Tuesday, 15 January 2013

Kristologi Menurut Orang Rote Dengka yang berprofesi sebagai Penyadap Lontar Di Jemaat Lahairoi Tofa Rayon 6-GMIT


Kristologi  Menurut Orang Rote Dengka  yang berprofesi sebagai Penyadap Lontar Di Jemaat Lahairoi Tofa Rayon 6-GMIT
1.      Mengenal Konteks
Rote adalah pulau paling Selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia.[1] Penyebutan nama Rote sendiri bervariasi. Ada yang menyebutnya dengan sebutan Rote, Roti/Rottij (dalam bahasa Belanda), dan juga Lote. Penyebutan yang bervariasi ini disebabkan karena ada Sembilan dialek yang terdapat di pulau Rote. Namun, sesungguhnya nama asli pulau Rote itu sendiri adalah lolo neo do tenu hatu (gelap), nes do male (layu), dan lino do nes (pulau yang tersembunyi dan tidak berpenghuni). Penyebutan ini agaknya dipengaruhi oleh kondisi alam pulau Rote yang berbukit-bukit.[2]
Kehidupan sosial, budaya dan politik masyarakat Rote ditandai dengan hidup berkelompok menurut stratat sosial.  Terdapat empat stratat, yaitu stratat Henutei (raja dan keturunannya), leolulu (fetor/wakil raja), stratat lailangga (tuan tanah/orang yang memiliki banyak tanah), dan leolai (rakyat biasa).
Manek Nusak Dengka
Maneleo
Maneleo
Maneleo
Maneleo
Dari kelompok-kelompok stratat di atas didalamnya terdapat pula pembagian suku-suku. Setiap kelompok suku dipimpin oleh maneleo (kepala suku). Pengangkatan maneleo didasarkan pada pemahaman bahwa seorang pemimpin suku adalah orang yang harus bisa merangkul semua anggota suku, pandai berbicara dan juga memiliki kualitas hidup yang baik sehingga hidupnya menjadi panutan bagi anggota suku. Dalam sistem pemerintahan, pengelompokan stratat- stratat masyarakat beserta maneleo dari masing-masing suku serta seluruh anggota sukunya dipimpin oleh manek (raja) yang dalam hal ini adalah manek nusak Dengka (raja Dengka).
Orang Rote menganut sistem keturunan  patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah). Sistem ini berpengaruh pada kehidupan orang Rote itu sendiri. Laki-laki menjadi pusat perhatian dalam hidup berkeluarga dan juga bermasyarakat. Misalnya, yang menjadi kepala/penggerak dari kehidupan keluarga adalah laki-laki/suami/ayah. Pucuk pimpinan di dalam masyarakat juga adalah laki-laki. Akan tetapi, semua peran laki-laki itu tidak berfungsi dengan baik tanpa sokongan dari perempuan/istri. Dalam hal inilah baik perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki peranan yang penting dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.[3]
Mana Sula Bula (Pemberi Berkat)
Sebelum kekristenan masuk ke Pulau Rote, orang Rote mengenal Ilah Tertinggi dengan sebutan Mana Adu Lai (pencipta) dan Mana Sula Bula/Mana fe Natu (pemberi berkat). Penyebutan Mana Adu Lai didasarkan pada penciptaan dunia (langit dan bumi), hataholi (manusia/orang) dan alam raya. Dari sinilah orang Rote Dengka mengenal dunia awal, dunia sekarang di mana mereka hidup dan bekerja dan lae fafo laen (dunia seberang/dunia yang lain) yang dipercaya sebagai tempat di mana orang yang mati akan pergi sambil menunggu penghakiman yang Ilahi.
