Kristologi Menurut Orang Rote Dengka yang berprofesi sebagai Penyadap Lontar Di
Jemaat Lahairoi Tofa Rayon
6-GMIT
1.
Mengenal
Konteks
Rote
adalah pulau paling Selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia.[1] Penyebutan
nama Rote sendiri bervariasi. Ada yang menyebutnya dengan sebutan Rote, Roti/Rottij (dalam bahasa Belanda), dan juga
Lote. Penyebutan yang bervariasi ini disebabkan karena ada Sembilan dialek yang
terdapat di pulau Rote. Namun, sesungguhnya nama asli pulau Rote itu sendiri
adalah lolo neo do tenu hatu (gelap),
nes do male (layu), dan lino do nes (pulau yang tersembunyi dan
tidak berpenghuni). Penyebutan ini agaknya dipengaruhi oleh kondisi alam pulau
Rote yang berbukit-bukit.[2]
Kehidupan
sosial, budaya dan politik masyarakat Rote ditandai dengan hidup berkelompok
menurut stratat sosial.
Terdapat empat stratat, yaitu stratat Henutei
(raja dan keturunannya), leolulu
(fetor/wakil raja), stratat
lailangga
(tuan tanah/orang yang memiliki banyak tanah), dan leolai (rakyat biasa).
Manek Nusak Dengka
|
Maneleo
|
Maneleo
|
Maneleo
|
Maneleo
|
Orang
Rote menganut sistem keturunan patrilineal
(mengikuti garis keturunan ayah). Sistem ini berpengaruh pada kehidupan orang
Rote itu sendiri. Laki-laki menjadi pusat perhatian dalam hidup berkeluarga dan
juga bermasyarakat. Misalnya, yang menjadi kepala/penggerak dari kehidupan
keluarga adalah laki-laki/suami/ayah. Pucuk pimpinan di dalam masyarakat juga
adalah laki-laki. Akan tetapi, semua peran laki-laki itu tidak berfungsi dengan
baik tanpa sokongan dari
perempuan/istri. Dalam hal inilah baik perempuan maupun laki-laki sama-sama
memiliki peranan yang penting dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.[3]
Mana Sula Bula
(Pemberi Berkat)
|
Mana Adu Lai (Pencipta)
|
·
Langit dan bumi
·
Manusia (Hataholi)
|
Bagi orang Rote,
dunia serta segala isinya itu diciptakan oleh mana adu lai. Itulah sebabnya ciptaan mana adu lai seperti pohon-pohon yang besar dipahami sebagai
kebesaran yang ilahi. Sehingga di pohon-pohon yang besar itulah mana songgo mengadakan ritus seperti
ritus untuk meminta hujan dan ritus untuk memohon berkat sebelum musim tanam.
Sebutan mana sula bula/mana fe natu
juga diberikan kepada yang ilahi oleh karena menurut mereka hasil dari
pekerjaan yang berlipat ganda adalah berkat dari yang ilahi. Tanah sebagai
ciptaan dari mana adu lai telah
mereka kelola sehingga mereka mendapat berkat. Oleh karena itu, bagi orang
Rote, tanah adalah ibu yang memelihara kita. Bahasa syair yang terkenal adalah
“ta basa lae minan, lae na’a bali minan” yang
artinya “kita makan dari tanah, kita mati dikuburkan juga di dalam tanah”.[4]
2.
Deskripsi
Jemaat
Lahairoi Tofa adalah jemaat dari Gereja Masehi Injili di Timor-Klasis Kupang
Tengah yang berdiri pada tahun 1981. Jemaat ini terdiri atas 13 Rayon. Dan yang
menjadi perhatian untuk diteliti yakni Rayon 6. Di Rayon 6 terdapat 54 Kepala Keluarga, ada yang
bekerja sebagai pedagang sayuran di pasar, guru dan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dan juga penyadap lontar. Kurang lebih tiga (3) KK adalah orang Rote Dengka
yang merantau ke Kupang untuk mengadu nasib dan bekerja sebagai penyadap lontar.
