
ungkapan Yesus sebagai pintu dan gembala yang baik tidak hanya sekedar memagari
atau memagari dalam kandang atau berada dalam rangkulan tangan. Ungkapan Yesus
sebagai pintu dan gembala yang baik juga mengungkapkan suatu peran Yesus yang
rela memberikan nyawa-Nya bagi umat-Nya. Selain itu teks Yohanes 10:1-21 juga
mengandung aspek universalisme. Karena itu teks budaya Sumba juga dapat
diperkaya bahwa dalam Yesus juga ada keselamatan bagi orang lain di luar orang
Sumba.
Budaya Sumba yang masih
menampakkan kekerasan seperti dalam dalam perang antar paraingu seharusnya tidak dipakai lagi. Karena ungkapan Yesus
sebagai pintu dan gembala tidak mengajarkan kekerasan. Justru dalam kedua
ungkapan itu terdapat aspek pengorbanan diri
sehingga orang Sumba dapat belajar untuk menciptakan perdamaian dengan mengurangi
kekerasan. Dalam teks budaya Sumba tentang Pakoro
manggolu, pakoro malimma sebenarnya dapat memberikan sumbangan juga tentang
peran Yesus. Teks budaya ini mengatakan bahwa Yesus memagari mereka berarti
Yesus tidak hanya pintu namun Yesus juga merupakan pagar bagi mereka. Juga teks
budaya ini menyampaikan bahwa mereka berada dalam rangkulan tangan Tuhan yang
berarti menunjukkan hubungan yang akrab seperti hubungan kekeluargaan dan
persahabatan. Jika gembala dan domba berada dalam hubungan persahabatan maka
ungkapan Pakoro manggolu, pakoro malimma
memberikan sumbangan bahwa Yesus dan manusia juga berada dalam hubungan
kekeluargaan. Oleh karena itu teks injil dan teks budaya ini dapat memberikan
sumbangan bagi kehidupan masyarakat Sumba yang berada di Kota Kupang bahwa
Yesus adalah pelindung dan penjaga mereka bahkan memberikan mereka keselamatan
kepada mereka melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Hubungan mereka dengan
Yesus bukan hanya berada dalam hubungan persahabatan namun juga berada dalam
hubungan kekeluargaan. Dalam Yesus juga ada keselamatan bagi orang lain
sehingga orang Sumba di Kupang perlu menghargai orang lain dan hidup bersama
mereka dalam kerukunan.
AKSI
Dalam konteks orang Kristen Sumba yang
ada di Kupang, aksi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
Ø Menyediakan
suatu liturgi kontekstual bagi orang Kristen asal Sumba (asal GKS) di GMIT. Hal
ini membuat kehadiran mereka di terima, dan mempertajam kembali refleksi mereka
akan Yesus dalam konteks budaya setempat. Di samping itu dengan adanya liturgi
kontekstual dari berbagai suku yang mengajarkan mereka untuk belajar mengenai
siapa Yesus dalam berbagai budaya sehingga tidak membuat mereka eksklusif.
Ø Gereja
menjadi fasilitator untuk mempertajam refleksi teologis orang Sumba tentang
Yesus yang mereka imani dalam konteks kebudayaan mereka. Tak dapat dipungkiri,
status mereka sebagai orang rantauan di kota Kupang memiliki potensi lunturnya
nilai-nilai kebudayaan Sumba yang menjadi identitas mereka. Oleh karena itu,
gereja secara berkala perlu memberi perhatian misalnya dalam bentuk diskusi bersama ataupun pemahaman
Alkitab yang dapat mempertajam refleksi teologis mereka secara kontekstual
disamping itu menanamkan sikap keterbukaan mereka dengan budaya lain sambil
memelihara identitas mereka.
Ø Bersikap
kritis terhadap kebudayaan, sejauh hal tersebut tidak bertentangan dengan
ajaran Alkitab
DAFTAR
PUSTAKA
Barclay, Wiliam, 1996, Pemahaman Alkitab Sehari-hari Injil Yohanes pasal 1-7, Jakarta:BPK
Gunung Mulia
Barclay, Wiliam, 1996, Pemahaman
Alkitab Sehari-Hari Injil Yohanes Pasal 8-21, Jakarta:BPK Gunung Mulia
Poerba, Retnowinarti. J.E.P., 1994, Agama-agama dan Tantangan Kebudayaan,
kumpulan karangan seminar agama-agama XIV/1994, Jakarta; Badan Penelitian
dan Pengembangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia,
Wahono,
S. Wismoadi, 2000, Di Sini Ku Temukan,
Jakarta:BPK Gunung Mulia
Welem,
F. D, Injil dan Marapu, 2004,
Jakarta: BPK Gunung Mulia
Lembaga
Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi,
Jakarta:Lembaga Alkitab Indonesia, 2011
DAFTAR RESPONDEN
NO
|
NAMA
|
PEKERJAAN
|
1.
|
A. B. Engge
|
Tokoh Jemaat/Tua Adat
|
2.
|
Albertina Engge
|
Tokoh Jemaat
|
3.
|
Hani Padaka
|
Tokoh Jemaat
|
4.
|
M. Sjion-Nisnoni
|
Pendeta Jemaat
|
5.
|
Musa Ng. Lende
|
Penatua
|
6.
|
Marten Ngedang
|
Tokoh Jemaat
|
7.
|
Sari Bulu
|
Tokoh Jemaat
|
[1] Musa Ng. Lende, wawancara, Oepura, 5 Mei 2012.
[2] Idem.
[3] Marthen Ngedang, wawancara, Oepura 28 April 2012.
[4] A.B. Engge, wawancara, Oepura, 28 April 2012.
[5] Musa Ng. Lende, Idem.
[6] Albertina Engge, wawancara, Oepura 7 Mei 2012
[7] Marten Ngedang, Idem.
[8] A.B. Engge, Idem.
[9] M. Sjion-Nisnoni, wawancara, Oepura 20 Mei 2012.
[10] A.B. Engge, Idem.
[11] F. D.Welem, Injil dan Marapu, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, Hlm. 42-43.
[12] Albertina Engge, Idem.
[13] Kornelis Mere, Wawancara, Oepura 30 Juni 2012.
[14] Idem.
[15] Albertina Engge, Idem.
[16] Albertina Engge, Idem.
[17]
Retnowinarti. J.E.P.Poerba, Agama-agama
dan Tantangan Kebudayaan, kumpulan karangan seminar agama-agama XIV/1994,
Jakarta; Badan Penelitian dan Pengembangan Persekutuan Gereja-Gereja di
Indonesia, 1994, Hlm 70.
[18] S. Wismoadi Wahono, Di Sini Ku Temukan, Jakarta:BPK Gunung
Mulia, 2000, hlm. 445
[19] Ibid
[20] Wiliam Barclay, Pemahaman Alkitab Sehari-hari Injil Yohanes
pasal 1-7, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1996, hlm.11-24
[21] Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, Jakarta:Lembaga
Alkitab Indonesia, 2011, hlm. 1758
[22] Ibid
[23] Ibid, hlm. 1664
[24] Wiliam Barclay, Pemahaman Alkitab Sehari-Hari Injil Yohanes
Pasal 8-21, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1996 hlm. 93

No comments:
Post a Comment