Mana Adu Lai (Pencipta)
·   Langit dan bumi
·   Manusia (Hataholi)
 








Bagi orang Rote, dunia serta segala isinya itu diciptakan oleh mana adu lai. Itulah sebabnya ciptaan mana adu lai seperti pohon-pohon yang besar dipahami sebagai kebesaran yang ilahi. Sehingga di pohon-pohon yang besar itulah mana songgo mengadakan ritus seperti ritus untuk meminta hujan dan ritus untuk memohon berkat sebelum musim tanam. Sebutan mana sula bula/mana fe natu juga diberikan kepada yang ilahi oleh karena menurut mereka hasil dari pekerjaan yang berlipat ganda adalah berkat dari yang ilahi. Tanah sebagai ciptaan dari mana adu lai telah mereka kelola sehingga mereka mendapat berkat. Oleh karena itu, bagi orang Rote, tanah adalah ibu yang memelihara kita. Bahasa syair yang terkenal adalah “ta basa lae minan, lae na’a bali minan” yang artinya “kita makan dari tanah, kita mati dikuburkan juga  di dalam tanah”.[4]
2.      Deskripsi
Jemaat Lahairoi Tofa adalah jemaat dari Gereja Masehi Injili di Timor-Klasis Kupang Tengah yang berdiri pada tahun 1981. Jemaat ini terdiri atas 13 Rayon. Dan yang menjadi perhatian untuk diteliti yakni Rayon 6.  Di Rayon 6 terdapat 54 Kepala Keluarga, ada yang bekerja sebagai pedagang sayuran di pasar, guru dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan juga penyadap lontar. Kurang lebih tiga (3) KK adalah orang Rote Dengka yang merantau ke Kupang untuk mengadu nasib dan bekerja sebagai penyadap lontar. Para penyadap lontar ini sudah tinggal dan menetap di Kupang kurang lebih 20-an tahun. Tempat tinggal mereka masih sederhana dilihat dari atap rumah-rumah yang ada itu dari daun lontar dan berdinding.  Tempat tinggal mereka  inipun dibangun diatas tanahnya orang atau tuan tanah. [5]
Pekerjaan menyadap  lontar merupakan pekerjaan yang tidak membutuhkan modal awal berupa uang. Pekerjaan ini hanya menggunakan keahlian untuk menyadap dan memperisapkan segala alat untuk digunakan. Sebelum melakukan penyadapan perlu adanya kesepakatan antara penyadap dan pemilik pohon lontar atau tuan tanah.  Kesepakan yang dibuat oleh mereka bahwa ada pembagian hasil dari keuntungan menyadap pohon lontar. Pembagian ini dilakukan sekali setahun dan Istilah yang dipakai adalah nebanggi tua buna (membagi keuntungan/ hasil dari menyadap lontar). Pembagiann hasil yang sudah didisepakati bersama untuk tahun ini yaitu  para penyadap memberi uang sebanyak Rp 300.000 kepada tuan tanah atau pemilik pohon lontar.[6]
Pekerjaan menyadap dilakukan setiap tahun dengan penghasilan setiap tahun diperkirakan mendekati Rp 7 juta lebih. Perhitungannya sesuai dengan  seberapa banyak ibu-ibu atau nona-nona yang menjual nira ke pasar. Biasanya paling sedikit 2 wanita yang menjual dari 1 penyadap. Pembagian hasil atau uang dilakukan setiap hari. Untuk satu hari pembagiannya Rp 5000. Setelah satu minggu  uang  diserahkan kepada penyadap sebanyak Rp 30.000.  Jika istri dari penyadap pun menjual nira maka,  tidak membagi hasil dengan penyadap karena penyadap adalah sang suami. Uang yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuahan sehari-hari, menyekolahkan anak-anak dan kebutuhan yang lain. Dari hasil menyadap ini anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA dan  perguruan tinggi. [7]
Selain mendapat uang dari nira yang dijual, nira juga bisa diminum setiap hari sebagai salah satu minuman pokok. Tuturan dari  ibu Rebeka Balu bahwa minum nira yang manis ini, kami bisa menahan rasa lapar sebelum makan nasi disiang hari. Biasanya  mereka meminum nira pada pagi dan sore.  Selain nira yang langsung diminum dan memberi kesegaran serta dapat menahan rasa haus ini, nira yang ada juga dimasak menjadi gula. Gula yang ada dapat diminum dan disimpan  pada musim huajan. Pada musim ini para penyadap berhenti menyadap dan  mencari pekerjaan lain seperti menjual ikan, ojek, dan menjual barang-barang yang lain. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan sampingan dalam menunggu musim kemarau.