Para penyadap lontar ini sudah tinggal dan menetap di Kupang kurang lebih 20-an
tahun. Tempat tinggal mereka masih sederhana dilihat dari atap rumah-rumah yang
ada itu dari daun lontar dan berdinding. Tempat tinggal mereka inipun dibangun diatas tanahnya orang atau
tuan tanah. [5]
Pekerjaan
menyadap lontar merupakan pekerjaan yang
tidak membutuhkan modal awal berupa uang. Pekerjaan ini hanya menggunakan
keahlian untuk menyadap dan memperisapkan segala alat untuk digunakan. Sebelum
melakukan penyadapan perlu adanya kesepakatan antara penyadap dan pemilik pohon
lontar atau tuan tanah. Kesepakan yang
dibuat oleh mereka bahwa ada pembagian hasil dari keuntungan menyadap pohon
lontar. Pembagian ini dilakukan sekali setahun dan Istilah yang dipakai adalah nebanggi tua buna (membagi
keuntungan/ hasil dari menyadap lontar). Pembagiann hasil yang sudah
didisepakati bersama untuk tahun ini yaitu
para penyadap memberi uang sebanyak Rp 300.000 kepada tuan tanah atau
pemilik pohon lontar.[6]
Pekerjaan
menyadap dilakukan setiap tahun dengan penghasilan setiap tahun diperkirakan
mendekati Rp 7 juta lebih. Perhitungannya sesuai dengan seberapa banyak ibu-ibu atau nona-nona yang
menjual nira ke pasar. Biasanya paling sedikit 2 wanita yang menjual dari 1
penyadap. Pembagian hasil atau uang dilakukan setiap hari. Untuk satu hari
pembagiannya Rp 5000. Setelah satu minggu uang diserahkan kepada penyadap sebanyak Rp 30.000.
Jika istri dari penyadap pun menjual
nira maka, tidak membagi hasil dengan
penyadap karena penyadap adalah sang suami. Uang yang diperoleh digunakan untuk
memenuhi kebutuahan sehari-hari, menyekolahkan anak-anak dan kebutuhan yang
lain. Dari hasil menyadap ini anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat
SMA dan perguruan tinggi. [7]
Selain
mendapat uang dari nira yang dijual, nira juga bisa diminum setiap hari sebagai
salah satu minuman pokok. Tuturan dari ibu Rebeka Balu bahwa minum nira yang manis
ini, kami bisa menahan rasa lapar sebelum makan nasi disiang hari.
Biasanya mereka meminum nira pada pagi
dan sore. Selain nira yang langsung
diminum dan memberi kesegaran serta dapat menahan rasa haus ini, nira yang ada
juga dimasak menjadi gula. Gula yang ada dapat diminum dan disimpan pada musim huajan. Pada musim ini para
penyadap berhenti menyadap dan mencari
pekerjaan lain seperti menjual ikan, ojek, dan menjual barang-barang yang lain.
Pekerjaan ini merupakan pekerjaan sampingan dalam menunggu musim kemarau.
Menyadap
lontar sebagai mata pencaharian utama dilakukan
sebanyak dua kali dalam setahun pada bulan April-Juni dan
Agustus-November, tergantung pada cuaca. Cerita dari para penyadap lontar bahwa
untuk masyarakat Rote yang ada di
Dengka, sebelum memulai pekerjaan menyadap lontar dan juga memulai musim tanam,
diadakan ritus Hus[8].
Dalam ritus ini Istilah yang dipakai adalah mengambil Natu[9]
Ritus ini dipimipin oleh mana songgo (imam) dengan tujuan agar
hasil dari bekerja mendapatkan berkat yang berlimpah. Sedangkan sesudah musim
tanam dan hendak memanen, ritus yang sama juga dilakukan untuk mengucap syukur
dengan berkat yang diterima. Bagi masyarakat Rote Dengka yang telah menjadi
orang Kristen yang ada di Kupang (Tofa), sebelum memulai pekerjaan menyadap
lontar, alat-alat yang dipakai dipersiapkan terlebih dahulu.[10]
Ada juga yang masih memakai ritus tertentu, yaitu caranya dengan melantunkan
syair pada salah satu pohon damar merah. Bunyi syair tersebut adalah “lulu hau mbilas au ha’i ho abineu tuak, hela
onobe’ na tua a oe na lu ono ho boe” yang artinya “damar merah saya
mengeluarkan getahmu yang banyak ini, semoga tuak yang saya sadap airnya juga banyak
seperti getahmu ini”. Proses untuk mengambil getah damar, yaitu: “gepe” (jepit) dengan gagepe (penjepit) dua kali dipucuk damar
yang muda kemudian memanjat pohon tuak”.[11] Salah satu alasan pohon
damar merah dipilih karena getah dari damar ketik dijepit dengan
penjepit akan menetes terus-menerus dan banyak. Kemudian proses penyadapan
lontar dilakukan. Setelah
proses menyadapan lontar selesai, nira yang
diperoleh dikelola oleh para istri untuk dijadikan gula air, gula lempeng dan
gula semut. Setelah pekerjaan selesai, mereka mengumpulkan semua alat kerja yang dipakai untuk
menyadap lontar dan juga memasak nira.