Menyadap lontar sebagai mata pencaharian utama dilakukan  sebanyak dua kali dalam setahun pada bulan April-Juni dan Agustus-November, tergantung pada cuaca. Cerita dari para penyadap lontar bahwa  untuk masyarakat Rote yang ada di Dengka, sebelum memulai pekerjaan menyadap lontar dan juga memulai musim tanam, diadakan ritus Hus[8]. Dalam ritus ini  Istilah yang dipakai adalah mengambil Natu[9]  Ritus ini dipimipin oleh mana songgo (imam) dengan tujuan agar hasil dari bekerja mendapatkan berkat yang berlimpah. Sedangkan sesudah musim tanam dan hendak memanen, ritus yang sama juga dilakukan untuk mengucap syukur dengan berkat yang diterima. Bagi masyarakat Rote Dengka yang telah menjadi orang Kristen yang ada di Kupang (Tofa), sebelum memulai pekerjaan menyadap lontar, alat-alat yang dipakai dipersiapkan terlebih dahulu.[10] Ada juga yang masih memakai ritus tertentu, yaitu caranya dengan melantunkan syair pada salah satu pohon damar merah. Bunyi syair tersebut adalah “lulu hau mbilas au ha’i ho abineu tuak, hela onobe’ na tua a oe na lu ono ho boe” yang artinya “damar merah saya mengeluarkan getahmu yang banyak ini, semoga tuak yang saya sadap airnya juga banyak seperti getahmu ini”. Proses untuk mengambil getah damar, yaitu: “gepe” (jepit) dengan gagepe (penjepit) dua kali dipucuk damar yang muda kemudian memanjat pohon tuak”.[11] Salah satu alasan pohon  damar merah dipilih karena getah dari damar ketik dijepit dengan penjepit akan menetes terus-menerus dan banyak. Kemudian proses penyadapan lontar dilakukan. Setelah proses menyadapan lontar selesai, nira yang diperoleh dikelola oleh para istri untuk dijadikan gula air, gula lempeng dan gula semut. Setelah pekerjaan selesai, mereka mengumpulkan semua alat kerja yang dipakai untuk menyadap lontar dan juga memasak nira. Alat-alat yang dipakai termasuk tungku disiram dengan air. Hal ini bertujuan untuk mendinginkan (ne’esufu leta). Hal ini dilakukan karena menurut tuturan mereka, alat kerja itu “panas” dan perlu didinginkan. Jika tidak, maka ada seekor burung besar yang akan melubangi mbao (haik) (anyaman daun lontar yang dipakai untuk menampung nira yang masih di pohon lontar) dan akan menghabiskan nira yang masih di atas pohon lontar.[12]
3.      Analisa
Berdasarkan gambaran di atas maka penulis menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi orang Rote Dengka di jemaat Lahairoi Tofa, dalam menyebut Yesus sebagai Mana Sula Bula/mana fe natu adalah sebagai berikut:
·         Faktor Ekonomi
Pada bagian deskripsi terlihat bahwa mata pencaharian utama masyarakat Rote adalah menyadap pohon lontar. Dari pekerjaan ini para penyadap lontar  mendapat berkat untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kebutuhan-kebutuhan yang membutuhkan biaya  banyakpun dapat dipenuhi dengan pekerjaan ini. Contohnya biaya pendidikan, berobat,  pada waktu sakit, kumpul keluarga dan yang lain. Dalam mendapat pekerjaan ini tidak membutuhkan modal awal seperti usaha-usaha yang lain. Para penyadap lontar hanya memakai keahlian dalam menyadap lontar dan para istri menjual nira dipasar dan dimasak. Mereka pulang dengan  membeli kebutuhan  hari itu (makanan dan kebutuhan rumah tangga yang lain) dan sisanya di simpan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain. Bagi para penyadap lontar pekerjaan ini merupakan suatu anugerah dari Mana sula bula/Mana fe natu dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin sulit. Berkat atau hasil dari pekerjaan menyadap pohon lontar dapat  memenuhi Kebutuhan hidup sehari-hari. Yesus Dikatakan sebagai mana Sula Bula/mana fe natu, karena Yesus telah memberikan berkat yakni pohon lontar untuk dapat dikelola dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
·         Faktor Budaya
Menurut Sejarah, gelar Yesus Sebagai Mana Sula Bula/ mana Fe natu dipengaruhi oleh masuknya Injil ke pulau Rote. Harapan dan tekad dari Foe Mbura untuk mewujudkan rakyat Rote yang masih terbelakang dan belum percaya Allah Tri Tunggal membuatnya bersemangat untuk memberitakan injil dan juga ilmu pengetahuan yang telah ia dapat ketika mengunjungi Batavia. Yang Ilahi yang diimani oleh masyarakat Rote ketika masih beragama suku adalah sama juga dengan Allah dan Yesus Kristus yang disaksikan diberitakan oleh penginjil.[13] Penyebutan mana Sula Bula/mana fe natu terlahir dari tradisi yang sering dilakukan yaitu ritus Hus. Pada ritus ini pemahaman orang Rote bahwa jika mereka pergi mengikuti proses dilakukannya ritus ini mereka pulang akan membawa berkat yang berkelimpahan. Dalam proses ritus tersebut dibagikan nira bagi yang menyadap lontor dan padi bagi yang petani. Kepercayaan mereka bahwa setiap yang mereka kerjakan akan mendapatkan hasil yang melimpah. Istilah yang dipakai adalah mengikuti Hus untuk mengambil natu. Kepercayaan seperti ini menjadi hal yang  nyata dalam kehidupan mereka turun temurun. Apa yang dikerjakan oleh mereka khususnya menyadap lontor akan mendapat nira yang banyak. Nira yang didapatkan itu dijadikan sebagai minuman pokok setiap hari. Nira  juga dimasak menjadi gula untuk diminum pada waktu yang akan datang ketika musim hujan tiba. Selain pengakuan  dan kepercayaan mereka, ada juga cara yang dibuat untuk meminta berkat dari Mana Sula bula yang diakui sebagi pemberi berkat. Cara tersebut adalah melakukan ritus sebelum  kekristenan masuk ke Rote, mereka memohon berkat kepada Mana fe natu dengan cara melakukan songgo yang dipimpin oleh mana songgo. Setelah mereka memperoleh berkat/kelimpahan dalam pekerjaan, songgo juga kembali dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur. Setelah kekristenan masuk, permohonan berkat dan ungkapan syukur dilakukan dengan membawa persembahan berupa uang atau hasil pekerjaan ke gereja.[14]
·         Tema Dominan
Dari pemaparan di atas maka tema dominan yang diangkat adalah mana sula bula/mana fe natu (Pemberi Berkat).
4.      Membuka Teks
Dalam membuka teks, maka perlu menggali apa kata Alkitab tentang pemahaman orang Rote bahwa Yesus sebagai pemberi berkat. Dalam rangka ini, terdapat teks yang menggambarkan Yesus sebagai pemberi berkat dalam Matius 14:13-21.  Teks ini berhubungan dengan tema dominan yaitu Pemberi Berkat yang dikaitkan dengan gelar Yesus sebagai Mana Sula Bula/Mana Fe Natu.

Kitab Matius di tulis oleh Matius pemungut cukai (pegawai pajak). Di Kapernaum, sebuah kota yang terletak antara Siria dan Mesir ada sebuah kantor pajak yang cukup besar. Para pedagang yang lewat dari situ harus membayar dari pajak barang dagangan mereka. Matius atau Lewi adalah salah satu pegawai di kantor itu. Segera setelah ia meninggalkan pekerjaannya karena panggilan Yesus. Ciri utama dari injil Matius ialah ia dipanggil oleh Yesus Kristus untuk memberitakan injil dan yang menjadi tujuan utamanya ialah kepada orang-orang Yahudi. Kitab Matius sangat kental ke-Yahudi-annya.[15] Dalam perjalanan pelayanan Matius bersama Yesus dan murid-murid yang lain, terdapat banyak persoalan dan tantangan yang dihadapi. Diantaranya ialah yang terdapat dalam teks Matius 14:13-21 dengan perikop “Yesus memberi makan lima ribu orang”. Teks ini menggambarkan sosok Yesus sebagai pemberi berkat. Kehadiran-Nya sebagai sang pemberi berkat telah menyelamatkan lima ribu orang yang kekurangan makanan. Berbicara mengenai Yesus sebagai pemberi berkat bukanlah hal yang asing. Karena Perjanjian baru baik secara eksplisit maupun implisit menjelaskan hal tersebut. Berbicara tentang berkat maka berhubungan dengan dua konsep berkat yakni berkat rohani dan jasmani. Yang dimaksud dengan berkat rohani jika dihubungkan dengan peran Yesus sebagai pemberi berkat yakni Firman yang disampaikan Yesus kepada pengikut-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan berkat Rohani adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani, misalnya makanan.