Alat-alat yang dipakai termasuk tungku disiram dengan air. Hal ini bertujuan
untuk mendinginkan (ne’esufu leta).
Hal ini dilakukan karena menurut tuturan mereka, alat kerja itu “panas” dan
perlu didinginkan. Jika tidak, maka ada seekor burung besar yang akan melubangi
mbao (haik) (anyaman daun lontar yang
dipakai untuk menampung nira yang masih di pohon lontar) dan akan menghabiskan nira yang masih di atas pohon lontar.[12]
3.
Analisa
Berdasarkan
gambaran di atas maka penulis menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
orang Rote Dengka di jemaat Lahairoi Tofa, dalam menyebut Yesus sebagai Mana Sula Bula/mana fe natu adalah
sebagai berikut:
·
Faktor
Ekonomi
Pada
bagian deskripsi terlihat bahwa mata pencaharian utama masyarakat Rote adalah
menyadap pohon lontar. Dari pekerjaan ini para penyadap lontar mendapat berkat untuk memenuhi kebutuhan
mereka sehari-hari. Kebutuhan-kebutuhan yang membutuhkan biaya banyakpun dapat dipenuhi dengan pekerjaan
ini. Contohnya biaya pendidikan, berobat,
pada waktu sakit, kumpul keluarga dan yang lain. Dalam mendapat
pekerjaan ini tidak membutuhkan modal awal seperti usaha-usaha yang lain. Para
penyadap lontar hanya memakai keahlian dalam menyadap lontar dan para istri
menjual nira dipasar dan dimasak. Mereka pulang dengan membeli kebutuhan hari itu (makanan dan kebutuhan rumah tangga
yang lain) dan sisanya di simpan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain. Bagi para
penyadap lontar pekerjaan ini merupakan suatu anugerah dari Mana sula
bula/Mana fe natu dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin sulit.
Berkat atau hasil dari pekerjaan menyadap pohon lontar dapat memenuhi Kebutuhan hidup sehari-hari. Yesus
Dikatakan sebagai mana Sula Bula/mana fe
natu, karena Yesus telah memberikan berkat yakni pohon lontar untuk dapat
dikelola dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
·
Faktor
Budaya
Menurut
Sejarah, gelar Yesus Sebagai Mana Sula
Bula/ mana Fe natu dipengaruhi oleh masuknya Injil ke pulau Rote. Harapan
dan tekad dari Foe Mbura untuk mewujudkan rakyat Rote yang masih terbelakang
dan belum percaya Allah Tri Tunggal membuatnya bersemangat untuk memberitakan
injil dan juga ilmu pengetahuan yang telah ia dapat ketika mengunjungi Batavia.
Yang Ilahi yang diimani oleh masyarakat Rote ketika masih beragama suku adalah
sama juga dengan Allah dan Yesus Kristus yang disaksikan diberitakan oleh
penginjil.[13]
Penyebutan mana Sula Bula/mana fe natu terlahir
dari tradisi yang sering dilakukan yaitu ritus Hus. Pada ritus ini pemahaman
orang Rote bahwa jika mereka pergi mengikuti proses dilakukannya ritus ini
mereka pulang akan membawa berkat yang berkelimpahan. Dalam proses ritus
tersebut dibagikan nira bagi yang menyadap lontor dan padi bagi yang petani.
Kepercayaan mereka bahwa setiap yang mereka kerjakan akan mendapatkan hasil
yang melimpah. Istilah yang dipakai adalah mengikuti Hus untuk mengambil natu. Kepercayaan seperti ini menjadi
hal yang nyata dalam kehidupan mereka
turun temurun. Apa yang dikerjakan oleh mereka khususnya menyadap lontor akan
mendapat nira yang banyak. Nira yang didapatkan itu dijadikan sebagai minuman
pokok setiap hari. Nira juga dimasak
menjadi gula untuk diminum pada waktu yang akan datang ketika musim hujan tiba.
Selain pengakuan dan kepercayaan mereka,
ada juga cara yang dibuat untuk meminta berkat dari Mana Sula bula yang diakui sebagi pemberi berkat.
Cara tersebut adalah melakukan ritus sebelum
kekristenan masuk ke Rote, mereka memohon berkat kepada Mana fe natu dengan cara melakukan songgo yang dipimpin oleh mana songgo. Setelah mereka memperoleh
berkat/kelimpahan dalam pekerjaan, songgo
juga kembali dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur. Setelah kekristenan
masuk, permohonan berkat dan ungkapan syukur dilakukan dengan membawa persembahan
berupa uang atau hasil pekerjaan ke gereja.[14]
·
Tema
Dominan
Dari pemaparan di atas
maka tema dominan yang diangkat adalah mana
sula bula/mana fe natu (Pemberi Berkat).
4. Membuka Teks
Dalam
membuka teks, maka perlu menggali apa kata Alkitab tentang pemahaman orang Rote
bahwa Yesus sebagai pemberi berkat. Dalam rangka ini, terdapat teks yang menggambarkan
Yesus sebagai pemberi berkat dalam Matius 14:13-21. Teks ini berhubungan dengan tema dominan yaitu
Pemberi Berkat yang dikaitkan dengan gelar Yesus sebagai Mana Sula Bula/Mana Fe Natu.
Kitab Matius di
tulis oleh Matius pemungut cukai (pegawai pajak). Di Kapernaum, sebuah kota
yang terletak antara Siria dan Mesir ada sebuah kantor pajak yang cukup besar.
Para pedagang yang lewat dari situ harus membayar dari pajak barang dagangan
mereka. Matius atau Lewi adalah salah satu pegawai di kantor itu. Segera
setelah ia meninggalkan pekerjaannya karena panggilan Yesus. Ciri utama dari
injil Matius ialah ia dipanggil oleh Yesus Kristus untuk memberitakan injil dan
yang menjadi tujuan utamanya ialah kepada orang-orang Yahudi. Kitab Matius
sangat kental ke-Yahudi-annya.[15]
Dalam perjalanan pelayanan Matius bersama Yesus dan murid-murid yang lain, terdapat
banyak persoalan dan tantangan yang dihadapi. Diantaranya ialah yang terdapat
dalam teks Matius 14:13-21 dengan perikop “Yesus memberi makan lima ribu
orang”. Teks ini menggambarkan sosok Yesus sebagai pemberi berkat.
Kehadiran-Nya sebagai sang pemberi berkat telah menyelamatkan lima ribu orang
yang kekurangan makanan. Berbicara mengenai Yesus sebagai pemberi berkat
bukanlah hal yang asing. Karena Perjanjian baru baik secara eksplisit maupun implisit
menjelaskan hal tersebut. Berbicara tentang berkat maka berhubungan dengan dua
konsep berkat yakni berkat rohani dan jasmani. Yang dimaksud dengan berkat
rohani jika dihubungkan dengan peran Yesus sebagai pemberi berkat yakni Firman
yang disampaikan Yesus kepada pengikut-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan
berkat Rohani adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani,
misalnya makanan.
Pelayanan Yesus bersama-sama muridnya ialah
pelayanan yang berdasarkan atas kasih, kuasa dan berkat. Karena itulah ketika
mereka menghadapi umat yang menderita kelaparan, Yesus berinisiatif untuk
menolong dan mengatakan kepada para murid “kamu harus memberi mereka makan”
(Mat 14:16). Perkataan
Yesus ini sepertinya menghentak para rasul karena bagaimana mungkin mereka
dapat memberi makan orang sebanyak itu. Disatu sisi perbekalan yang ada tidak
cukup dan disisi lain mereka sendiripun belum makan. Bagi para rasul, hal ini
sangatlah tidak mungkin. Tetapi bekal yang tersedia adalah lima roti dan dua
ikan.[16]
Dengan
memberikan tanggung jawab itu kepada para murid-Nya, Yesus bermaksud
membangkitkan di dalam diri mereka suatu kesadaran bahwa pergaulan dengan
diri-Nya mencakup persediaan bagi semua kebutuhan (baik itu kebutuhan jasmani
maupun rohani). Berkaitan dengan itu, Yesus mengucapkan berkat sebagai tanda
bahwa Dialah sumber berkat
Kemudian Yesus mengambil bekal itu.