Pelayanan Yesus bersama-sama muridnya ialah pelayanan yang berdasarkan atas kasih, kuasa dan berkat. Karena itulah ketika mereka menghadapi umat yang menderita kelaparan, Yesus berinisiatif untuk menolong dan mengatakan kepada para murid “kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16). Perkataan Yesus ini sepertinya menghentak para rasul karena bagaimana mungkin mereka dapat memberi makan orang sebanyak itu. Disatu sisi perbekalan yang ada tidak cukup dan disisi lain mereka sendiripun belum makan. Bagi para rasul, hal ini sangatlah tidak mungkin. Tetapi bekal yang tersedia adalah lima roti dan dua ikan.[16] Dengan memberikan tanggung jawab itu kepada para murid-Nya, Yesus bermaksud membangkitkan di dalam diri mereka suatu kesadaran bahwa pergaulan dengan diri-Nya mencakup persediaan bagi semua kebutuhan (baik itu kebutuhan jasmani maupun rohani). Berkaitan dengan itu, Yesus mengucapkan berkat sebagai tanda bahwa Dialah sumber berkat
Kemudian Yesus mengambil bekal itu. Mengucap berkat atasnya dan kemudian membagikan kepada orang banyak itu yang duduk berkelompok. 5000 orang laki-laki banyaknya, perempuan dan anak-anak belum terhitung disitu. Mereka makan sampai kenyang dan ketika dikumpulkan potongan-potongan roti itu ada dua belas bakul dan sisa-sisa ikan. Mujizat terjadi!. Hal yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin (Luk 18:27).
Gambaran ini menyatakan bahwa Yesus Kristus sebagai sember berkat tidak hanya mencukupi murid-murid dan orang-orang di sekitarnya dengan berkat rohani yakni firman, ajaran atau khotbah-khotbah dan nasehat-Nya. Lebih dari itu Ia adalah juruselamat umat manusia yang tidak hanya sekedar datang dalam kehidupan manusia, melainkan juga melenyapkan kesengsaraan manusia agar dapat sungguh-sungguh bahagia selamanya.[17] Dalam memahami Yesus sebagai pemberi berkat berkaitan dengan gelar Yesus sebagai Mana Sula Bula/Mana Fe Natu, maka terdapat dua hal yang perhatikan yaitu:
·         Yesus sebagai pemberi berkat Rohani
Perkataan Yesus bahwa “kamu harus memberi mereka makan”, merupakan suatu berkat rohani yang mengingatkan para murid dan semua orang tentang bagaimana kehidupan orang percaya yang seharusnya adalah kehidupan yang bukan hanya untuk diri sendiri tetapi kehidupan yang berpikir dan berbuat untuk orang lain juga. Pendek kata, Paradigma “Untuk Diri Sendiri” harus berubah menjadi paradigma “Untuk Orang Lain” ketika kita menjadi pengikut Tuhan. Yesus mengajak dan membentuk pola pikir para murid bahwa hubungannya dengan Tuhan harus berdampak pada hubungan bersama dengan orang lain. Dengan kata lain, penghayatan hidup sebagai murid Tuhan secara vertical akan terlihat dan tercermin dalam hubungan yang horizontal.
·         Yesus sebagai pemberi berkat Jasmani
Ketika Yesus mengucapkan berkat atas lima roti dan dua ikan, menyatakan bahwa secara langsung telah terjadi mukjizat. Bagi para rasul, bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan dapat mengenyangkan orang yang sangat banyak itu. Disini keraguan dan kebimbangan menjadi dominan menggantikan sikap percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan (Mat 14:17). Padahal ada sekian waktu mereka telah bersama-sama dengan Yesus. Tidak sedikit pengalaman dan peristiwa yang mereka alami dan saksikan bersama Yesus yang seharusnya menjawab keraguan dan kebimbangan itu. Tetapi peristiwa memberi makan lima ribu orang ternyata harus pula disaksikan oleh para rasul dan kepada banyak orang pula bahwa Yesus adalah Tuhan empunya berkat dan kehidupan.
Peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang ini kembali menegaskan dan menguatkan serta menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu memperhatikan umat-Nya.  Yesus memberi berkat jasmani dengan mengenyangkan dan memuaskan tubuh manusia secara fisik. Seperti 5000 orang yang datang menemui Yesus itu, mereka tidak disuruh pulang. Mereka dijamu dan dipuaskan Tuhan. Harapan mereka dijawab, permintaan mereka diberikan Tuhan.

5.      Dialog Teks-Konteks
Berdasarkan pemaparan konteks dan teks diatas, maka dialog antara keduanya  dapat dibangun dengan menggunakan model Antropologi. Model antropologi adalah model yang bertolak dari konteks. Model ini berasumsi bahwa penyataan Allah terwujud dalam kehidupan manusia dan budaya, sehingga perlu adanya upaya untuk mendengarkan konteks dalam mendengarkan Firman Allah. Kelebihan model ini yakni menghargai  konteks dengan sungguh-sungguh yaitu berupaya menemukan konsep Yesus dalam suatu budaya serta menggunakan teks-teks Alkitab untuk memperjelas konsep itu. Kelemahan dari model ini kecenderungan meromantisir budaya.