Mengucap berkat atasnya dan kemudian membagikan kepada orang banyak itu yang
duduk berkelompok. 5000 orang laki-laki banyaknya, perempuan dan anak-anak
belum terhitung disitu. Mereka makan sampai kenyang dan ketika dikumpulkan
potongan-potongan roti itu ada dua belas bakul dan sisa-sisa ikan. Mujizat
terjadi!. Hal yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Allah tidak ada yang tidak
mungkin (Luk 18:27).
Gambaran
ini menyatakan bahwa Yesus Kristus sebagai sember berkat tidak hanya mencukupi
murid-murid dan orang-orang di sekitarnya dengan berkat rohani yakni firman,
ajaran atau khotbah-khotbah dan nasehat-Nya. Lebih dari itu Ia adalah
juruselamat umat manusia yang tidak hanya sekedar datang dalam kehidupan
manusia, melainkan juga melenyapkan kesengsaraan manusia agar dapat
sungguh-sungguh bahagia selamanya.[17]
Dalam memahami Yesus sebagai pemberi berkat berkaitan dengan gelar Yesus
sebagai Mana Sula Bula/Mana Fe Natu,
maka terdapat dua hal yang perhatikan yaitu:
·
Yesus sebagai pemberi berkat Rohani
Perkataan Yesus bahwa “kamu
harus memberi mereka makan”,
merupakan suatu berkat rohani yang mengingatkan para murid dan semua orang
tentang bagaimana kehidupan orang percaya yang seharusnya adalah kehidupan yang bukan hanya untuk
diri sendiri tetapi kehidupan yang berpikir dan berbuat untuk orang lain juga.
Pendek kata, Paradigma “Untuk Diri Sendiri” harus berubah menjadi paradigma
“Untuk Orang Lain” ketika kita menjadi pengikut Tuhan. Yesus mengajak dan
membentuk pola pikir para murid bahwa hubungannya dengan Tuhan harus berdampak
pada hubungan bersama dengan orang lain. Dengan kata lain, penghayatan hidup sebagai murid Tuhan secara
vertical akan terlihat dan tercermin dalam hubungan yang horizontal.
·
Yesus sebagai pemberi berkat Jasmani
Ketika
Yesus mengucapkan berkat atas lima roti dan dua ikan, menyatakan bahwa secara
langsung telah terjadi mukjizat. Bagi para rasul, bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan
dapat mengenyangkan orang yang sangat banyak itu. Disini keraguan dan
kebimbangan menjadi dominan menggantikan sikap percaya kepada Yesus yang adalah
Tuhan (Mat 14:17). Padahal ada sekian waktu mereka telah bersama-sama dengan
Yesus. Tidak sedikit pengalaman dan peristiwa yang mereka alami dan saksikan
bersama Yesus yang seharusnya menjawab keraguan dan kebimbangan itu. Tetapi
peristiwa memberi makan lima ribu orang ternyata harus pula disaksikan oleh
para rasul dan kepada banyak orang pula bahwa Yesus adalah Tuhan empunya berkat
dan kehidupan.
Peristiwa Yesus memberi makan lima
ribu orang ini kembali menegaskan dan menguatkan serta menyadarkan kita bahwa
Tuhan selalu memperhatikan umat-Nya. Yesus
memberi berkat jasmani dengan mengenyangkan dan memuaskan tubuh manusia secara
fisik. Seperti 5000 orang yang datang menemui Yesus itu, mereka tidak disuruh
pulang. Mereka dijamu dan dipuaskan Tuhan. Harapan mereka dijawab, permintaan
mereka diberikan Tuhan.
5.
Dialog
Teks-Konteks
Berdasarkan pemaparan konteks dan teks diatas, maka
dialog antara keduanya dapat dibangun
dengan menggunakan model Antropologi. Model antropologi adalah model yang
bertolak dari konteks. Model ini berasumsi bahwa penyataan Allah terwujud dalam
kehidupan manusia dan budaya, sehingga perlu adanya upaya untuk mendengarkan konteks dalam
mendengarkan Firman Allah. Kelebihan model ini yakni menghargai konteks dengan sungguh-sungguh yaitu berupaya
menemukan konsep Yesus dalam suatu budaya serta menggunakan teks-teks Alkitab
untuk memperjelas konsep itu. Kelemahan dari model ini kecenderungan
meromantisir budaya.
Dalam konteks budaya Rote
sapaan untuk Yesus lahir dari konsep pemikiran mereka
sendiri berdasarkan konteks kehidupan mereka.
Yesus dipahami sebagai Mana Sula Bula/Mana fe Natu, merupakan hasil dari
penghayatan orang Rote terhadap pribadi
Yesus Sang pemberi Berkat. Yesus memiliki kesamaan fungsi dengan Mana Sula Bula/Mana fe Natu. Mereka
percaya bahwa segala berkat yang dimiliki merupakan karya dari Yesus.
Dari hal diatas maka,
dapat disimpulkan bahwa orang Rote Dengka di jemaat Lahairoi Tofa khususnya
rayon 6 memiliki sikap yang menyesuaikan diri dengan kebudayaan mereka. Mereka
mencintai Kristus tapi juga mencintai budaya mereka. Jika dibandingkan dengan
pemetaan yang dilakukan oleh Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture, maka
sikap orang Rote sebagaimana yang telah dijelaskan, termasuk dalam sikap
akomodasi (Kristus milik kebudayaan) atau yang memandang keselarasan antara
Kristus dan Budaya. Peran serta fungsi Yesus diselaraskan dengan peran dan
fungsi Mana Sula bula/ Mana fe Natu.
6.
Aksi
·
Gereja perlu menyadari perannya sebagai
pihak yang menjalankan teladan Kristus bagi sesama. Gereja haruslah menyadari
bahwa pelayanan yang dilakukan gereja tidak hanya meliputi pelayanan Firman,
dan hal-hal sakramen saja, tapi juga berhubungan dengan pelayanan gereja kepada
orang yang kelaparan. Karena sangat sukar orang mampu mendengar Firman dengan
perut yang kelaparan.
·
Gereja perlu menyadari keterlibatannya
dengan konteks kehidupan dari orang Rote
Dengka yang menyadap pohon lontar dan merantau di Kupang, kesadaran akan
keterlibatan tersebut meliputi keaktifan gereja dalam membangun refleksi secara
baru yang sedalam-dalamnya tentang Yesus menurut orang Rote Dengka. Agar mereka
lebih memaknai secara benar konsep-konsep tersebut dalam kehidupan mereka.
·
Di sisi lain gereja perlu menyadarkan
mereka akan bahaya sikap meromantisir budaya yaitu mengakui Mana fe natu adalah pemberi berkat yang
melimpah tetapi ketika hasil menyadap tidak memuaskan jemaat penyadap lontar
bisa saja tidak mengakui kuasa Tuhan
atau dapat menghilangkan makna Yesus Historis dalam kehidupan berjemaat.
·
Gereja perlu membuat liturgi
kontekstual yang meliputi budaya
masyarakat Rote Dengka yang di Kupang. Sehingga jemaat sebagai orang Rote yang
merantau di Kupang tetap merasa bahwa walaupun di tanah rantau namun, Gereja
turut merasakan apa yang dirasakan oleh mereka dan menghargai kebudayaan
mereka.
[1] Tim Penggerak PKK Prov. NTT. Inang Hidup dan Bhaktiku. 1989, hlm. 1.
[2]Andre Soh, Mutiara dari Selatan, Jakarta: Yayasan Kelopak, 2008, hlm. 1.
[3] Dorci Henuk, wawancara, Tofa, 15 mei 2012.
[4] Petrus Henuk, Idem.
[5]Maria Manu-laning, wawancara, Tofa, 01 Juni 2012.
[6] Jerhans Balu, wawancara, Tofa, 4 juli 2012.
[7] Rebeka Balu, wawancara, Tofa, 4 juli 2012.
[8] Hus adalah ritus yang dilakukan kepada
para penyadap lontar dan petani untuk mengambil berkat yang
melimpah.
[9] Natu adalah hasil
panen menyadap dan bertani yang mencapai
ratusan tempayan dan ratusan bakul
[10] Abraham Balu, wawancara, Tofa, 16 Mei 2012.
[11] Lukas Balu, wawancara, Tofa, 16 Mei 2012.
[12] Filmon Balu, wawancara, Tofa, 16 mei 2012.
[13] Idem.
[14] Lukas Balu, Idem.
[15]
Ebenhaizer Nuban Timo, Empat Buku Tentang
Yesus, hlm. 11-12
[16] J. H. Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah 2, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2004, hlm.
362-363
[17] J. Verkuyl, Khotbah Di Bukit, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2002, hlm. 7

No comments:
Post a Comment