Dalam konteks budaya Rote  sapaan untuk Yesus lahir dari konsep pemikiran mereka sendiri berdasarkan konteks kehidupan mereka.  Yesus dipahami sebagai Mana Sula Bula/Mana fe Natu, merupakan hasil dari penghayatan  orang Rote terhadap pribadi Yesus Sang pemberi Berkat. Yesus memiliki kesamaan fungsi dengan Mana Sula Bula/Mana fe Natu. Mereka percaya bahwa segala berkat yang dimiliki merupakan karya dari Yesus.
     Dari hal diatas maka, dapat disimpulkan bahwa orang Rote Dengka di jemaat Lahairoi Tofa khususnya rayon 6 memiliki sikap yang menyesuaikan diri dengan kebudayaan mereka. Mereka mencintai Kristus tapi juga mencintai budaya mereka. Jika dibandingkan dengan pemetaan yang dilakukan oleh Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture, maka sikap orang Rote sebagaimana yang telah dijelaskan, termasuk dalam sikap akomodasi (Kristus milik kebudayaan) atau yang memandang keselarasan antara Kristus dan Budaya. Peran serta fungsi Yesus diselaraskan dengan peran dan fungsi Mana Sula bula/ Mana fe Natu.

6.      Aksi
·         Gereja perlu menyadari perannya sebagai pihak yang menjalankan teladan Kristus bagi sesama. Gereja haruslah menyadari bahwa pelayanan yang dilakukan gereja tidak hanya meliputi pelayanan Firman, dan hal-hal sakramen saja, tapi juga berhubungan dengan pelayanan gereja kepada orang yang kelaparan. Karena sangat sukar orang mampu mendengar Firman dengan perut yang kelaparan.
·         Gereja perlu menyadari keterlibatannya dengan konteks kehidupan dari orang Rote  Dengka yang menyadap pohon lontar dan merantau di Kupang, kesadaran akan keterlibatan tersebut meliputi keaktifan gereja dalam membangun refleksi secara baru yang sedalam-dalamnya tentang Yesus menurut orang Rote Dengka. Agar mereka lebih memaknai secara benar konsep-konsep tersebut dalam kehidupan mereka.
·         Di sisi lain gereja perlu menyadarkan mereka akan bahaya sikap meromantisir budaya yaitu mengakui Mana fe natu adalah pemberi berkat yang melimpah tetapi ketika hasil menyadap tidak memuaskan jemaat penyadap lontar bisa saja tidak mengakui kuasa Tuhan  atau dapat menghilangkan makna Yesus Historis dalam kehidupan berjemaat.
·         Gereja perlu membuat liturgi kontekstual  yang meliputi budaya masyarakat Rote Dengka yang di Kupang. Sehingga jemaat sebagai orang Rote yang merantau di Kupang tetap merasa bahwa walaupun di tanah rantau namun, Gereja turut merasakan apa yang dirasakan oleh mereka dan menghargai kebudayaan mereka.


















[1] Tim Penggerak PKK Prov. NTT. Inang Hidup dan Bhaktiku. 1989, hlm. 1.
[2]Andre Soh, Mutiara dari Selatan, Jakarta: Yayasan Kelopak, 2008, hlm. 1.
[3] Dorci Henuk, wawancara, Tofa, 15 mei 2012.
[4] Petrus Henuk, Idem.
[5]Maria Manu-laning, wawancara, Tofa, 01 Juni 2012.
[6] Jerhans Balu, wawancara, Tofa, 4 juli 2012.
[7] Rebeka Balu, wawancara, Tofa, 4 juli 2012.
[8] Hus adalah ritus yang dilakukan kepada  para penyadap lontar dan petani untuk mengambil berkat yang melimpah. 
[9] Natu adalah hasil panen  menyadap dan bertani yang mencapai ratusan tempayan dan ratusan bakul
[10] Abraham Balu, wawancara, Tofa, 16 Mei 2012.
[11] Lukas Balu, wawancara, Tofa, 16 Mei 2012.
[12] Filmon Balu, wawancara, Tofa, 16 mei 2012.
[13] Idem.
[14] Lukas Balu, Idem.
[15] Ebenhaizer Nuban Timo, Empat Buku Tentang Yesus, hlm. 11-12
[16]  J. H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah 2, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2004, hlm. 362-363
[17]  J. Verkuyl, Khotbah Di Bukit, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2002, hlm. 7

No comments:

Post a Comment